Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Oleh: Debby Gontha
(Pengusaha dan Penikmat Sastra)
Begitu banyak kisah yang telah terjadi di dalam waktu. Kita menjalani hari-hari dalam waktu. Seringkali kita juga diburu oleh...
Oleh: Dr. Sabariamsyah, S.Pd, M. Hum
(Praktisi Pendidikan di Jepang)
Berbagai peristiwa penting atau berkesan dalam kehidupan, menjadikan setiap orang akan selalu berbeda cara dalam...
“Muurand togloom, hulgand ukhel- Lelucon sang kucing adalah kematian si tikus…”
Adalah kalimat pertama yang membuka novel The Road to The Empire karya Sinta Yudisia. Mengambil setting kekaisaran Mongolia paska Jenghiz Khan, novel ini menceritakan perebutan kekuasaan antar saudara, Takudar Muhammad Khan sang pangeran pertama dengan Arghun Khan sang pangeran kedua.
Anda akan terkaget-kaget membaca prolog pada bab pertama yang memaparkan latar belakang terjadinya perebutan kekuasaan antara Takudar dan Arghun. Kaisar Tuqluk Timur Khan melakukan perjanjian anda dengan Syaikh Jamaluddin untuk menegakkan islam di tanah Mongolia. Namun karena konspirasi di dalam istana, Kaisar Tuqluk Timur Khan mati terbunuh. Takudar melarikan diri sehingga Argun sang pangeran kedua yang naik tahta.
Prolog memang ditulis tergesa-gesa sehingga untuk sesaat pembaca akan didera kebingungan luar biasa. Apa sebenarnya yang diceritakan? Hal ini diperparah dengan pengenalan tokoh-tokoh yang mengahabiskan puluhan lembar karena kompleksitas cerita dalam novel ini. Bibi Yan Che dan Tumen yang hanya lewat sekilas, kerabat-kerabat selir Han Shiang di istana Chinggis yang ternyata tak diceritakan lagi, dan beberapa tokoh lain yang “apakah mereka penting?” cukup menyesaki bab-bab awal yang panjang.
Namun dengan sedikit kesabaran, anda akan mulai menikmati jalan cerita ketika satu persatu tokoh saling terjalin dalam cerita peperangan dan cinta. Takudar Khan menjadi mualaf dan dengan bantuan Rasyiduddin menggalang kekuatan muslim untuk kembali merebut tahta. Argun Khan berubah menjadi kaisar Mongolia yang lalim dibawah pengaruh Jendral Albuqa Khan yang haus darah. Belum lagi cerita tentang Buzun, pangeran ketiga, yang enggan memihak kedua kakaknya yang saling berebut kekuasaan.
Membaca novel ini mengingatkan kita akan karya-karya Leo Tolstoy yang mengandalkan kekuatan konflik psikologis pada setiap tokoh yang diceritakannya. Takudar yang meragu dalam melawan pangeran kedua, Argun Sang Kaisar yang serakah dan haus darah, dan Buzun yang bimbang tak memihak. Belum lagi konflik psikologis yang dialami Urghana yang terjebak antara cinta dan kedigjayaan keluarga, Bayduna yang didikte namun menginginkan kebebasan, serta Almamuchi dan Karadiza yang terseok-seok antara perang dan cinta.
Sinta Yudisia tidak main-main dengan novel ini. Riset mendalam mengenai seluk beluk Mongolia terasa kental ketika menikmati setiap lembar kisahnya. Keceriaan pesta nadaam, dengan alunan moriin khuur dan khulsan khuur disertai nyanyian-nyanyian magtal dan jangar seolah tertangkap indra pendengaran kita. Kegagahan pakaian khas Mongolia dengan shanaavch, terleg del, toortsong, boitog, dan hooves hingga keanggunan wanita-wanita Mongolia dalam balutan khonvontei del, tolgoin, buguivch, dan hatan suih sangat mempesona mata. Sungguh terasa dekat, Sinta membuat seolah-olah Mongolia adalah rumah kita.
Epik perang tidak serta merta ditulis secara seronok atau terlampau kejam. Sinta pandai memilih kata yang cenderung puitis dengan syair-syair lagu Mongolia, petikan Kitab Rahasia Sejarah, serta puisi-puisi pilihan Muhammad Iqbal disetiap pergantian bab yang memukau. Kandungan ajaran islam pun tidak terasa mendikte, bahkan lebih menonjolkan multikulturalisme dalam pergolakan perang saudara bangsa Mongolia ini.
Dalam rangkaian ceritanya yang mahadasyat, The Road to the Empire memiliki cacat dalam pembabakan waktu. Hanya disingung sekali saja bahwa waktu kejadian adalah pada abad 8 hijriyah, padahal novel ini memiliki rentang waktu yang panjang dari mulai masa keemasan Kaisar Tuqluk Timur Khan hingga akhir cerita. Belum lagi gaya bercerita yang melompat dari satu tokoh ke tokoh lain agak membingungkan bila urusan waktu kurang ditekankan.
Deskripsi wilayah Mongolia memang digambarkan secara indah dan mendetail, namun ketiadaan alat bantu seperti sketsa peta daratan Mongolia sedikit menyulitkan pembaca. Dimanakah persisnya letak Ulan Bataar? Seberapa luaskan wilayah Ulan Gom, Wulumuqi, atau Khotar? Bagaimana dengan posisi Gurun Gobi, Pegunungan Kun Lun, Danau Bosten, atau Cekungan Turpan? Sungguh keberadaan peta dalam cetakan selanjutnya akan banyak membantu mengurangi “beban” pembaca.
Terlepas dari kekurangannya, novel The Road to The Empire sangat layak untuk dibaca dan diapresiasi. Sinta Yudisia bagai menyambar kesadaran pecinta sastra dalam negeri yang haus akan karya-karya berkualitas. Novel yang disebut-sebut filmis ini, saya pikir akan segera dibuatkan filmnya. Jadi, segeralah mencari bukunya sebelum anda ketinggalan satu kisah mahadasyat tahun ini, The Road to The Empire.