Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Oleh: Debby Gontha
(Pengusaha dan Penikmat Sastra)
Begitu banyak kisah yang telah terjadi di dalam waktu. Kita menjalani hari-hari dalam waktu. Seringkali kita juga diburu oleh...
Oleh: Dr. Sabariamsyah, S.Pd, M. Hum
(Praktisi Pendidikan di Jepang)
Berbagai peristiwa penting atau berkesan dalam kehidupan, menjadikan setiap orang akan selalu berbeda cara dalam...
Mendengar kata misteri, yang terlintas adalah hal-hal berbau seram dan mencekam. Apa yang tersimpan dalam sebuah lemari terkunci? Tentu saja bukan mainan yang rusak, surat mengandung rahasia, atau mayat yang dimutilasi. Setelah berhasil memecahkan teka-teki dalam Sandal Jepit Dua Warna, insting detektif Arif dan Dika tergugah mengetahui pencurian emas seberat satu kilogram di sebuah toko. Kecurigaan mulai terarah pada beberapa orang, namun masih harus dibuktikan.
Tema yang diangkat Iwok Abqary relatif mudah diserap pembaca anak-anak. Dalam spektrum misteri bernuansa detektif, kasus pencurian adalah yang paling ‘aman’ dalam arti tidak mengandung banyak kekerasan dibandingkan pembunuhan dan perampokan. Kasus tidak dipecahkan dengan terlalu gampang, tetapi tanda-tanda ke arah tersangka pelaku dapat ditangkap apabila pembaca jeli menyimak. Agar mereka tidak bekerja ‘keras’ mengungkap misteri ini, penulis menyisipkan permainan sulap beserta trik-trik simpel yang menarik. Gaya tuturnya seperti mengobrol, sehingga pembaca merasa ‘dekat’ dengan penulisnya.
Tidak mengherankan apabila novel ini memecahkan rekor buku anak-anak di DAR! Mizan (menurut keterangan pihak penerbit di blog penulisnya) sebab dari gagasan yang terbilang ringan, berkembang cerita yang cukup memikat. Satu kekurangannya, frasa pencurian toko emas baik pada judul maupun isi bab. Ini mengesankan bahwa toko emas adalah sejenis barang yang dapat ditenteng atau dimasukkan ke dalam saku, walau hanya luput kata ‘di’. Lain dengan ilustrasi kulit muka, bagian dalam tidak membedakan Arif dan Dika yang digambarkan lebih gemuk sehingga tidak sinkron dengan cerita. Meskipun demikian, Misteri Lemari Terkunci memancarkan kembali ciri khas penulis yaitu struktur yang rapi dan teliti.