Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Buku ini dilatarbelakangi oleh gambaran problematika moneter & perbankan di negara Amerika Serikat, walau runtutannya disampaikan secara singkat namun terasa utuh untuk memahami betapa bahayanya...
Oleh : Muhammad Dullah Rivani
(Pemerhati Sastra dan Agama, bermukim di Doha, Qatar)
Puisi-puisi karya Leonowens SP, merupakan karya yang dibuat dengan kepekaan tinggi terhadap...
Kaver: 8 Ilustrasi yang disajikan di sampul depan mencuatkan nuansa yang sangat akrab dengan AIDS sebagai tema besar novel ini. Warna kuning bersemburat kecoklatan bagaikan temaram senja mengisyaratkan betapa AIDS adalah penyakit ganas yang menghantarkan manusia begitu dekat pada kematian (senja sebagai simbol sisa umur yang tak panjang). Sebagai perangkat pemasaran, kaver seperti ini membuat kehadiran Dengan Hati menyolok secara positif di jajaran metropop yang dipajang di rak toko-toko buku.
Cerita: 8 Kebanyakan novel bergenre metropop mengangkat persoalan masyarakat kota besar yang disepuh kisah cinta dan pencarian jati diri dalam warna-warni ceria kehidupan. Dengan Hati menawarkan fenomena yang mungkin terlupakan dalam keseharian kita. Berbekal pengalaman pribadinya berkecimpung di organisasi penanganan isu AIDS, Syafrina Siregar melimpahkan bermacam pengetahuan yang sangat perlu mengenai penyakit mematikan tersebut dengan bahasa yang tidak membuat pembaca berkerut kening. Gaya bertutur cenderung cair menjadikan informasi di dalamnya mudah diserap oleh berbagai kalangan dan usia. Percintaan hanya spektrum minor dalam perjalanan karakter sentral Dengan Hati sehingga tidak mengusik menu utama yang disuguhkan Syafrina.
Karakter: 8 Mila, karakter utama novel ini, digambarkan amat manusiawi berikut kelemahan-kelemahannya. Meskipun cerdas dan berpendidikan tinggi, ia tak lantas mampu memperlakukan para ODHA tanpa diskriminasi. Mila masih dilanda dilema dan prasangka kendati sebagai putri seorang dokter, semestinya ia memahami banyak hal seputar AIDS dan penularannya. Poin khusus saya berikan pada sudut pandang Mila terhadap karir, yang awalnya hanya menganggap pekerjaannya sebagai mata pencaharian dan bukan memperkaya batin dengan pengalaman. Dengan kata lain, Mila mewakili potret masyarakat Indonesia pada umumnya beserta mitos-mitos keliru yang kita sandang. Dari satu karakter saja, Syafrina memperlihatkan kapasitasnya untuk mengolah aneka konflik dan menjaga relevansi dengan tema yang diusung novel ini.
Setting: 8 Menempatkan cerita bergulir bukan di kota Jakarta memberi Syafrina kesempatan untuk memperkenalkan Medan serta masyarakatnya kepada pembaca walau tak menonjol benar. Sebuah pilihan yang unik dan berani.