Cuci-cuci....Bersih-bersih....!! Yuk Pilih buku mana saja yang kamu suka, dan dapatkan discount special UP TO 40%. Psstt...bisa buat teman ngabuburit juga loh dalam rangka menyambut Ramadhan kali ini.
Bekerjasama dengan Penerbit KOMPAS, mengedepankan buku-buku bertemakan nasionalisme. Mari kita gali lagi pengetahuan tentang INDONESIA!! Supaya kita lebih...CINTA INDONESIA. MERDEKA!
TUAN LEONOWENS SP DI ANTARA MAESTRO SASTRA DUNIA
Penulis: Inge Putri Darmawansyah
Sungguh saya tidak habis berpikir kepada kedahsyatan tulisan sastrawan dunia Leonowens...
Buku ini menjelaskan dasar-dasar pemrograman flex yang merupakan sebuah era baru teknologi internet yang kaya dan interaktif. Pembahasan buku ini meliputi pengenalan pemrograman flex beserta contoh...
Kisah Maulana M. Syuhada dan kelompok angklung SMA 3 Bandung atau yang lebih dikenal dengan KPA 3 selama 40 hari di Eropa. Maulana M. Syuhada, adalah seorang siswa lulusan SMAN 3 Bandung dan Teknik Industri ITB. Kini, ia melanjutkan pendidikannya di Technische Universitaet Hamburg. Buku 40 Days In Europe ini merupakan buku non-fiksi, yaitu salah satu pengalaman dalam kehidupan sang pengarang. Sekilas, jika dilihat dari judul, kita mungkin mengiranya sebagai buku berjenis fiksi dan bercerita tentang petualangan dan fantasi. Namun, dugaan tersebut tidak sepenuhnya benar. Buku ini memang bercerita tentang petualangan, tetapi bukan petualangan di dunia fantasi, melainkan petualangan dalam hidup yang benar benar terjadi.
Perjalanan mereka berawal dari sebuah sms pendek yang diterima oleh Maulana, juga dedengkot KPA 3, yang saat itu sedang melanjutkan studi master di Hamburg, Jerman. Pesan singkat tersebut berbunyi “Ul, tolong tanya Pak Winanto apa dia bisa mengusahakan harga tiket pesawat Garuda murah Jakarta-Frankfurt PP untuk Agustus!“.Rencana awalnya adalah KPA 3 bermain angklung di St. Petersburg melalui rangkaian perjalanan ESA Jilid 2 (Expand the Sound of Angklung) pada tahun 2004, menyusul kesuksesan ESA 1 sebelumnya. Rencana mengunjungi St. Petersburg kemudian batal. Tapi bukan berarti rencana ESA Jilid 2 batal pula, yang terjadi malah rencana berkembang menjadi menjelajahi Eropa dengan dua festival ternama sebagai tujuan utamanya: Aberdeen di Skotlandia dan Zakopane di Polandia.
Namun tak lama kemudian, rencana mulia untuk memperkenalkan angklung ke seantero Eropa mengalami kendala pertamanya. Apalagi yang menjadi hambatan klasik bagi negara dunia ketiga kalau bukan soal dana, uang. Akan tetapi, kecintaan mereka terhadap angklung terlebih demi terkumandangnya “Indonesia Raya” di sudut-sudut Eropa membuat jejaka dan mojang Bandung ini pantang menyerah!
Walaupun didera berbagai bencana keuangan dan bahkan terancam batal berangkat, mereka tetap berjuang untuk mewujudkan rencana awal yaitu pentas di berbagai konser dan festival di beberapa negara Eropa. Dengan dana yang super cekak dan tidak realistis, kurang dari 400 juta rupiah selama 40 hari untuk 36 orang, akhirnya mereka pun berhasil mendarat di Frankfurt, Jerman.
Tiada yang tidak mungkin di dunia ini, kesulitan apapun jika kita bekerja keras dan berdoa, segalanya menjadi mungkin. Inilah yang dibuktikan oleh anak-anak KPA 3. Meskipun dana masih mengawang-awang di langit ke tujuh, the show must go on! Maka dimulailah mission impossible ini mulai dari Jerman, Prancis, sampai melewati Selat Inggris menuju Skotlandia. Dana untuk melanjutkan perjalanan didapatkan mulai dari “mengemis” bantuan di setiap KBRI yang mereka kunjungi, menjual CD souvenir konser-konser mereka, sampai berhemat. Kurangnya dana tidak membuat musisi-musisi muda ini patah arang. Mereka bahkan berhasil membuat Eropa kagum dan terkesima dengan suara alat musik bambu ini, sehingga mendapat penghargaan di beberapa festival. Petualangan menakjubkan selama enam minggu ini pun berakhir sempurna.