Pencarian Mahir
 
 » Kategori  » Porcupine: Menjadi Kakak  » Resensi  » Repotnya Menjadi Kakak
Resensi Terbaru
Legenda Valkyria
28 Aug 2014 | Oleh Dewi P.
Welkin Gunther tidak menyangka kampung halamannya akan luluh lantak demikian cepat ketika hendak...
Ada Surga di Rumahmu - Review
27 Aug 2014 | Oleh Evi Widiarti
Cita-citamu tinggi. Mungkin sekarang kau belum menyadarinya. Tapi, suatu saat kau pasti tahu....
Porcupine: Menjadi Kakak
Buku : Porcupine: Menjadi Kakak
Oleh :
ISBN : 9789792241648
Rilis : 2008
Halaman : 248
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Bahasa : Indonesia
Oleh:
08 May 2013


Repotnya Menjadi Kakak

Buku ini mengisahkan tentang perubahan hidup Jacqueline atau yang biasa dipanggil Jack yang terjadi begitu cepat sejak ayahnya meninggal ketika ditugaskan di Afghanistan. Alih-alih berduka, ia malah harus menggantikan posisi ibunya yang mengalami depresi. Mengurus dua adiknya, Tessa dan Simon, serta berjuang agar mereka tetap mampu menyongsong kehidupan.

Jack bisa disebut gadis yang tomboi. Sejak kecil ia sangat dekat dengan ayahnya, sehingga ia sangat berduka ketika si pengantar pesan tersebut menyampaikan kabar buruk tersebut.

Ibunya yang tidak mampu menerima kenyataan, tenggelam dalam kesedihannya. Ia hanya meratap dalam kamar, sementara satu-persatu perabotan disita, hingga mereka terpaksa meninggalkan rumah dan pindah sekolah karena sudah tidak ada lagi yang bisa dijual. Mereka menuju rumah nenek ibunya yang memiliki pertanian luas. Namun, di sana mereka tidak menerima sambutan hangat melainkan luapan kekesalan nenek buyutnya terhadap ibunya yang pada masa sebelumnya kawin lari dan meninggalkan rumah tanpa pesan.

Dan yang lebih mengesalkan, kelakuan minusnya ibunya kembali berulang. Ia kabur meninggalkan tiga anaknya di tangan nenek yang sudah renta. Ketiga anak kota itupun harus bersusah payah beradaptasi dengan lingkungan pertanian yang keras. Jack pun harus bersikap lebih bijak dalam menjaga dua adiknya serta mencoba bersahabat dengan nenek buyutnya yang keras.

Membaca buku ini, tidak terasa mata saya berkaca-kaca. Meg Tilly sangat pandai memainkan emosi pembaca tanpa berkesan cengeng. Perubahan sikap Jack memang tidak drastis, namun melihat karakternya yang keras berangsur-angsur menjadi hangat terhadap neneknya yang sudah renta sangatlah manis. Begitu pula dengan karakter Simon yang menggemaskan dan perjumpaannya dengan seekor porcupine alias landak yang memberikan warna pada kisah mereka. Buku yang layak dikoleksi oleh para remaja dan mereka yang mencintai kisah-kisah keluarga.



Mudah Beli Pulsa