Pencarian Mahir
 
 » Kategori  » Novel Fiksi & Cerpen  » 5 cm  » Resensi  » 5 cm
Resensi Terbaru
Melati dalam Kegelapan
26 Nov 2014 | Oleh Evi Widiarti
Melati dalam Kegelapan adalah sebuah novel thriller bernuansa mistis yang mengisahkan seorang...
Cinta Putih di Bumi Papua
26 Nov 2014 | Oleh Evi Widiarti
Bukankah akan baik jika semua orang di dunia ini menjadi pecinta? Sebab pecinta biasanya...
5 cm
Buku : 5 cm
Oleh :
ISBN : 9797591514, 50105247
Rilis : 2005
Penerbit : Grasindo
Bahasa : Indonesia
Oleh:
17 Jun 2009


5 cm

Kamu dulu pernah bilang sebenarnya mudah untuk menjadi seorang insinyur yang baik, sarjana yang baik, arsitek yang baik, dan menteri yang baik, tapi susah sekali menjadi orang yang baik...

(halaman 320)

Perjalanan 5 cm yang menahun

Sudah lama saya mendengar perihal buku ini, meskipun tidak sampai terperinci bahwa karya Donny Dhirgantoro telah mencapai cetakan kesekian belas. Sering saya melihatnya di toko buku, di halaman majalah, di Internet..tak terhitung lagi. Tetapi saya baru sampai di tahap 'Covernya bagus, hitam, gue banget. Buku apaan ya?' tanpa mencari tahu lebih banyak di blackle [temannya google]. Lalu dua hari ke belakang, seorang keponakan mengulurkan novel ini sambil berkata mantap, "Temen-temenku bilang bagus. Aku sendiri belum sempat baca."

Karakter

Ada Arial, yang mengingatkan saya pada komputer tercinta. Sosok mirip artis sinetron secara fisik, menurut Mas Gembul seorang pengemudi angkutan umum. Ada Genta, sang pemimpin yang selalu melontarkan pendapat brilian meski memendam cinta dan masih berpikir panjang untuk mengutarakan isi hatinya. Ada Riani, kembang satu-satunya. Zafran, si penyair yang kurus. Ian, penggemar VCD biru-membiru yang kerap diledek sebagai banana boat oleh sobat-sobatnya. Mereka berkawan karib sejak SMA dan kini tengah menapaki usia perempat abad (berdasarkan perkiraan saya pada beberapa detil). Sungguh menyenangkan, membaca cerita perihal anak muda yang tidak jauh berbeda dalam arti nuansa generasinya tidak melesat jauh dari ingatan saya. Lagu-lagu mereka, yang bertebaran di bab demi bab novel ini, sebagian besar amat familiar. 

Saya lebih mampu mengidentifikasikan diri dengan karakter fiksi apabila yang dikisahkan adalah seorang laki-laki. Itu sudah bawaan sejak kecil. Karakter favorit saya : Ian dan Genta. Melalui Ian, Donny menyampaikan pesan mengenai nasionalisme yang mulai kabur. Bahwa mengeluh dan memprotes saja tidak ada gunanya. Melalui Genta, Donny mengolah pengetahuan filsafat menjadi renyah dalam dialog-dialognya.

Cerita

Setelah bercengkerama dalam kebersamaan panjang, Genta mencetuskan ide agar mereka tidak bertemu selama tiga bulan. Menghidupkan kerinduan, untuk kemudian bertemu di stasiun kereta api pada tanggal 14 Agustus. Kelima anak muda yang menyebut diri Power Rangers - dan kadang-kadang Goggle - ini sepakat menuju Mahameru serta mengikuti upacara kemerdekaan di sana.

Segi-segi Istimewa

Teknik bertutur Donny Dhirgantoro luar biasa. Dalam fiksi, beberapa typo mungkin sengaja dipermaklumkan dari sentuhan editor agar lebih leluasa. Toh kalimat panjang, paragraf padat yang disajikan Donny tidak membuat mata lelah apa lagi jemu. Saya melahap deskripsi tanpa kecuali, sesuatu yang terbilang baru dalam sejarah kemembacaan selama ini.

Bahasa gaul yang cair diselingi bahasa Indonesia baku menjadikan 5 Cm jauh dari jlimet. Bukan bahasa zaman sekarang yang berkeriting-ria untuk membuat saya mengerti, pula [entah bagi generasi kelahiran 90-an]. Dengan demikian, novel ini layak dikonsumsi pembaca segala usia.

Sejak awal, saya sudah banyak tertawa. Ramuan humor yang dihidangkan di sana-sini agaknya dimaksudkan Donny untuk menciptakan suasana nikmat sebelum meresapi bab-bab selanjutnya. Misalnya ketika Ian berdialog dengan komputernya, Zafran dibisiki malaikat baik dan setan kala mengakses Internet, atau percakapan Zafran dengan Dinda di telepon sbb:

..Sepuluh menit pun berlalu di kabel optik, cerewetnya Zafran ditimpali dengan dua-tiga huruf dari Dinda...

Oh..

Iya..

Tul..

Ner..

Gak..

Yup..

Cie..

(halaman 72)

Tapi 5 cm bukan buku hiburan. Saya mulai terbata-bata dan ikut menangis ketika Ian jatuh bangun menyelesaikan skripsinya. Ini sub plot yang cukup menggedor hati, membawa ingatan pada 'masa lalu kelam' akan pedih-perihnya melaksanakan tugas satu itu. Karakter dosen pembimbingnya mengesankan. Sungguh, saya ingin merekomendasikan novel ini pada keponakan-keponakan yang sedang kuliah dan menghadapi skripsi dengan aneka kesulitannya.

Jika 5 Cm dianggap sempalan jiwa alias berdasarkan pengalaman pribadi penulisnya oleh beberapa orang yang sudah lebih dulu membaca, saya sama sekali tidak keberatan. Bila tidak menjejakkan kaki di Mahameru, tidak bisa dibayangkan bagaimana Donny dapat menggambarkan perjalanan lima sahabat ini dengan detil. Saya juga tidak terganggu oleh pernyataan beberapa pembaca lain bahwa karakternya terkesan sangat ideal, meski jelas bahwa Zafran begitu narsis, Ian menggumuli dunia (maaf) perbokepan [salut untuk Donny karena bagian ini tidak diekspos banyak sehingga mengurangi kemungkinan ditiru pembaca yang mungkin saja 'di bawah umur'], bahwa Arial begitu mengikuti peraturan sehingga mencerminkan kekakuan, dan Genta serta Riani terkungkung perasaan masing-masing walau masih dalam kadar wajar. 

Berangkat dari hal yang sederhana, betapa banyak sisi persahabatan dan hidup yang dapat dipetik dari sini. Bahwa banyak kejutan menanti, bahwa kita harus meyakini diri sendiri, juga mengenali diri sendiri sekaligus tidak takut memunculkan identitas yang sejati. Sebagaimana karakter yang berwarna-warni, namun tetap menyodorkan teladan untuk direnungkan lebih dalam lagi. Sebagaimana ucapan Genta di bawah ini:

"Jangan pernah menganggap kritik itu suatu proses kemunduran atau serangan. Kalo lo dikritik, buat cetak biru di pikiran lo. Kalo kritik itu adalah pengorbanan dari seseorang yang mungkin  telah mengorbankan rasa nggak enaknya sama kita, entah sebagai seorang teman atau rekan kerja, semata-mata untuk apa?...hanya untuk membuat diri kita lebih baik.."

(halaman 138)

Dengan novel ini, Donny Dhirgantoro menunjukkan bahwa masih ada anak muda yang menggenggam idealisme. Khususnya kecintaan pada tanah air, melalui pendakian yang berat, diskusi mengenai cita-cita dan perjalanan hati kelima sahabat karib tersebut. Inilah sebuah karya emas yang akan dirindukan, lebih dari patut untuk dibaca ulang, untuk menggelorakan semangat dan mengajak kita bertanya serta berdialog dengan sisi Ian, Riani, Arial, Genta, atau Zafran dalam diri masing-masing.

Terima kasih, Donny. Anda telah mengobarkan lagi keinginan untuk menggapai mimpi di hati saya.

 

----------------------------

Diambil dari Blog review buku Rini NB Hadiyono

http://sinarbulan.multiply.com/

 



Mudah Beli Pulsa