Pencarian Mahir
 
 » Kategori  » Pak Harto: The Untold Stories
Resensi Terbaru
INSURGENT: FULL IN ACTION BUT WEAK STORYLINE AND BORING PLOTLINE
18 Dec 2014 | Oleh Evi Widiarti
"Insurgent = Orang yang bertindak sebagai oposisi terhadap otoritas yang mapan , yang tidak...
Dag, Dig, Dugderan
18 Dec 2014 | Oleh Evi Widiarti
Kamu memang perempuan, tapi perempuan zaman sekarang bisa lebih maju daripada laki-laki. Kamu...
Pak Harto: The Untold Stories
Oleh:
3
Silahkan Login untuk memberi rating
Rating: 3/5 dari 1 pembaca
Resensi: 0 Resensi
ISBN : 9789792271317
Rilis : 2011
Halaman : 604
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Bahasa : Indonesia

Tulis Resensi
Buku tidak tersedia
Buku Terkait
Surat Kecil Untuk Tuhan
A Gift From A Friend
Poconggg Juga Pocong
Kunci Induk Untuk Membaca Simbolisme Borobudur
The Naked Traveler 3
La Grande Borne
Love Sucks
Super Speed Reading (Bonus CD) Metode Lengkap & Praktis untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca
Clockwork Angel - The Infernal Devices (Book 1)
Panggil Aku King
Buku ini juga dikoleksi oleh :
Tweets for Life
my wish list book

Oleh: leny pasaribu
Jumlah: 15 Buku
Dibuat: 18 October 2011
Lihat semua koleksi terkait »

"Piye to kok ora bisa ditulung (bagaimana sih kok tidak bisa ditolong)?" adalah pertanyaan Pak Harto ketika ia merasa limbung menghadapi kenyataan baru saja kehilangan belahan jiwanya, Ibu Tien Soeharto-istri tercinta yang puluhan tahun menemaninya mengarungi suka dan duka, istri yang selalu mengobarkan semangatnya, menuangkan kasih sayang, serta menguatkan hati.

Setetes air mata Pak Harto menandai kehilangan besar yang harus diikhlaskannya hari itu, disaksikan Profesor Dr. Satyanegara yang selanjutnya menjadi lebih sering menjaga kesehatan Pak Harto. Demikian pula perjalanan hidup Pak Harto sejak muda yang terekam dengan baik dalam ingatan keluarga besar, sesama kepala negara, para menteri, ajudan, serta orang-orang yang bekerja bersamanya, menjelaskan sisi-sisi lain karakter Pak Harto yang sangat jarang dipublikasikan, yang selama ini tersimpan sebagai the untold stories seorang Pak Harto.

Masih dalam kenangan mesra Pak Harto bersama Ibu Tien, Brigjen TNI (Purn) Eddie Nalapraya, yang berpangkat kapten ketika menjadi pengawal pribadi Pak Harto di tahun-tahun awal menjabat Presiden RI, pernah mendapat pesan jenaka dari Ibu Tien. Ibu Negara itu mengetuk-ngetuk jendela mobil sesaat sebelum Eddie berangkat mengawal Pak Harto memancing ke laut lepas, "Jangan memancing ikan yang berambut panjang ya...." Pesan canda buat sang pengawal itu membuat Pak Harto tersenyum mendengarnya.

Sementara Profesor Dr. Emil Salim, Menteri Lingkungan Hidup pada masa pemerintahan Pak Harto, menuturkan kisah yang mengharukan ketika sepasukan tentara disiapkan untuk menembaki serombongan gajah yang dilaporkan memorakporandakan kebun-kebun warga desa transmigrasi di Lampung. Rupanya hewan-hewan besar itu keluar dari hutan karena setiap enam bulan sekali mereka perlu berendam di laut untuk mendapatkan garam.

"Mendengar rencana itu, Pak Harto segera memerintahkan agar para tentara tidak menembaki kelompok gajah pada saat mereka pulang nanti, melainkan menggiringnya melalui jalan yang berbeda, dengan menggunakan peralatan yang bisa menghasilkan bunyi-bunyian seperti genderang dan terompet. Maka pada perjalanan kembali ke habitatnya di atas bukit, gajah-gajah itu tidak lagi menghancurkan kebun dan rumah di desa transmigrasi," cerita Pak Emil.

Ide sederhana Pak Harto ini berakhir tidak sederhana. "Setelah berhari-hari mengawal kawanan gajah pulang ke hutan tempat tinggalnya di atas bukit, beberapa tentara meneteskan air mata haru karena dapat merasakan terbitnya kasih sayang di hati mereka terhadap hewan-hewan itu. Presiden Soeharto lantas mengundang semua tentara yang bertugas dari yang berpangkat terendah ke rumahnya di Jalan Cendana. Dengan riang Pak Harto menyalami mereka satu per satu sebagai tanda terima kasih," cerita Pak Emil.

Buku ini memang sarat bermuatan kisah-kisah human interest sebagai bagian dari keseharian Pak Harto sejak muda hingga akhir hayatnya. Kisah tentang seekor burung beo di halaman belakang yang akhirnya menjadi salah bicara setelah Pak Harto berhenti dari jabatan presiden, isyarat dari alam semesta mengenai akan terjadinya suatu peristiwa duka terhadap diri Pak Harto melalui burung-burung camar yang merontokkan bulu-bulunya memenuhi geladak kapal pada saat Pak Harto sedang bermalam di tengah laut, bahkan kisah tentang rumor yang tidak bertanggung jawab di seputar wafatnya Ibu Tien Soeharto, semua terpapar gamblang apa adanya di dalam buku ini melalui penuturan 113 narasumber yang mengalami dari dekat berbagai peristiwa suka duka di sepanjang hidup Pak Harto.


Buku tidak tersedia
Kenangan tentang Sisi Baik Soeharto

SEJATINYA, manusia itu bisa diibaratkan serupa (uang) koin -yang memiliki dua sisi berlainan. Pada satu sisi, dia dilekati dengan watak baik (malaikat), tapi pada sisi lain memiliki watak jahat (setan). Tak terkecuali dengan Soeharto. Ia yang pernah menjabat sebagai presiden Republik Indonesia selama kurang lebih 32 tahun, ternyata tidak lepas dari rapor dengan catatan merah. Ia ditengarai sebagai pemimpin yang meninggalkan setumpuk kontroversi. Tak salah, pasca Orde Baru tumbang, tuduhan buruk pun disematkan di pundak Soeharto--bahkan tanpa tedeng aling-aling.

Tetapi di balik rapot merah itu, dia tetap sosok yang memiliki segudang kebaikan. Buku Pak Harto: The Untold Stories ini adalah rekaman kenangan akan setumpuk kebaikan Soeharto yang memuat kisah-kisah menarik dan menyentuh (human interest) dari riwayat keseharian Soeharto.

Bahkan, buku yang dituturkan oleh 113 narasumber yang sebagian besar pernah "dekat" Soeharto dalam rentetan suka duka ini memotret gamblang sisi baik Pak Harto yang konon tak pernah diumbar (dipublikasikan) ke hadapan publik. Karena dalam buku -yang juga disertai foto-foto pak Harto- ini tertuang kisah-kisah yang bisa disebut the untold stories dari sosok Pak Harto.

Sejarah Orba memang telah berlalu. Tetapi Soeharto memang bukan sekadar pemimpin biasa. Tak salah, kalau sebagian besar tokoh yang dimintai pendapat dalam buku ini, memuji dan mengakui akan kepemimpinan Soeharto; sederhana, tegas, berani, tulus dan konsisten.

Mien R. Uno mengaku sempat larut dengan kesederhanaan hidup Pak Harto. Secara lugas ia menobatkan Soeharto sebagai pemimpin yang memiliki "Kepribadian yang Hebat" (368-373). Kesederhanaan Pak Harto juga diakui oleh Haryono Suyono yang ketika menghadap Pak Harto ke istana; disuguhi singkong rebus ("Singkong Rebus di Istana Negara" [510-511]). BJ. Sumarlin pun melihat Pak Harto tak segan-segan makan mie instant. Hal itu diakui untuk ikut merasakan apa yang dimakan oleh rakyat biasa.

Sementara Soeryadi (ajudan Soeharto) --kurang lebih 4 tahun jadi ajudan (1981-1985)- menceritakan bahwa Pak Harto adalah pemimpin yang selalu siaga tidak saja dalam keseharian melainkan juga saat menghadapi masalah penting ("Cermat Mengolah Informasi" --hal 108-111). ***

*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta


Sumber: http://etalasebuku.blogspot.com/2011/09/kenangan-tentang-sisi-baik-soeharto.html
Mudah Beli Pulsa