Pencarian Mahir
 
 » Kategori  » Sejarah & Budaya  » Ambivalensi; Post-kolonialisme membedah musik sampai agama di Indonesia
Resensi Terbaru
Melati dalam Kegelapan
26 Nov 2014 | Oleh Evi Widiarti
Melati dalam Kegelapan adalah sebuah novel thriller bernuansa mistis yang mengisahkan seorang...
Cinta Putih di Bumi Papua
26 Nov 2014 | Oleh Evi Widiarti
Bukankah akan baik jika semua orang di dunia ini menjadi pecinta? Sebab pecinta biasanya...
Ambivalensi; Post-kolonialisme membedah musik sampai agama di Indonesia
Oleh:
Silahkan Login untuk memberi rating
Rating: 0/5 dari 0 pembaca
Resensi: 0 Resensi
ISBN : 9786028252614
Rilis : 2010
Halaman : 174
Penerbit : Jalasutra
Bahasa : Indonesia

Tulis Resensi
Rp.40.000

Kategori terkait

Tidak ingin mengulang nasib wacana post-modernisme pada awal 1990-an, yang ternyata tidak lebih sebagai “fashion” akademik belaka—setidak-tidaknya menurut mereka yang skeptis dengan aliran pemikiran itu—kumpulan esai ini berusaha tidak terjebak ke dalam kegenitan konsumsi istilah-istilah baru dan trendi. Bukan efek wah yang bisa menimbulkan kesan sok canggih yang ingin disampaikan kumpulan esai ini, tetapi cara pandang lain dalam membaca pelbagai fenomena di seputar perkara identitas dalam konteks relasi kuasa yang tak setara. Yang dimaksud dengan cara pandang lain itu adalah cara pandang yang menolak esensialisme, subversif pada logika binarisme, dan kritis terhadap pandangan Marxis bahwa relasi kuasa tak setara niscaya bersifat diametral. Singkat kata, esai-esai ini mengajak kita untuk berpikir-ulang mengenai posisi subjek dalam relasi kuasa tak setara.

Hal itu berangkat dari pemahaman umum dan elementer tentang Post-kolonialisme itu sendiri, yakni bahwa melihat pelbagai continuing effects kolonialisme pada masyarakat-masyarakat bekas jajahan, atau bekas wilayah pengaruh kolonialisme Barat, sikap bekas terjajah terhadap bekas penjajah ternyata penuh dengan ambivalensi. Ada rasa benci karena luka-luka sejarah yang ditimbulkannya, tetapi sekaligus juga ada rasa kagum (dan karena itu merindukannya, entah sadar atau tidak) karena superioritas peradaban yang (pernah) dipertontonkannya; ada kecenderungan untuk mengambinghitamkan masa lalu kolonial atas segala keterbelakangan dan keterpurukan pada masa kini, tetapi sekaligus juga berterima kasih kepadanya karena kekuatan-kekuatan koloniallah yang kemudian memungkinkan terbentuknya ‘negara-bangsa’ yang ada sekarang ini.

Ambivalensi [dengan segala konsep yang terkait dengannya seperti mimikri, hibriditas, ‘ruang antara’, parodi, hegemoni-resistensi, dan sebagainya] itulah yang kemudian dijadikan kata kunci esai-esai ini dalam membaca(-ulang) pelbagai fenomena di seputar perkara identitas, bukan semata-mata yang terkait langsung dengan masalah kolonialisme di masa lalu, tetapi melebar ke hubungan pandang-memandang antarsubjek yang terkait dalam relasi-relasi kuasa tak setara. Di sinilah Post-kolonialisme telah menjadi perspektif, atau kacamata pandang, yang berbeda dari kacamata pandang yang sudah mapan dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora arus utama.


Rp.40.000

Mudah Beli Pulsa