Pencarian Mahir
 
 » Kategori  » Sastra & Puisi  » Rectoverso: Sentuh Hati Dari Dua Sisi
Resensi Terbaru
Fight for Love
30 Oct 2014 | Oleh Evi Widiarti
“Nggak semua anak harus meneruskan cita-cita ayahnya. Kalau semua orang mempunyai...
LOCKWOOD & CO - THE SCREAMING STAIRCASE: BETWEEN SOLVE THE CASE AND PARANORMAL ACTIVITY
27 Oct 2014 | Oleh Evi Widiarti
The Screaming Staircase (Saat Kisah Horror Dibuat Ala Misteri Detektif)  ...
Rectoverso: Sentuh Hati Dari Dua Sisi
Oleh:
3.9
Silahkan Login untuk memberi rating
Rating: 3.9/5 dari 8 pembaca
Resensi: 2 Resensi
ISBN : 9789789799626
Rilis : 2008
Penerbit : Good Faith
Bahasa : Indonesia

Tulis Resensi
Buku tidak tersedia
Buku Terkait
Rectoverso (Audio CD)
Box Set Ika Natassa
MADRE
Perawan Dalam Cengkeraman Militer
Kubah
Supernova - Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh
Supernova - Petir
Personal Branding Lewat Internet
Di Bawah Lindungan Ka'bah
Telepon Genggam - Kumpulan Puisi
Buku ini juga dikoleksi oleh :
Bundling Buku Supernova
Novelis Perempuan Indonesia

Oleh: Shanna Diaz
Jumlah: 7 Buku
Dibuat: 28 June 2013
Rectoverso: Sentuh Hati Dari Dua Sisi
dee

Oleh: luisa eka saputri
Jumlah: 8 Buku
Dibuat: 11 March 2013
Prosa 4: Yang Jelita Yang Cerita
Dewi 'Dee' Lestari

Oleh: Arline Safitri
Jumlah: 9 Buku
Dibuat: 31 January 2013
Supernova - Partikel
Mahakarya Dewi 'Dee' Lestari

Oleh: Elsa Yolanda
Jumlah: 7 Buku
Dibuat: 29 January 2013
Lihat semua koleksi terkait »

Dewi Lestari (Dee) meluncurkan karya terbarunya “Rectoverso: Sentuh Hati Dari Dua Sisi”. Rectoverso merupakan sebelas kumpulan fiksi dan lagu dengan judul yang sama.

Karyanya kali ini kembali memposisikan seorang Dee tidak hanya sebagai penulis tetapi juga pemusik unggul, terbukti dari penggabungan dua media buku dan lagu dalam satu karya yang unik. Menikmati Rectoverso seolah membaca kisah hidup sendiri, membuka jiwa saat mulai membaca tiap fiksinya dan diakhiri dengan mendengarkan lagu-lagunya. Melihat tiap cerita dari dua sudut penokohan yang berbeda, dari dua ‘dunia’ yang seakan terpisah, dan dari dua sisi yang menyatu dalam Rectoverso.

Malaikat Juga Tahu merupakan salah satu andalan Rectoverso yang diangkat dari kisah seorang Bunda yang sangat mencintai anaknya yang mengidap Autis, yang mencintai seorang gadis yang ternyata dicintai juga oleh adik si Abang yang autis. Membaca fiksinya, menceritakan sisi si gadis yang juga menyayangi Abang karena sudah dianggap sebagai saudara tapi tidak mencintainya untuk dijadikan sebagai pasangan hidup. Ia memilih untuk mencintai Adik walaupun Bunda meyakinkannya bahwa cinta Abang adalah segala-galanya pada si gadis. Sepenggal fiksi Malaikat Juga Tahu :

“Tapi Bunda bukan malaikat yang bisa baca pikiran orang. Bunda tidak bisa bilang siapa yang lebih sayang sama saya. Tidak akan ada yang pernah tahu.”

Sementara mendengarkan lagu dengan judul yang sama merupakan versi dari sisi sang Bunda yang bersikeras bahwa perasaaan anaknya yang Autis sangatlah tulus. Sepenggal lirik Malaikat Juga Tahu :

“Karena kau Tak Lihat, Terkadang Malaikat tak bersayap, tak cemerlang tak rupawan. Tapi Hati Ini, silahkan kau adu, Malaikat Juga Tahu, Siapa Yang Jadi Juaranya”

“Berawal dari proses kreatif sebuah lagu, 'Hanya Isyarat', yang saya buat pada awal tahun 2006, saya merasakan bagaimana kadang inspirasi tidak berpuas diri untuk mewujud lewat satu saluran saja. Inspirasi yang sama seolah menggedor saya untuk terus mencari bentuk lain, hingga 'Hanya Isyarat' akhirnya terwujud juga dalam sebuah cerita pendek Ketika melihat keduanya rampung, 'Hanya Isyarat' versi lagu dan 'Hanya Isyarat' versi cerpen, saya pun terpukau melihat bagaimana kedua karya itu hadir seperti saling bercermin, sekaligus juga bisa dinikmati sebagai dua karya yang terpisah”, ungkap Dee.

Ignatius Andy, executive producer, mengungkapkan, “Kami semua terpukau oleh satu hal, bagaimana Dee mengekspresikan satu konteks dalam dua media yang setara cantiknya dan saling melengkapi. Setiap karyanya merupakan refleksi kecerdasan, observasi yang jitu tentang keadaan. Indah di hati dan mencerahkan isi kepala”.

 

---------------------------

 

"Rectoverso adalah lompatan dari buku-buku Dee sebelumnya. Karya ini membuat kita menghargai,menghormati, dan menikmati dunia personal"

-Seno Gumira Ajidarma-

 

"Bagi saya,cerita-cerita ini karya Dee yang terbaik: matang tapi tetap dengan rasa yang murni,sederhana tapi menampilkan apa yang luar biasa dari permukaan yang biasa"

-Goenawan Muhammad-

 

"Kombinasi indah antara literatur dan musik yang merangsang visual!"

-Jay Subyakto-

 


Buku tidak tersedia
Dari bedah buku Rectoverso Dewi 'Dee' Lestari di Grand Indonesia 30 Januari 2009

Bertempat di FAB Cafe Grand Indonesia Lt. 3 East Mall, sebuah Cafe yang menyatu dengan toko buku Gramedia, Dewi Lestari membedah buku Rectoversonya. 

Malam itu Dewi ditemani suaminya Reza, hadir mengenakan atasan turtleneck warna ungu dan bawahan warna abu-abu, terlihat segar dan cantik. Acara agak molor sekitar 30 menit dari jadwal pukul 19.00 WIB. 

Dibuka dengan lagu Peluk yang terdapat dalam CD Rectoverso, Dewi menyanyi diiringi oleh suaminya yang memencet keybord. Setelah itu acara dibuka oleh moderator Andre.

Rectoverso, yang awalnya dari album berbahasa Inggris yang berjudul Out Of Shell dan Hanya Isyarat yang dibuat dalam format lirik lagu dan cerpen. Dari permulaan ini kemudian Dewi mengembangkan lagi dengan mengumpulkan lagu-lagu dan tulisan karyanya hingga menjadi 11 lagu dan 11 cerpen.

Sebenarnya awal dipilihnya kata Rectoverso adalah dari logo kecil di uang kertas (istilah ini biasanya diakrabi oleh Designer Grafis yang berarti dua gambar yang terpisah tetapi satu kesatuan). Jika Anda perhatikan, dalam setiap uang kertas ada citra yang bisa diterawang.
Seperti halnya dalam hidup, banyak hal yang sepertinya terpisah tetapi sebenarnya satu kesatuan, seperti hitam dan putih, laki-laki dan perempuan dll.

Menjawab pertanyaan tentang proses kreatif yang dilakukan Dewi Lestari, sebenarnya saat buku pertama keluar yang berjudul Supernova (masih ingat, Dengan tokoh Ruben,Ferre dan Diva?) eksistensi Dewi sebagai penyanyi sudah mulai pudar. Mangaku menyukai menulis sejak lama tapi Dewi menyatakan bahwa telenta menyanyilah yang mendapat sorot lampu lebih dulu. Sehingga saat dia mengeluarkan buku, orang-orang banyak bertanya sejak kapan Dewi suka menulis? Dewi menyatakan menulis adalah hobinya.

Inspirasi yang membuatnya bisa menuangkannya dalam tulisan adalah dari proses mengamati, dia meyakini, setiap penulis yang baik, dia pasti adalah pengamat yang baik pula. Pengamatan itu bisa dilakukan terhadap pengalaman hidup orang lain dll.

Dipilihnya angka 11, menurut Dewi itu adalah angka spiritual. Dan kebetulan Dewi seringkali bertemu dengan angka misalnya jam yang menunjuk angka 11:11 yang seolah-olah membuka dua gerbang yang sebelumnya tertutup kepada dimensi lain (terutama dimensi hati kita).

Kisah-kisah yang terdapat dalam buku Rectoverso, cenderung berkisah tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan atau cinta tak teraih, karena menurutnya itu adalah kisah yang sangat universal, dan Dewi tidak memberi nama dalam setiap tokoh-tokohnya. Dia menambahkan bahwa manusia bisa belajar banyak dari peristiwa yang pahit dalam hidupnya, bukan dari yang manis-manis. Dan dia banyak terinspirasi dari drama Jepang yang kebanyakan kisahnya lebih banyak mengungkap cinta yang dalam yang dirasakan sendirian oleh tokoh-tokohnya dan akhirnya pada suatu titik dia merelakan untuk melepaskan cinta itu. Menurut Dewi, hal semacam itu adalah sesuatu yang sangat elegan.

Kemudian sesi acara dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan dari peserta dan Dewi menyanyikan lagu Cicak di dinding yang merupakan request dari salah satu peserta bedah buku.

Acara kemudian ditutup dengan nyanyi bersama lagu Malaikat juga tahu, dan sesi book signing.

Secara keseluruhan, Dewi sangat lancar mengungkapkan semua hal yang terdapat dalam buku Rectoverso sehingga boleh dibilang acara ini cukup memuaskan, terutama bagi penggemar Dewi dan pembaca Rectoverso. (EW)

Note: Image Courtesy of Dianda Yulia  (www.diandayulia.multiply.com)




 

Rectoverso by Dee
Oleh: - 03 June 2014

9625748
Tahun terbit: Juli 2008
Jumlah halaman: 148 hlm

Dewi Lestari yang bernama pena Dee, kali ini hadir dengan mahakarya unik dan pertama di Indonesia. "Rectoverso" merupakan hibrida dari fiksi dan musik, terdiri dari sebelas cerita pendek dan sebelas lagu yang bisa dinikmati secara terpisah maupun bersama-sama. Keduanya saling melengkapi bagaikan dua imaji yang seolah berdiri sendiri tapi sesungguhnya merupakan satu kesatuan. Inilah cermin dari dua dunia Dewi Lestari yang ia ekspresikan dalam napas kreatifitas tunggal bertajuk "Rectoverso". Dengar fiksinya. Baca musiknya. Lengkapi penghayatan anda dan temukanlah sebuah pengalaman baru.

**

 
Seduhan pertama yang saya terima dari Dee. Di berberapa halaman depan, terdapat beberapa catatan sebelum akhirnya kita dihidangkan pada seduhan nikmat yang disajikan oleh Dee. Cover-nya yang lembut dan font penulisan yang indah semakin membuat sebuah rasa nikmat pada setiap baris aksara di dalamnya.
 
Ada 11 kisah yang tertera; Curhat buat Sahabat, Malaikat Juga Tahu, Selamat Ulang tahun, Aku Ada, Hanya Isyarat, Peluk, Grow a Day Older, Cicak di Dinding, Firasat, Tidur, Back To Heaven's Light. Setiap kisah dimulai dari untaian puisi (atau mungkin lirik lagu) yang tertuang di kertas berwarna hijau lumut, juga selalu ada gambar yang mewarnai halaman-halamannya. O ya, dua di antara 11 kisah ini menggunakan bahasa Inggris, lho! Yaitu, Grow a Day Older dan Back To Heaven's Light. Di samping itu, Dee juga menuliskannya dengan seluruh sudut pandang; aku, kamu, dan nama orang.
 
 

“Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa, karena kini kumiliki segalanya.” ― Hal. 32 (Aku Ada)
 
Tidak perlu waktu yang lama dalam membaca kumpulan kisah ini. Hanya satu hari. Dan, saya menjatuhkan kisah favorite saya pada "Aku Ada" dan "Firasat". Dua kisah yang paling saya suka karena (mungkin) keadaannya sama seperti saya.
 

“Kadang - kadang pilihan yang terbaik adalah menerima...” ― Hal. 108 (Firasat)
 
Ada 4,0 bintang untuk 11 kisah ini. Khususnya untuk dua kisah favorite saya. Terimkasih atas seduhannya, Dee. :')
 
“Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.” 

Sumber: http://luqyanareviews.blogspot.com/2014/04/review-rectoverso-by-dee.html
 
KETIKA LIRIK LAGU DAN CERPEN MENGALUN BERSAMA
Oleh: - 17 October 2013

“Ibu tahu ke mana air hujan ini pergi?” tanyaku setengah berbisik.

            Ibuku menganggung, “Ke laut, Nak”

            ... Dan sesudah itu terdengar suara guruh dari kejauhan.

            Penggalan itu merupakan salah satu penggalan dari cerpen yang berada dalam buku kumpulan cerpen ini, cerpen tersebut berjudul firasat.

            Indonesia ternyata masih memiliki seorang penulis yang sangat kreatif dan mampu membawa keinginan para pembaca untuk menikmati sebuah karya sastra dengan cara yang dapat dikatakan sangat modern namun tetap mempertahankan nilai estetik dari karya sastra tersebut.

            Dewi Lestari atau yang biasa dikenal dengan nama penanya “Dee” kembali menerbitkan sebuah buku kumpulan cerpen yang dapat dikatakan buku kumpulan cerpen hibrida. Sebuah karya yang menggabungkan lagu dan cerpen sekaligus untuk dinikmati. Kali ini “anak” yang lahir dari tangan berbakat Dee berjudul Rectoverso, kumpulan 11 cerita pendek.

            Dewi Lestari telah dikenal sebagai seorang penulis dengan talenta yang luar biasa, ia adalah seorang penulis puisi, pencipta novel, penghasil cerpen dan seorang pencipta lagu. Bukan sembarang multi talenta, Dewi lestari selalu menghasilkan karya karya yang luar biasa dan cukup dipertimbangkan sebagai bahan literatur untuk kesusasteraan.

            Sebelum “melahirkan” Rectoverso yang notabenenya bermakan, segala sesuatu yang berbeda namun ditakdirkan untuk menjadi satu, Dee telah berhasil mempublikasikan karya karyanya seperti, Novel Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (2001), Novel Supernova: Akar (2002), Kumpulan Prosa dan Puisi "Filosofi Kopi" (2003), dan Novel Supernova: Petir (2005). Karya karyanya tersebut telah mengukuhkan bahwa Dee merupakan penulis yang produktif dan sangat berbakat.

            Tertutup dari segala keberhasilan Dee menghasilkan banyak karya sastra seperti yang dijelaskan di atas, Rectoverso merupakan salah satu karya Dee yang patut dilirik.

            Penggunaan gaya bahasa yang ekspresif dan puitis dapat membuat para pembaca tenggelam di dalamnya. Melalui penggunaan gaya bahasa yang seperti ini Rectoverso menghadirkan serentetan kisah yang mengharukan, penuh dengan konflik dan membuat pikiran para pembaca bekerja untuk memecahkan misteri di beberapa cerpen, karena pada beberapa cerpen di dalam buku ini, akhir ceritanya digantung dan diserahkan kepada pembaca untuk berpikir apa yang terjadi.

            Selain itu, setiap cerita dalam Rectoverso ditemani oleh satu lirik lagu penuh yang diciptakan oleh Dee sendiri ditambah dengan foto foto ilustrasi yang sarat akan makna. Hal inilah yang menjadikan Rectoverso merupakan karya hibdrida yang menggabungkan cerpen dan lagu sekaligus. Seperti yang telah disarankan oleh Dee sendiri dalam situsnya, alangkah baiknya pembaca membaca kumpulan cerpen ini sambil mendengar lagu yang tercantum dalam setiap cerpennya.

            Tentu saja hal ini menjadikan sensasi baru dalam menikmati sastra, bukan saja visual kita yang bermain namun audio juga.

            Hal yang tak kalah menarik dari buku ini adalah Dee menyajikan kepada pembaca dua buah cerpen berbahasa Inggris yang sama menyentuhnya dengan cerpen yang disajikan dalam bahasa Indonesia. Persembahan Dee ini dapat kita maknai bahwa kesusasteraan Indonesia tidaklah terikat secara penuh dalam penulisan 100% berbahasa Indonesia. Belum lagi kita dalam era globalisasi, untuk memajukan kesusasteraan Indonesia kita harus dapat menjalankan persuasi dunia internasional dengan menyediakan karya sastra dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh dunia Internasional.

            Hanya saja, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, setiap cerpen ditemani oleh ilustrasi foto yang sarat akan makna. Foto foto tersebut terkadang sulit dimengerti dan membutuhkan waktu lama untuk memaknainya. Namun, kekurangan yang sedikit ini tidak menjadikan Rectoverso sebagai sesuatu yang “terlalu berat” untuk dibaca.

            Oleh karena itu, bagi pembaca yang ingin mengalami sebuah perjalanan dan sensasi baru dalam menikmati karya sastra Indonesia yang berbobot, cobalah membaca Rectoverso. Seperti yang disarankan oleh penulis sendiri alangkah baiknya pembaca mendengar lagu yang ada dalam buku tersebut sambil membaca cerpennya.

 

            Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa Rectoverso merupakan buku yang harus anda miliki untuk menambah koleksi buku anda, terutama bagi para penikmat buku buku Dewi Lestari. 


Sumber: http://www.bookoopedia.com/dee-rectoverso
Lihat Semua Resensi (2)
Mudah Beli Pulsa