Menguak Jiwa Penyair Perempuan di Dunia Maya
    
Menguak Jiwa Penyair Perempuan di Dunia Maya Oleh: Kurniawan Junaedhie Kriteria apa yang dipakai untuk memuat puisi para penyair yang ada di Facebook ke dalam buku ini? Tidak ada. Malah bisa saya katakan, puisi-puisi ini saya temukan secara at random di Facebook yang saya ikuti sejak Februari 2009 hingga buku ini ditulis. Ukurannya jelas sangat subyektif. Termasuk ketika saya harus memilih hampir 100 (dari mungkin seribuan) puisi ini, pilihan saya lebih berdasarkan subyektivitas yang Anda boleh tidak setuju. Juga ketika harus memilih ‘hanya’ 10 penyair di Facebook ini. Alasannya –mohon maaf—hanya karena saya tidak bisa menemukan yang lainnya itu, meski saya yakin sekali, di luar sana, masih banyak penyair perempuan yang sama-sama berbakatnya. Jika Chairil Anwar mengatakan, ‘yang bukan penyair tidak boleh ambil bagian’ dijadikan acuan, maka saya kira, kita pun boleh saja berpendapat: ‘yang bukan penyair juga boleh ambil bagian’. Hemat saya, biarlah mereka’ yang bukan penyair’ ini ambil bagian, agar taman kesusatraan Indonesia lebih colorfull. Tapi benarkah mereka bukan penyair? Bagi mereka sendiri, sebutan penyair atau bukan penyair, tampaknya bukan perkara yang penting benar. Bahkan sedikit pun saya tidak melihat niat mereka untuk membuat angkatan tersendiri, boro-boro menyerang Sastra Koran . Penilaian saya sendiri praktis-praktis saja: pertama, sebutan penyair adalah sebutan yang pas untuk mereka yang menulis syair, dan kedua, ke-10 teman ini sudah jelas-jelas menulis puisi, bukan cerpen atau wartaberita. Kenapa ada embel-embel Facebook? Ini penting. Di mata saya, Facebook tak sekadar varian dari situs-situs web atau situs-situs blog yang biasa disebut situs generasi Web 2.0, tapi juga memiliki plus-minus tersendiri sebagai medium bagi para penyair dibanding medium yang digunakan para pendahulunya yang masih menggunakan situs blog seperti blogger, atau wordpress. Misalnya, bila pemilik situs blog masih harus mempromosikan blognya agar dikunjungi orang, maka pemilik Facebook tidak perlu lagi melakukan apa-apa karena Facebook memiliki fitur canggih yang memungkinkan semua hal ditautkan secara otomatis sehingga kita sebagai penyair (users) bisa secara otomatis menjadi penerbit (publishers). Dan dalam waktu yang bersamaan pula, kita pun bisa membangun komunitas pembaca (readers) sendiri termasuk bagaimana mengajak pembaca agar mau membaca karya kita. Serba instan itulah sifat utama Facebook. Dengan sifatnya yang serba cepat (instant) tadi, tak dapat dipungkiri bahwa sebagai media demokratis, Facebook memang melahirkan puisi-puisi instan, dan penyair-penyair instan. Dan yang disayangkan pula, Facebook juga ternyata hanya mengundang opini, tanggapan atau komentar pembaca yang juga instan, yaitu bersifat artificial, dan tidak in depth (mendalam). Padahal menurut saya, mestinya penyair juga berhak mendapat keuntungan dari feedback yang konstruktif, meskipun kritik itu terkadang kejam. Tanpa memperoleh feedback berarti, bagaimana para penyair bisa mengevaluasi diri untuk meningkatkan kualitas puisinya di kemudian hari? Namun tunggu dulu, di sisi lain, situasi-situasi seperti ini rupanya membawa ‘berkah’ tersendiri bagi penyairnya: Karena dengan begitu penyair bisa dengan leluasa menghasilkan karya-karya dengan sebebas-bebasnya tanpa rendah diri. Dengan bahasa keren, puisi-puisi mereka bebas dari kontaminasi kebijakan editorial dan bebas dari kontaminasi kegenitan trend atau gaya yang dibuat para redaktur media mainstream. Hanya masalahnya, seperti yang dicemaskan oleh Penyair Ahmadun Yosi Herfanda : “Menulis puisi tanpa orientasi kesusastraan -- tanpa pretensi untuk menjadi penyair atau mencapai prestasi estetik yang tinggi -- tentu akan lebih banyak melahirkan sajak-sajak yang bersahaja, ala kadarnya, yang 'pokoknya puisi' -- yang kadang-kadang gagap dalam pengucapan.” Tentu, para penyair dalam buku ini harus menjawabnya sendiri. Mereka juga harus menjawab: apakah dengan kemudahan-kemudahan itu, maka mereka lalu memiliki deferensiasi tersendiri? Ataukah, jangan-jangan, seperti yang juga dicemaskan oleh penyair Ahmadun tadi, mereka sekadar, “mengaktualisasikan diri melalui sajak di ruang atau media yang sering mereka idolakan sebagai 'ruang sastra yang paling demokratis'? Sekarang marilah kita mencoba mengintip apa-apa saja yang mereka tuliskan. Tematik Kekayaan tematik memang hal yang paling memikat dalam buku ini. Ini sekaligus membuktikan bahwa para penyair perempuan yang kebetulan umumnya ibu rumahtangga ini memiliki kepedulian (concern) dan cakupan wawasan luas tentang berbagai hal baik di dalam maupun di luar dirinya. Bisa dibilang segala hal telah mengusik pikirannya, sehingga seakan layak disentuh dan ditulis: Mulai dari masalah yang bisa dibilang tetek-bengek seperti ditinggal pasangan, masalah-masalah pribadi di balik kamar mandi dan kamar tidur sampai keprihatinan tentang Indonesia. Tapi tentu saja, cinta, kepedihan, dukalara, perpisahan, kenangan dan sejenisnya tetap menjadi tema-tema yang menarik bagi para penyair perempuan ini sejauh hal-hal itu menggoda pikiran dan perasaannya untuk dituangkan sebagai sebuah puisi. Kalau kita membaca lebih jauh, maka ‘gerutuan’ Seno Gumira Adjidarma ketika mengantar sebuah buku puisi perempuan mungkin bisa kita pinjam, “memang ternyata sampai di dalam puisi pun tiada habis masalah “tetek bengek” perempuan, tetap meninggalkan jejaknya.” Sungguh menakjubkan, melihat bagaimana, misalnya, di kamar mandi pun, Faradina Izdhihary bisa menulis puisi tentang mandi yang tentu saja sesudah diberi pemaknaan sendiri. Baca puisinya, DI KAMAR MANDI PEREMPUAN ITU MENEMU SORGANYA: selepas seharian meneteskan keringat pada baju ketatnya perempuan itu hendak meluruhkan dakinya kamar mandi menjadi pilihan tempat paling setia mencatat keluhannya membuang semua borok dan lelahnya pernah ia, menuliskan kata-kata terjorok pada dindingnya perempuan itu melepas bajunya pelan-pelan takut merontokkan tulang-tulangnya yang ngilu seraup air pada tangannya, ia basuh mukanya bersyukur ia diam-diam, menikmati lembutnya “hm... kasar kumis lelakiku masih membekas di sini,” bisiknya sambil membelai tulang pipinya ia ambil air untuk berkumur berlama-lama ia elus bibir lembutnya "ah.... setengah saja ranum bibirku hendak menyapa dia", desahnya lelaki yang mengulum sepenuh hati membungkam ceritanya tentang kerja dan atasan yang menyebalkan tentang teman kantor yang suka menggoda tentang teman kantor yang suka umbar cerita ah... perempuan itu tersenyum dengan bibir setengah terbuka lalu lehernya ia gosok pelan-pelan di sini, di sini lelakiku sering menggantungkan harapnya meletakkan lelah yang berjuta-juta di sini pula tuhan menggantungkan cinta seluas lautan tempat mengaitkan selendang untuk anak-anaknya dada perempuan itu bergetar hebat ketika tangannya menangkup susunya di sana tuhan memberikan air kehidupan pada anak-anaknya tempat terhangat anak-anak untuk bermanja tempat terindah bagi lelakinya mengadu seperti dadanya lah cintanya bergelombang, hangat, dan mendebarkan ia susuri perutnya yang membekas jahitan di sana dulu lelakinya menitipkan benihnya sembilan bulan bayinya berlindung di sana tempat terdamai yang tak ada bandingnya ia menyusurkan tangan ke bawahnya gemetar tangannya ia temukan di sana simbol bahwa ia sungguh wanita di sana lelakinya memuja anak-anaknya lahir ke dunia jalan kehidupan yang hanya tuhan yang mencipta perempuan itu melenguh ingat lelakinya kakinya gemetaran, dia sabuni telapak kakinya agak berkapal karena terlalu jauh melangkah dengan sepatu berhak tinggi yang murah ia tersenyum bahagia, ingat di sana tuhan meletakkan surga keluar kamar mandi perempuan itu menangkup tubuhnya dengan selembar handuk membuka jendela dan berkata lirih, "dedaun.... jangan berisik, sini aku bisikkan rahasia besar padamu: Sesungguhnya aku bersyukur dan bahagia jadi perempuan sebab setiap inchi tubuhku adalah syurga bahkan di telapak kakiku yang paling hina tuhan meletakkan syurganya!" Sepadan dengan puisi Faradina Izdhihary di atas, kita bisa simak puisi AGAMA PEREMPUAN karya Helga Worotitjan berikut: perempuan setengah baya telanjang mengamati perutnya di cermin ada gurat-gurat bekas hamil besar di perutnya ada lemak-lemak mengelompok di sana ada pusar yang tak lagi berada di tempatnya dan stiker tubuh elok perempuan muda di sudut kiri atas cermin tempatnya berkaca kini juga tempat suami dan anak sulungnya masturbasi mereka pernah berurusan dengan perutnya yang satu menari di atas perutnya yang satu menggeliat di dalam perutnya tak begitu penting lagi kepentingannya telah dibeli selembar surat kawin Hal yang sama juga dialami Susy Ayu bahkan peristiwa bercinta pun bisa menjadi ‘ilham’ bagi lahirnya sebuah puisi berjudul USAI BERCINTA. ketika kita usai kekosongan di telapak tanganku masih terasa penuh serupa dirimu pada rambutmu yang sempat kujambak pada dadamu yang kusinggahi pada tamanmu yang buas namun indah sebelum kedua tangan ini bersembunyi di punggung lehermu aku sempat cemas kupikir cintaku semata pada geletar matamu sinar yang mendambai penyerahan namun lewat rasa hangat yang terpapar telanjang kau antar aku mencapai keyakinan cintai seluruhmu ketika kita usai kekosongan di seluruh tubuhku masih terasa penuh serupa tubuhmu aku cinta padamu Ini menjelaskan betapa para penyair itu, memang memiliki “kepekaan puitik” yang ‘tinggi’ tentang keindahan yang mendorong lahirnya sebuah puisi. Keindahan (beauty) adalah misteri yang mempesona manusia karena ia merupakan pengalaman yang bersifat timelessness dan berderajat lebih tinggi dari kemanusiaan itu sendiri. Tapi seperti kata Seno, bagaimana kita bisa menyebut hal-hal itu sebagai tetek bengek itu jika hal itu memang menjadi bagian penting dalam kehidupan perempuan? Maka menyebut mana yang tetek bengek dan mana yang tidak bengek pada akhirnya memang hanya mengada-ada. Bukankah kehidupan itu sendiri sebuah puisi, dan penyair membuat puisi agar kehidupan itu bermakna? Simak saja puisi karya Dewi Maharani MAAF JIKA TERNYATA DIA SUAMIMU yang menurut saya cukup serius justru karena ‘mbeling’ –nya ini. Bagaimana tidak, setelah kita terhanyut cerita yang ‘meyakinkan’ itu, tiba-tiba kita dihenyakkan oleh kenyataan bahwa, pasangannya ternyata adalah “suamimu”. dia menyapaku dengan senyum ah, bukan hanya senyuman ada kerlingan dari hatinya mencoba mengetuk kebekuan gerbang bergembok karatan dengan syairsyair kearifan ... dia tawarkan bahu bahkan dadanya untuk membaringkan hati lelahku yang terlena oleh detak waktu saat jantungnya bekerja meluluhkan batu berjuntai mutiara rindu adalah menu utamaku seikat mawar berdaun surga kuterima darinya setiap waktu menikmati malam dengan guyuran cintanya tak perlu kutunggu aku terjatuh, mengaduh pada tatapan matanya yang teduh! ma'af, jika ternyata dia suamimu karena baru semalam seekor gagak hitam memberi khabar itu padaku ... Memang, ada beberapa karya mereka dalam buku ini, yang mengingatkan saya pada puisi mbeling, majalah Aktuil, awal tahun 1970-an karena terkesan main-main. Tapi kesan main-main itu bukan pada bentuk, melainkan lebih pada makna. Coba saja simak bagaimana Pratiwi Setyaningrum, seperti kaum pria pada umumnya yang suka usilan, dengan seenaknya menyebut kekasihnya yang doyan makan, sebagai sangat nggragas (rakus, jawa): KEKASIHKU SANGAT DOYAN MAKAN Kemarin kuserahkan mataku, dimakan Malamnya kutawarkan lidahku, dicomot. Digigit-gigiti sampai prithil Tadi pagi kutengok, hatiku krowak, ada bekas giginya Ah... Kekasihku ternyata nggragas Bisa-bisa aku tak bersisa Sense of humor memang tak memandang gender. Bahkan sajak Tina K, DOA SEBELUM TIDUR dan berbentuk puisi pendek ini masih terasa ngocol. Tuhan, terimakasih, karena telah Kau tambal hatiku yang bolong hari ini gara-gara kucintai laki-laki yang namanya adalah litani yang kudaraskan mulai terbit matahari hingga tenggelam bulan. tapi Tuhan, besok, hatiku pasti bolong lagi. Puisi karya Shinta Miranda: AMSTERDAM - ROMA ini juga bisa dikategorikan mbeling, karena sifat anekdotnya: Aku sedang menunggu di stasiun kereta api amsterdam sendiri menuju roma seorang lelaki menghampiriku dia pikir aku seorang pramugari tas bawaanku berlogo penerbangan singapur lalu aku bilang, bukan aku dari indonesia dia bilang ahmad sukarno aku melotot..ketinggalan jaman suharto saja sudah mati lalu aku tertawa, sambil bergumam bambang susilo oh,...presiden lain kereta jurusan roma tiba segera kubangkit masuk dalam kereta mencari tempat masuk ke kabin nyaman dan wangi bisa tidur semalam sampai tiba lelaki itu masuk dalam kabinku ahmad dari irak duduk di sofaku bagaimana mau tidur ada lelaki di kabinku keluar kabin celingak celinguk minta petugas periksa karcis ahmad harus pindah tiketnya kabin lain ahmad sukarno-ahmad dineja kita saudara-mari bersama keluar kabin-celingak-celinguk cari kabin kosong, buka-tutup bertemu lelaki malaysia di kabinnya ku tidur semalam Sampai di sini mungkin pertanyaannya bisa dibalik: jadi siapa bilang penyair perempuan tidak bisa mbeling? Harap diingat, pengertian mbeling di sini mengandung unsur kecerdasan serta tanggung jawab pribadi. Betapa pun, sebuah puisi diciptakan didasarkan atas ‘ilham’ (bagi yang meyakininya) dan yang pasti merupakan sintese dari beragam peristiwa yang dituangkan dengan penggunaan media. Melalui sajak AKU BUKAN PELACURMU Weni Suryandari mencoba melakukan permenungan tentang tubuh keperem-puanannya. Berapa harga cintaku kau beli Yang kerap bermain di mulut mulut gua dan batang-batang pohon Bersenda gurau dengan alam yang polos Tapi hanya kau tawar saat musim dingin menusukmu padahal kusembunyikan rintihku di balik deras hujan yang sibuk Tubuh surga ini bukan pelarian Dari gigil lapar dan haus asmara Meletup di balik pakaianmu, di balik kerudungku, Di antara tembok-tembok kaca tak berbunyi Di sekitar kita yang tak pernah berkata Kita bukanlah sepasang kelamin Yang melukis fatamorgana Aku baluri cinta pada tubuhku Bukan liur anjing penuh birahi Aku bukan pelacurmu Puisi Nona Muchtar PRASANGKA berikut juga layak diapresiasi. Ia mengatakan bahwa rindu pun bisa dipadamkan dengan puisi: Seharusnya kita bercinta saja sampai lupa waktu Agar tidak saling mengirim prasangka Seperti tanah dan air ketika musim hujan Menggenangi akar hingga berbunga rindu Meski langit dan laut sering bercumbu Hingga bumi menggerutu marah Tapi kita tidak harus selalu begitu Padamkan saja rindu dengan puisi Bahwa para penyair dalam buku ini tak hanya senang mengunyah-ngunyah masalah keseharian bisa dibuktikan juga lewat puisi Kwek Li Na SECANGKIR KOPI HARAPAN ini, meski tetap menggunakan frasa yang ‘berani’: Cangkir, siap kita isi Air pun telah mendidih Hari ini aku, atau kaukah yang menjadi gula ? Yang lain pasti akan menjadi bubuk kopi Tak ada yang lebih istimewa Atau pun tak ada yang tak berguna Semua bahan mesti ada dan sesuai takaran Tak boleh kurang atau pun berlebihan Secangkir kopi harapan Tercipta karena kebersamaan Siap membasahi kerongkongan kering kita, yang tengah berada di padang pasir kehidupan Warnanya pekat, siap disruput Khasiatnya tak kalah dari raja obat Hilangkan ngatuk seketika Menurunkan lemak kepenatan Mengurangi ejakulasi dini menulis dan membaca Menumbuhkan rasa percaya diri manusia dalam berkarya Berkelana dalam dunia maya, sambil ngopi Seraya berada di pucuk mimpi Lupakan sejenak hal-hal yang mengusik hati O' dunia... izinkan aku malam ini Memeluk dan bercinta dengan kekasih imajiku, sampai pagi Sampai di sini kita bisa melihat, betapa puisi telah memberikan ruang ekspresi yang begitu luas tak bertepi bagi kaum perempuan penyair dalam buku ini, untuk mengeksplorasi dirinya tanpa risih dan tanpa kuatir menjadi vulgar justru sebaliknya ada upaya-upaya untuk mencuatkan kesadaran baru tentang keindahan (sublimasi) yang merupakan hasil peleburan realitas, imaginasi dan fantasi. Dengan demikian, menurut saya, pilihan mereka untuk menulis dalam bentuk puisi dan bukan dalam bentuk menulis prosa, merupakan pilihan cerdas, dan bukan by accident. Ini diakui sendiri oleh Dewi Maharani dalam blognya yakni, puisi adalah ‘untuk meliarkan imajinasi untuk lebih berarti.’ Maka dalam perlindungan bentuk puisi itu, kita tak perlu gundah bila menemukan kata-kata seperti ‘persetubuhan’, ‘susu’, ‘payudara’, ‘pelacur’, ‘kutang’, ‘masturbasi,’ ‘onani’,‘senggama’, ‘persetubuhan’ dan lain sebagainya dalam puisi-puisi mereka. Jangan risau pula bila kita juga bisa menemukan penggunaan kias atau metaphora, frasa-frasa, padu-padan kata maupun bahasa ungkap yang mereka gunakan yang ‘terasa baru’ sekaligus mengejutkan. Misalnya, sepasang kelamin, kebencianmu seperti seribu panah menusuk mataku, di kecipak air susuku, mengurangi ejakulasi dini menulis dan membaca, ketika payudara sudah tak berkutang, di antara dua kakimu aku bersembunyi, sebelum sejarah mengancingkan celana, cinta lantas mengerut serupa desakan renjana, logika terlempar di sumur tua dll. Ini mengingatkan saya pada kata-kata Remy Silado: bahasa puisi dapat saja diambil dari ungkapan sehari-hari, bahkan yang dianggap jorok sekalipun. Yang penting adalah puisi yang tercipta dapat menggugah kesadaran masyarakat atau tidak, berfaedah bagi masyarakat atau tidak. Bagi saya sendiri, ibarat sebuah kamera, buku ini sejak awal memang ‘hanya’ bermaksud mengabadikan karya-karya ke-10 penyair yang biasa menulis di Facebook secara moment opname belaka. Maksudnya, agar karya mereka yang selama ini hanya bisa kita baca dalam sebuah pergerakan tanpa jeda dalam situs jejaring sosial yang canggih itu, bisa tampak lebih tampak jelas. Syukur-syukur bagi penyairnya sendiri, buku ini bisa dijadikan ajang berkaca diri tentang kualitas karyanya dibanding rekan-rekan seangkatannya. Maka jika buku puisi ini diibaratkan sebuah rimba, dan kita, para pembaca adalah para pemburu, --mengutip pendapat penyair Wayan Sunarta, mudah-mudahan setelah membaca buku ini, kita mendapatkan buruan di dalamnya. Bagaimana kalau tidak? Percayalah, puisi-puisi akan terus dituliskan dengan penuh kegembiraan dan kegairahan, mungkin seperti puisi Weni Suryandari melalui puisi pendeknya PUISI CINTA yang liriknya sangat kuat, yang mengatakan: Jika yang kutulis adalah puisi cinta, aku tak kan kehabisan tinta Betapa pun, puisi-puisi karya 10 penyair perempuan yang ditayangkan melalui Facebook ini, telah berhasil memberi makna pada kehidupan mereka sendiri dan mudah-mudahan juga kita. Dari sinilah apresiasi saya diberikan. Terimakasih juga untuk Eviwidi, dan pihak penerbit, yang kebetulan memiliki apresiasi yang sama sehingga dengan senang hati berkenan menerbitkannya; serta para endorser: Medy Loekito, Heru Emka, Leonowens SP dan Trie “Iie” Utami, yang membuat buku ini jadi lebih bernilai. Kepada para penyair, I love you full, senang bekerjasama dengan Anda semua! Selamat membaca. Serpong, 4 November 2009 |