Konser
    
Setiap anak manusia berhak punya ambisi. Berhak menempuh cara-cara sesuai rencananya yang dianggapnya “benar”.
Demikianlah Fajar. Seorang Pianis handal yang akhirnya menikahi Elise,
putri seorang konglomerat yang bisa memuluskan jalan panjang menuju
impian terbesarnya; Konser tunggal. Dan tentu saja, tanpa ada cinta di
dalamnya. Di Simfoni Bintang, tempatnya bekerja, Fajar dipertemukan dengan
seorang pemain biola muda, cantik, berbakat dan memiliki kehidupan yang
kurang beruntung. Mantan orang kaya. Dalam kehidupan rumah tangganya
yang penuh basa-basi dan kepura-puraan, Fajar jatuh cinta pada Kirana
yang masih polos dan membutuhkan uluran tangan.
Hidup Fajar terbelah menjadi dua dunia. Dunia rumah tangganya yang
laksana panggung drama, dan sebagai pemeran utama Fajar harus memainkan
peran dengan penuh kehati-hatian, tak boleh ada kesalahan sedikitpun.
Dan dunia tuntutan hati untuk mengungkapkan cinta sejatinya pada Kirana. Sepertinya terdengar sangat klasik. Sesuatu yang klasik, selalu mengandung kekuatan dan kelemahan. Yang
pertama tentu saja dia bisa abadi dan tak lekang dimakan jaman. Yang
kedua, adalah membosankan. Kisah novel Konser ini, memiliki kans untuk menjadi novel klasik,
entah nanti bisa abadi atau tidak, itu sepertinya hanya waktu yang akan
menjawabnya. Dalam balutan suasana dunia konser musik klasik yang memainkan musik semacam karya Beethoven – Concerto, karya Bach- Minuet #1, karya Mozart – Plaisir d’Amour,
dan lain-lain kisah novel ini dibangun. Jadi jika Anda penggemar
musik-musik klasik, atau sedang mencari literature tentang musik
klasik, Anda kemungkinan besar akan menyukai novel ini. Penulis dengan
hati-hati menulis setiap bagian yang mengetengahkan adegan-adegan yang
melibatkan karya-karya klasik tersebut saat dimasukkan untuk menguatkan
bagian cerita. Dan karena ini berhubungan dengan konser musik klasik, segala
sesuatu seperti hal-hal detil tentang konser, juga tak luput dari
penceritaannya. Konflik antar pemerannya yang dibuat sedemikian halus namun cukup
menusuk perasaan, tidak sampai mengantarkan pembaca untuk sampai
menitikkan air mata. Terkadang malah penulis kelihatan terlalu
hati-hati dalam mengungkapkan setiap peristiwa. Sehingga, emosi yang
terbangun tidak pernah sampai puncak. Pengetahuan tentang musik klasik, patut diacungi jempol. Penulis
sudah sangat akrab dengan dunia musik klasik sepertinya. Tak banyak
buku fiksi yang mengetengahkan tema musik klasik, utamanya pada
novel-novel produk Indonesia. Novel Konser, adalah salah satu yang
mengambil bagian kosong tersebut. Berhubung tidak ada keterangan tentang jati diri penulis, atau
karya-karya selain novel ini (ataukah novel ini karya pertamanya?) jadi
tidak bisa untuk mengulas atau sedikit membandingkan karya-karya yang
telah dibuatnya. Jika ini karya pertamanya, ini karya yang tidak bisa dibilang jelek.
Meskipun bukan sesuatu yang sangat bagus. Tapi untuk debut awal, ini
adalah awal yang bagus. Penulis, sangat indah menuliskan
deskripsi-deskripsi juga diksi. Dan sepertinya inilah salah satu
kekuatannya. Coba simak salah satu deskripsi berikut: “Rencana ternyata tidak berjalan semulus harapan. Kepergian
Elise yang tiba-tiba seperti tumpahan tinta gelap di atas sketsa
lukisan masa depannya. Menimpa dan menutupi semua garis rancangan yang
hanya tinggal diwarnai.” (hal. 263) Juga pilihan diksinya: “Jangan asamkan masa mudamu yang manis dengan kecutnya pesimisme Kirana.” (hal. 110) Cinta pada musik klasik, mengantarkan Fajar menjalani cinta
pura-pura untuk mencapai impiannya. Cinta pada Kirana mengantarkannya
pada penyesalan akan cintanya pada Elise. Jadi, cinta yang bagaimanakah
yang Anda ingin jalani |