Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Oleh: Dr. Sabariamsyah, S.Pd, M. Hum
(Praktisi Pendidikan di Jepang)
Berbagai peristiwa penting atau berkesan dalam kehidupan, menjadikan setiap orang akan selalu berbeda cara dalam...
Buku ini dilatarbelakangi oleh gambaran problematika moneter & perbankan di negara Amerika Serikat, walau runtutannya disampaikan secara singkat namun terasa utuh untuk memahami betapa bahayanya...
(Honeymoon with My Brother Jilid Dua) Cinta itu seperti angin ... Kita tidak melihatnya, tapi selalu bisa merasakannya. Penulis buku laris Honeymoon with My Brother kembali bertualang keliling dunia untuk belajar tentang cinta dan mencari cinta sejati ... Jika Anda dicampakkan di altar oleh calon istri Anda yang telah dipacari selama 10 tahun dan terpaksa “berbulan madu” dengan adik lelaki Anda, apa yang akan Anda lakukan agar bisa kembali percaya pada cinta?
Dalam buku keduanya ini, Franz Wisner—sang pecundang cinta yang berhasil menemukan hikmah tersembunyi dari kisah putus cintanya—kembali menuliskan pengalamannya berkeliling dunia. Kali ini dia bertualang dengan satu misi: mencari pelajaran cinta paling penting dari berbagi penjuru dunia demi menyelamatkan hidupnya dari reruntuhan kehidupan asmaranya.
Dari karnaval penuh gairah di Brasil dan keunikan India hingga eksotisme Mesir dan Eropa Timur, setiap petualangan Wizner bersaudara membuka mata kita akan keajaiban cinta dan kekhasan gaya menjalin asmara di berbagai negeri, diwarnai dengan aneka kisah seru yang mereka alami.
Bagaimanakah akhir petualangan sang pecundang cinta? Pelajaran cinta apakah yang didapatnya dari berbagai penjuru dunia? Berhasilkah dia menemukan cinta sejatinya?
How the World Makes Love adalah kisah luar biasa tentang pencarian manusia akan kebahagiaan dan cinta sejati yang berakhir mengejutkan. Lucu, menyentuh hati, dan sekaligus sangat menghibur, buku ini tidak hanya bakal memancing hasrat bepergian Anda, tapi juga akan membuka mata hati Anda tentang hakikat cinta.
Coba Anda bayangkan; ketika sore hari saat duduk-duduk santai nonton
tv, kekasih wanita Anda di lain ruangan yang akan berangkat mandi
berseru “Aku mau mandi, kau mendengarku?”
Bila sesama perempuan normal, akan terdengar biasa saja, tapi bagi pria ternyata bisa dikonotasikan bermacam-macam.
“Apakah itu ‘kau mendengarku’ yang berarti ‘apa kau mengabaikanku’ atau ‘kemarilah dan bercinta denganku di kamar mandi?”
Ow..ow…..ternyata begitulah yang ada di benak pria.. jadi
berhati-hatilah wahai wanita jika melontarkan kalimat pada pasangan
Anda..:)
Hal itulah yang diungkapkan Franz Wisner dalam bukunya How The World Makes Love. Buku keduanya setelah Honeymoon With My Brother yang rencanaya akan difilmkan.
Kali ini kepergian Franz keliling dunia, bukan untuk mengobati luka hati akibat insiden Runaway Bride-nya
akan tetapi justru ingin tahu dan menguak kisah cinta dan
perilaku-perilaku percintaan di Negara-negara lain, sayangnya Indonesia
tidak termasuk..:(
Mulai dari Los Angeles, Brazil, India, Nikaragua, Republik Cheska, Mesir, Selandia Baru dan Bostwana.
Petualangannya di India tentu sangat menarik. Apalagi kalau bukan
mengulik tentang KAMA SUTRA…. Di Negara “Kuch-kuch hota hai” itu dari
awal penerbangannya saja sudah menggelitik. Sambil melirik teman
duduknya di pesawat seorang wanita Korea dan menunggunya tidur, dia
pelan-pelan mengambil buku Kama Sutra yang dibawa di rangselnya. Lalu
setelah teman perjalanannya itu yakin terlelap, mulailah dia “mereview”
buku Kama Sutra. Mungkin ini tidak masuk akal, tapi ketahuilah bahwa
Vatsyayana penulisnya, ternyata meninggal masih dalam keadaan perjaka!
What??!! Dunia ini memang aneh..
Tidak hanya tentang Kama Sutra, tapi di India Franz juga mempelajari
kultur percintaan di sana, yang ternyata orang India sendiri tidak
begitu peduli dengan Kama Sutra, bahkan saat Franz menanyakannya, salah
satu kenalannya yang orang India berkata dengan santai saat
menceritakan ketika malam pertama pernikahannya: “Aku sudah menonton banyak film porno sebelumnya. Semua pria India melakukannya.”
Meskipun India bisa dikatakan adalah Negara penuh cinta, namun semua tak ada artinya jika India kalah dalam pertandingan Kriket.
Selain India, perjalanan ke Negara-negara lain juga tak kalah
menariknya. Dan selain menceritakan perilaku percintaan di
Negara-negara lain, tak lupa Franz juga punya “oleh-oleh” yaitu
berbagai nasihat cinta dan kalimat-kalimat paling gombal di dunia
hehehe… Dalam rentang waktu perjalanan ini, Franz juga tengah menjalin kembali
asmaranya yang sempat kandas hingga mengantarkannya menjadi penulis
“Honeymoon with my brother” kali ini dengan single parent, Ibu seorang
putra berusia 4 tahun, Tracy.
Karena model kisah cinta mereka sering terhalang jarak karena
perjalanan Franz keliling dunia, maka diceritakan mereka sering
berkomunikasi lewat email. Jadi nantinya Anda akan bisa membaca
email-email perjalanan cinta antara Franz dan Tracy..
Selain perjalanannya yang sangat menarik, kisah cinta Franz dan Tracy
juga tak kalah menarik. Bagaimana Franz harus beradaptasi dengan
Calvin, putra Tracy hingga surprisenya Franz saat Calvin untuk pertama
kalinya memanggilnya “Dad..”
Membaca buku ini, akan membuka wawasan Anda untuk lebih memahami
pasangan, dan mengungkap apa yang ada di benak seorang pria.
Kisah-kisah cinta mereka yang disajikan sebenarnya sangat “keseharian”
namun kadang kita luput untuk sekadar memperhatikannya.
Humor-humor Franz yang khas juga tak lepas di buku ini. Selain
bercerita, Franz juga banyak memberikan tips-tips dan sepertinya sedang
“memberi nasihat”.
Bagi Franz, Tracy adalah seorang wanita memesona. Bukan karena cantik
bak Cleopatra, atau berdada sentosa laksana Pamela Anderson. Tapi
karena Tracy adalah seorang Ibu yang hebat. Kualitas dari cara Tracy
menjalani kehidupannya, dari mulai cara menggendong Calvin, membelikan
bajunya sebelum membeli baju untuk dirinya sendiri. Dan Tracy merasakan
sakit saat Franz merasa sakit, tertawa bahkan mungkin leluconnya tidak
lucu sama sekali, dan terus memberi hingga tak ada lagi yang bisa
diberikannya. Yang lain tidak penting.
Perjalananya di India dan Arab juga Calvin, mengajarkannya konsep cinta
yang bisa ditumbuhkan. Lupakanlah fantasi tentang belahan jiwa dan hari
pernikahan sebagai puncak prestasi cintamu. Pilihlah dengan bijaksana.
Mintalah persetujuan keluargamu, setelah itu, lakukanlah.
Membaca buku ini, Anda tidak akan sampai keramas kok, tapi kalau kepala
Anda gatal, dan rambut Anda lepek berarti memang sudah waktunya Anda
keramas…:p