Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Oleh: Debby Gontha
(Pengusaha dan Penikmat Sastra)
Begitu banyak kisah yang telah terjadi di dalam waktu. Kita menjalani hari-hari dalam waktu. Seringkali kita juga diburu oleh...
Oleh: Dr. Sabariamsyah, S.Pd, M. Hum
(Praktisi Pendidikan di Jepang)
Berbagai peristiwa penting atau berkesan dalam kehidupan, menjadikan setiap orang akan selalu berbeda cara dalam...
Gilli tertawa. “Keras kepala boleh, Kawan. Semua Saada memang begitu. Aku maklum. Tapi, jangan lalu kau jadi bodoh! Sudah delapan pemimpin mati. Kau kira ini perseteruan biasa?” Perkataan Gilli membuat Ferry berpikir ulang. Sejak lama ia memang merasa janggal dengan kematian beruntun para pemimpin Sindikat 12, tetapi ia seakan dibutakan oleh kebenciannya terhadap Geng Gilli sehingga mengabaikan kecurigaannya itu. “Hubungi Blur. Minta dia kumpulkan Sindikat 12,” kata Gilli lagi.
Jangan terkecoh dengan kavernya. Meskipun desainnya mengingatkan kita akan koran-koran yang berisi berita-berita kriminal, dengan kertas buram dan cetakan yang sering kita jumpai kadang tintanya berceceran. Metropolis bukanlah nama sebuah koran. Sampai halaman 10 pembaca belum diberi tahu, apa sebenarnya Metropolis itu. Windry memberi tahu bahwa Metropolis adalah nama sebuah pub, ketika pembaca sampai di tengah buku.
Novel ini, masuk dalam kategori drama kriminologi. Kisah yang diangkat adalah seputar dunia narkotika, mafia,konspirasi, ditambah dendam dan sedikit unsur roman. Sebuah kategori yang sangat jarang dimasuki oleh penulis-penulis lain di negeri ini. Jadi bisa dibilang ini salah satu genre yang layak untuk dicermati. Dengan riset yang lumayan, Windry mengajak pembacanya untuk menikmati cerita kriminal lokal dengan tokoh-tokoh yang unik dan tidak hitam putih.
Jika Anda sering membaca komik detektif Conan, kisah teka-teki pembunuhan tentu sudah tidak asing lagi. Adalah Agusta Bram, seorang polisi yang menjadi tokoh utama dalam cerita Metroplis ini. Latar belakang Bram hanya disampaikan sekilas oleh penulisnya. Bahwa dia adalah anak dari seorang pecandu narkoba yang mati ditembak karena tidak bisa bayar utangnya. Ibu Bram meninggalkannya saat masih kecil dan belum mengerti hidup itu untuk apa, bersama seorang ayah pecandu yang akhinya mati saat Bram juga masih belum terlalu besar untuk bisa hidup mandiri. Tidak diceritakan bagaimana dia bisa masuk kepolisian.
Di kepolisian ini, Bram masuk dalam divisi Sat Reserse Narkotika Polda Metro Jaya. Agak aneh, di sini diceritakan Bram masuk kesatuan ini karena permintaan sendiri, bukan ditugaskan oleh atasannya. Tapi sudahlah namanya juga fiksi. Alasan masuknya Bram di kesatuan itu tidak lepas dari latar belakang kehidupannya yang merupakan korban dari efek buruk narkoba yang telah mencerai beraikan keluarganya. Dan kematian ayahnya, “Demi ayahku yang sudah mati…” yang juga tertulis di bagian depan buku ini, tapi tentu saja hal itu tidak disampikan secara eksplisit kepada atasannya. Bram bukan polisi yang ”bersih” dalam artian bukan polisi yang lurus menunaikan tugas sesuai buku panduan, mematuhi atasannya dan bukan yang terbiasa mengatakan “Siap Pak” atau “Siap Komandan” bila mendapat tugas dari atasannya seperti yang sering kita temui di Film maupun cerita kehidupan nyata. Tapi dia memiliki caranya sendiri. Dia bisa berkompromi dengan penjahat buruannya bila dia bisa memberikan sesuatu yang setimpal, semisal informasi penting di dunia narkotika.
Alkisah, ada 12 sindikat geng narkoba yang menguasai wilayah Jakarta. Sindikat ini sangat kuat selama beberapa tahun dan tidak tersentuh hukum. Namun saat ini beberapa pemimpin geng tumbang satu persatu dengan kematian yang tidak wajar. Salah satu pemimpin geng yang cukup disegani, Leo Saada penguasa wilayah 10, mati di jalan tol karena kecelakaan. Tentu bukan kecelakaan biasa. Setelah sebelumnya pimpinan geng besar yang lain penguasa wilayah 11, Maulana Gilli terkena luka tembak dari jarak jauh. Awalnya ada analisa Gilli mati karena di tembak geng Saada, karena hal itu sudah biasa, perang antar geng yang berujung saling bunuh lawan. Tapi begitu Leo Saada meninggal, kemudian disusul kematian Ambon Hepi penguasa wilayah 4, maka indikasi dan teka-teki adanya pihak luar yang ingin menghancurkan sindikat 12 semakin kuat. Bram semakin ingin menguak apa yang sebenarnya terjadi. Selama masa penyelidikan itu, ada pergantian pimpinan di tubuh kesatuannya. Pimpinan yang lama Moris Greand pensiun dan digantikan oleh Burhan D. Saputra yang “kebetulan” adalah seteru Bram. Jadi jangan heran nanti Bram tidak pernah mermanis-manis kata selama berdialog dengan atasannya ini.
Selama pengungkapan kasus pembunuhan geng-geng narkotika ini, Bram ditemani asisten, seorang Polwan bernama Erik. Satu demi satu petunjuk diselidiki. Dimulai dengan seorang wanita bernama Miaa (ingat pakai ‘a’ dobel) yang selalu muncul dalam setiap kasus kematian pimpinan geng tersebut. Miaa diketahui ternyata adalah mantan polisi yang pernah juga menangani kasus narkotika namun dipecat oleh atasannya. Kematian demi kematian itu akhirnya membuat para pimpinan geng merasa ada sesuatu yang harus dibicarakan. Akhirnya pimpinan pengganti serta pimpinan asli yang tersisa dari geng 12 itu melakukan pertemuan secara rahasia. Bram ikut dalam pertemuan itu secara sembunyi-sembunyi atas tawaran Ferry Saada (pengganti Leo Saada). Tapi akhirnya pertemuan itu tidak mencapai kesepakatan apapun karena Blur, pemimpin wilayah 6 ternyata mengetahui keberadaan Bram di pertemuan itu. Bram lolos dari sindikat itu karena dijamin oleh Ferry. Masalah semakin rumit, dan petunjuk-petunjuk baru bermunculan apa yang sebenarnya terjadi?
Inilah novel kriminal karya penulis negeri sendiri yang cukup menarik. Jika Anda telah membaca The Godfather, komik detektif Conan dan lain-lain punya orang luar, keberadaan novel ini seperti angin segar dalam dunia penulisan novel Indonesia. Windry dengan berani mengambil cerita tentang kepolisian yang selama ini jarang disentuh. Terlepas dari beberapa hal yang agak aneh, karena membaca novel ini, jika dibayangkan seperti menonton film-film semacam Remington Steel, The X-File,Hunter atau NYPD Blue. Jadi sepertinya tidak benar-benar kondisi riil bagaimana cara polisi kita menangani kasus narkotika. (Apa karena Windry tidak berani?).
Dan seperti yang dikatakan Bram saat menginterogasi Miaa perihal keberadaan Miaa di lokasi kejadian ketika Soko Galih, penguasa wilayah 9 yang mati karena dilempar dari jendela,”Jangan bilang itu cuma kebetulan, Miaa. Aku tidak akan percaya. Aku melihatmu pada pemakaman Leo, juga di kompleks Ambon Hepi terbunuh. Kebetulan tidak terjadi tiga kali. Tiga kali terlalu banyak.” (hal.75). Kesalahan penulisan ‘frustasi’ yang seharusnya ‘frustrasi’ muncul di halalaman 167,215,234,239 dan 320. Kalau itu suatu kebetulan (kebetulan salah ketik maksudnya), dia tidak akan muncul 3 kali bahkan lebih, iya kan Windry?
Masalah dunia narkotika yang seharusnya menjadi topik utama, sepertinya juga masih kurang dalam penyampaiannya, jadi nyaris keberadaanya masih seperti yang orang awam ketahui. Barangkali jika sedikit diungkap seluk beluk narkoba, juga efek buruk narkoba dan dampaknya di masyarakat dan keluarganya (selain cerita ayahnya Bram) mungkin akan lebih mengena. Tapi memang sepertinya yang menjadi fokus utama novel ini adalah cerita intrik antar geng dan permasalahan orang-orangnya, bukan narkotikanya dan efek buruknya. Ya itu sah-sah saja. Yang jelas buku yang satu ini sangat sayang untuk dilewatkan.
Dengan gaya penulisan kalimat yang pendek-pendek, tulisan Windry terasa lincah dan tidak membosankan. Sebagai orang awam, saya berharap semoga Windry mau menulis lagi kisah kepolisian yang lain dengan sentuhan lokal dan menyampaikan bagaimana yang sebenarnya cara kepolisian kita menangani sebuah kasus.
Resensi Pembaca
Metropolis Oleh: Arimbi - 05 June 2009
Seperti Agusta Bram, tokoh polisi di novel ini, saya punya alasan pribadi untuk "tertarik" pada narkoba. Ketertarikan yang bermula dari dendam dan tidak mengerti. Tiga teman saya mati kena barang itu. Saat itu paruh kedua era 1990-an. Psike anak muda Jakarta/Indonesia masa itu menurut saya sedang dipengaruhi oleh dua hal besar: 1) globalisasi yang mulai merajalela dalam bentuk merebaknya mall2, kafe2, dan budaya dugem yg menghadirkan kebaruan2 yang belum ada presedennya dalam kehidupan sosial anak muda. (Dan seperti barang2 lainnya, globalisasi juga menghadirkan variasi narkoba yang lebih beragam dan terjangkau); 2) kemuakan terhadap tatanan yang ada, yang tertuang misalnya dalam musik dan budaya alternatif (ingat Trainspotting), filsafat posmo, dan mulai mengerucutnya perlawanan thd Orde Baru.
Di satu sisi ada pemberontakan, di sisi lain ada semacam penyalurannya. Sering saya berdebat dengan teman2 junkies saya apakah narkoba bisa disebut penyaluran bagi pemberontakan. Tapi percuma. Memplesetkan Marx, saat itu adalah masa ketika "candu adalah agama masyarakat", di tiap diskotik, di tiap pesta, triping adalah kewajaran. Kos saya terletak persis di sebelah sebuah diskotik dangdut di kawasan Jakarta Pusat. Tiap malam saat saya nongkrong makan di warung, narkoba dalam segala jenis diedarkan bebas di antara cewe2 atau tamu2 di situ yang sedang menggerombol di warung2 makan. Hukum benar2 tak berjalan, sekalipun polisi sering mampir ke diskotik itu (minta setoran tentunya). Itu yang bikin saya marah pada teman2 junkies saya: di siang hari kami melawan Soeharto dan Cendana, malamnya kawan2 menenggak obat2an yang kita tahu duitnya mengalir masuk ke Ari Sigit dan istrinya.
Saya makin marah setelah dua teman saya mati OD. Saya takkan lupa bgmn barang itu menggerogoti dengan cepat manusia dan kemanusiaan. H —sebut saja demikian, teman ketiga saya yang nantinya mati— adalah yang terjenius di antara kawan2 sekampus. Makin larut ia dalam obat, makin tumpul juga kepekaan dan penalarannya. Sampai akhirnya, saat sedang sakaw berat, kami tarik ia beramai2 ke kamar kos saya. Kami kurung dan rawat ia, mandikan, ceboki, suapi. Secara teori, kalau dalam 3 hari ia bisa mengatasi sakawnya, ia sembuh. Kalau tidak ya ia mati, tapi paling tidak ia tidak mati tergeletak begitu saja di jalanan.
H sembuh. Tapi tak lama. Kecanduan keduanya lebih parah. Ia sudah tak ingat teman. Walkman saya —sedikit dari harta yg saya miliki sebagai mahasiswa— raib diembat dan dijualnya. Beberapa kawan yang ikut merawatnya memutuskan talak tiga: tidak mau mengenalnya lagi. Persetan ia mau mati atau tidak. Sebagian teman lainnya masih bersabar. Kami pulangkan H ke rumah ibunya di Serang. Kembali di sana ia dikurung dan dirawat, kali ini oleh keluarganya. Rutin kami menerima kabar dari sang ibu. Awalnya, beliau bercerita, saat dikurung dalam keadaan sakaw di kamar, H nekat menenggak parfum2 yg ada di kamar itu (!!) Setelah beberapa bulan keadaan H membaik dan bahkan ikut pesantren. Namun entah bagaimana ia terjerat lagi dalam lingkungan yang sama dan akhirnya tak tertolong.
Dan sekarang pun saya menjadi pendukung hukuman mati buat pengedar narkoba, dan seringkali harus adu argumen dg kawan2 baik saya sendiri para aktivis HAM yg menentang hukuman mati. Saya tahu siklus kekejian ini harus diputus, tapi para pengedar itu benar2 seperti bukan manusia buat saya. Mereka pasarkan narkoba ke anak2 SD dalam kemasan bentuk permen dan coklat. Ya Tuhan, apa yang ada di pikiran mereka? Indonesia macam apa yang hendak mereka buat dari orang2 bermata kosong yang menggigil terus menerus? Ada satu adegan dalam film Trainspotting yang paling mengganggu saya dan kerap hadir bagai mimpi buruk: yakni adegan bayi yang menangis terus menerus karena kelaparan tapi tak ada yg peduli karena si ibu dan kawan2nya dlm komunitas junkies itu sedang asyik teler. Saat mereka sadar, kurang lebih satu setengah hari kemudian, si bayi sudah terbujur kaku.
Agusta Bram, seperti saya, juga terobsesi oleh masa kecil saat ia melihat ayahnya yang teler dibunuh oleh pengedar karena tak mampu membayar utang2nya. Tapi sayang, cuma itu saja yang kita ketahui dari masa lalu Bram. Kita tak tahu bagaimana ia dibesarkan sampai menjadi polisi, atau apa yang membentuk karakternya sampai jadi begitu tangkas dan cerdas. Kita tak tahu mengapa ia tak dendam pada ibunya, atau terkenang ibunya, atau mencari ibunya (ibunya sudah tak tahan dan pergi meninggalkan begitu saja ayahnya yang junkies tanpa membawa serta Bram kecil). Bruce Wayne kecil juga melihat orang tuanya dibunuh, namun para penulis dan ilustrator Batman mengolah dan mengisi masa-masa itu dengan kecamuk psikologis yang mendalam sampai membuat Batman akhirnya terasa jadi masuk akal bagi kita.
Namun Windry tak menyediakan gambaran itu. Sayang memang.Tapi bisa jadi ini bukan kesalahan Windry, melainkan karena genre yang dipilihnya (novel laga atau thriller) memang lebih mementingkan plot sebagai pembangun struktur cerita dan bukan melalui pendalaman karakter. Karena itulah, Metropolis bagi saya sungguh mengasyikkan buat dibaca karena plot yang cepat dan menegangkan, namun untuk bisa menikmati itu beberapa ganjalan logika yang ada memang harus ditepikan terlebih dulu barang sementara.
Dalam karya fiksi orang bisa menulis dan mengkhayal apapun asalkan meyakinkan. Di situ terjadi negosiasi terus menerus antara kadar fiksi dan fakta, mana yang bisa dikarang dan mana yang harus kukuh berpijak pada kenyataan. Metropolis sangat menarik sebagai karya fiksi dan sebagai indikator umum perkembangan kepenulisan Windry. Windry telah melakukan risetnya dengan cukup cermat untuk novel ini, namun ada beberapa hal krusial yang buat saya sepertinya lalai dicermati:
1) Bram tidak mungkin meminta dan memilih akan ditempatkan di divisi mana dalam kepolisian. Apalagi tanpa menjelaskan alasannya dan atasannya bisa menerima begitu saja. Tradisi Polri adalah tradisi penunjukan berdasarkan berbagai pertimbangan para petinggi Polri (bahkan Kapolda pun ditunjuk langsung oleh Kapolri hendak ditempatkan di mana). Gaya kerja Bram, interaksi dengan atasan dan mitranya, Erik, membuatnya seakan bekerja di LAPD dan bukan Polda Metro Jaya, membuatnya jadi seperti Mulder dan Scully atau Hunter dan Deedee McCall dan bukan perwira polisi Indonesia. Metode penanganan kasus dan sistem kelompok kerja/kemitraan dalam Polri bukan seperti itu.
Andai Windry mengurangi stereotip2 kepolisian ala LAPD dan lebih berpijak pada realitas keseharian Sat Reskrim atau Narkotika Polda Metro Jaya, saya kira Metropolis bisa memberi sumbangsih penting pada khazanah novel detektif/kepolisian kontemporer dunia. Kita tahu, penulis2 macam Qiu Xiaolong (Cina), Paco Ignacio Taibo II (Meksiko), Luis Alfredo Garcia-Roza (Brasil), Henning Mankell (Swedia), Manuel Vazquez Montalban (Spanyol/Katalunya) mengolah genre cerita detektif/kepolisian dg kekhasan masing2 negerinya, dalam arti: masalah sosial-politik yang dihadapi polisi di tiap2 negara itu berbeda2 dan itu bisa terbaca jelas di sana. Qiu Xiaolong misalnya, memakai korupnya birokrasi Partai Komunis Cina sebagai latar ceritanya, sementara Garcia-Roza menyinggung masalah2 korupsi, kemiskinan, dan anak jalanan khas Dunia Ketiga. Indonesia jelas punya segudang masalah untuk diolah jadi bahan cerita (kadang saya berpikir, dengan jatah bensin cuma 5 liter sehari buat tiap Polres, bgmn polisi mau menangkap penjahat ya? Tapi nyatanya masih bisa juga tuh polisi membongkar pabrik / sindikat narkoba, berarti ya hebat juga sebenarnya polisi kita dg segala keterbatasan anggarannya).
2) Dunia gelap kriminalitas rekaan Windry ini adalah dunia yang anehnya justru tampak terang-benderang, dalam arti: beberapa tokoh utamanya tidak pernah mengganti nama atau memakai nama samaran sejak kecil! Ini juga mustahil. - Miaa misalnya (dengan dobel a, bukan tripel a seperti kiper cantik kita), sejak kecil di Kaliurang dipanggil Miaa, di kepolisian Miaa juga, dan setelah lepas dari itu masih bernama Miaa, bahkan kepada ibu kosnya dan administrasi RSJ ia juga memakai nama Miaa. - Johan Al juga. Tokoh satu ini jelas harus berganti2 nama. Tidak mungkin sejak kecil ia memakai nama itu, di paspor dan daftar penumpang juga memakai nama Johan, di klinik memakai nama Johan, bahkan di YM sekalipun memakai id johan_al (seperti halnya Aretha dan perusahaan cuci uangnya MOSS memakai id mo55). C'mon Wind, bahkan kamu pun pakai miss_worm dan teen_worm kan? Dan kita semua tahu panda kesayangan kita Amang Suramang sama sekali bukanlah Amang Suramang. hehe..
Terakhir, soal kecil namun berpengaruh pada kesempurnaan buku: banyak salah penggal kata di akhir larik-larik kalimatnya. Dan juga, frustrasi tertulis secara rata di buku ini sebagai frustasi (yuhuuu, editor?)
Biar makin absurd, review ini akan saya tutup juga dengan "Frustrasi", satu lagu dari Bang Iwan yang juga berkisah tentang madat: *ambil gitar, genjreng2*
Generasiku banyak yang frustrasi Broken home istilah bule-bule luar negri Mereka muak, Lihat papi mami bertengkar Mereka jijik, Lihat papi mami selalu ke luar Ada urusan yang tak masuk di akal Mami sibuk cari bujangan Papi sibuk cari perawan
Timbang kesal Lebih baik aku berkhayal Jadi orang besar Seperti Hitler yang tenar Jadi orang tenar Persis Carter juragan kacang......
Mata cekung Badan persis capung Tingkah sedikit bingung Pikiran mirip-mirip orang linglung Rambut selalu kusut Disuruh selalu manggut-manggut Duduk di sudut Hai, kasihan itu tubuh tinggal tulang sama kentut
Hai, mister gele Lu tega mata gua kok nggak bisa melek Hai, mister gele Duit gope gua kira cepe Hai, mister gele...... Perut laper ada tape Pas gua sikat asem-asem Nggak taunya... tele
-----------------------------------
Diambil dari thread Goodreads, review oleh Ronny.
http://www.goodreads.com/review/show/54348185.
Metropolis Oleh: Arimbi - 02 June 2009
Enzim Wajah Sampul
Bisa dikatakan, novel ini satu dari tidak banyak buku yang 'menjerat' saya dari sudut tampilan kulit luarnya. Senyawa judul singkat yang mengundang rasa ingin tahu dalam dosis tinggi beserta gambar-gambar yang terhidang di sana mendentingkan semacam lonceng bahwa Metropolis layak dikonsumsi.
Menyimak bab pertama, muncul dugaan bahwa Metropolis bukanlah kata sifat yang menggambarkan hiruk-pikuk keseharian kota besar semata, melainkan menyangkut kepolisian. Tetapi lambat-laun terungkaplah bahwa Metropolis adalah sebuah pub, tempat saya dan juga Anda - para pembaca lainnya - dapat menemukan karakter-karakter yang membiakkan cerita, antara lain Bram, Aretha, dan Miaa.
Protein dalam Pembuluh Kisah
Fiksi yang tidak bertutur melulu soal cinta dan melodrama relatif jarang di etalase perbukuan kita. Penulis wanita yang mampu menghayati karakter pria pun sukar dijumpai. Windry Ramadhina adalah satu dari yang sedikit itu. Ia mengajak kita menelusuri sendi-sendi jaringan bisnis narkoba dari dalam. Polisi yang tak kunjung membekuk tersangka demi hasrat menggulung seluruh sindikat meski bukti ada di tangan, negosiasi dari informan ke informan, persekutuan yang menyamarkan penegak hukum dengan pelaku kriminal, dipaparkan dengan deskripsi prima yang mengingatkan pada film-film mafia berikut zat kegelapan dan ketegangan. Tak ada komponen yang patut ‘dipinggirkan’, misalnya Indira yang merupakan sumber penawar sakit dalam tubuh Johan Al dan Erik yang dinamai seperti lelaki kendati ia wanita tulen.
Dialog karakter satu dengan lainnya dikomposisi secara tidak biasa, misalnya ketika seseorang telah berada di ujung maut, menunjukkan kerja keras penulis untuk menghimpun karya yang sama sekali berbeda dengan Orange - novel terdahulunya sebagaimana diungkapkan dalam blognya ini. Oleh karena itu, sejumlah typo yang terserak [contohnya ‘konseksi’ di halaman 110, yang kemungkinan besar meleset dari ‘koneksi’] tidak menimbulkan efek samping yang membuat saya tersendat mencerna. Bahkan terasa mengasyikkan menyantap aneka pengetahuan perihal ST1571, obat kanker kronis yang sangat mahal sehingga penyakit ganas ini tak kunjung berhasil diperangi. Kemudian mengenai air yang merenggut nyawa seseorang bila disuntikkan ke dalam pembuluh darah serta masih banyak lagi informasi lainnya.
Sebagai seseorang yang pernah berprofesi sama, ia tahu polisi kerap melakukan hal semacam itu ketika mereka gagal menangkap pelaku kejahatan yang sebenarnya, semata-mata supaya mereka tidak kembali ke kesatuan dengan tangan kosong dan setidaknya punya sesuatu untuk dilaporkan kepada atasan mereka. [hal. 73]
Bahasa yang dijadikan alat tutur Windry dalam novel ini pula amat cair, seperti kata-kata umpatan yang mendaerah dan analogi yang cukup jarang dipakai:
Suara ibu kosnya terdengar melengking seperti suara tupai-tupai dalam film kartun Amerika. [hal. 64]
Sudah sering Miaa mendapati makian semacam itu, tapi ia maklum saja karena ibu kosnya memang tidak bisa hidup kalau tidak mengomeli orang barang sehari sekali. [hal. 65]
Kelenjar Penghujung
Metropolis adalah fiksi kriminal yang tidak tergolong whodunit, kendati di muka sempat terbetik pertanyaan mengenai pembunuhan sejumlah pemimpin Sindikat 12. Novel ini lebih cocok dikategorikan sebagai inverted detective story atau howcatchem, kendati memang masih menyisakan misteri yang merupakan urat nadi penyelidikan Bram dan Erik.
Bagi sebagian orang, ending Metropolis bisa jadi 'kurang memuaskan'. Namun sesungguhnya hal ini menunjukkan fenomena kelam sindikat narkoba di Indonesia sebagai salah satu rongga kejahatan yang sangat sulit dipatahkan. Maka lebih dari sekadar patut jika novel ini disemati empat bintang, sebagai bacaan yang adiktif tetapi tak mematikan.
Resensi ini dibuat untuk lomba ulas buku Perkosakata 2009.