Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Buku ini dilatarbelakangi oleh gambaran problematika moneter & perbankan di negara Amerika Serikat, walau runtutannya disampaikan secara singkat namun terasa utuh untuk memahami betapa bahayanya...
Oleh : Muhammad Dullah Rivani
(Pemerhati Sastra dan Agama, bermukim di Doha, Qatar)
Puisi-puisi karya Leonowens SP, merupakan karya yang dibuat dengan kepekaan tinggi terhadap...
Nick Naylor menyukai pekerjaannya sebagai juru bicara industri tembakau---perusahaan rokok Amerika yang sudah berhasil menembus pasar Asia secara besar-besaran---Nam, Laos, Kamboja, Indonesia, dan Cina. Di tahun sembilan puluhan yang Neo-Puritan, melindungi hak-hak perokok merupakan tantangan, dan mendukung kebebasan mereka merupakan kehormatan istimewa.
Pasti menyakitkan kalau disamakan dengan penjahat perang Nazi, padahal Nick melakukannya hanya supaya bisa hidup layak dan bisa memasukkan putranya ke sekolah terbaik. Ia sanggup menghadapi tekanan dari pendukung fanatik antirokok, tapi ia tidak begitu yakin dengan atasan barunya, yang mempertanyakan apakah Nick layak mendapat gaji sedemikian besar.
Di bawah tekanan untuk berhasil, Nick sering muncul dalam acara-acara TV untuk berdebat dan menjadi semakin terkenal. Tapi, ia juga diincar seseorang yang ingin membuktikan betapa merokok bisa sangat berbahaya. Jika lengah, Nick akan habis terbakar seperti puntung rokok.
Thank You For Smoking-Pertobatan Seorang Juru Bicara Industri Tembakau
Industri rokok di Indonesia adalah salah satu Industri besar yang mengantarkan pemiliknya menjadi orang-orang kaya. Di beberapa daerah yang menjadi sentra industri ini mampu menyerap bagitu banyak pegawai yang kebanyakan adalah penduduk setempat.
Meskipun industri ini secara terang-terangan sudah memasang peringatan di setiap bungkus produknya, toh pelanggannya masih begitu banyak. Demikian juga kampanye bahaya merokok yang banyak didengung-dengungkan oleh lembaga atau kelompok yang concern dengan bahaya merokok yang tetap semangat dengan misinya.
Tapi kehebohan industri rokok dan penentangnya di Indonesia, belum ada yang seheboh seperti yang terjadi di Washington – USA dalam buku karya Christopher Buckley yang berjudul Thank You For Smoking – Terima Kasih Sudah Merokok. Sebuah buku lama yang terbit lagi dalam bahasa Indonesia tahun ini, dengan sentuhan baru tentunya meskipun nama tokoh-tokohnya masih sama seperti saat buku ini pertama kali terbit tahun 1994 yang lampau.
Thank You For Smoking juga sempat difilmkan pada tahun 2006 dibintangi Aaron Eckhart, Katie Holmes,Robert Duvall dan Adam Brody.
Tokoh utama dalam buku ini adalah Nick Naylor. Nick adalah seorang juru bicara industri tembakau. Tentunya menjadi juru bicara sebuah produk yang menjadi pertentangan di masyarakat dan dunia kesehatan adalah sebuah tantangan berat, tapi Nick menyukainya. Nick ini adalah juru bicara yang sangat hebat. Saking hebatnya, seandainya saja dia berbicara pada orang-orang kalau kalau kadal itu adalah bayi komodo, besar kemungkinan banyak orang akan percaya padanya. Tetapi ternyata kehebatan Nick ini, tidak mampu mengambil hati bos-nya Budd Rohrabacher (BR) yang sudah gatal ingin menyingkirkan Nick dari posisinya.
Sebagai juru bicara sebuah industri besar dan selalu berhubungan dengan media dan orang-orang penting, tak lengkap jika tidak ada ‘teman-teman’ yang menemaninya. Nick memiliki 2 orang sahabat, Polly,seorang juru bicara assosiasi bir dan satunya lagi adalah Bobby Jay Bliss, seorang jubir assosiasi senjata api. Sebuah persahabatan yang disebut Mod Squad, Mod adalah singkatan dari ‘Merchant of death-Pedagang maut. Kerena anggotanya mewakili industri-industri yang bisa menjadi topik pembicaraan hangat di belahan bumi manapun, karena akan selalu dihubung-hubungkan dengan data statistik kematian manusia.
Mengetahui dirinya ingin disingkirkan BR, Nick dalam dalam salah satu talk show tv terkenal yang dipandu Oprah Winfrey, mengumumkan bahwa assosiasinya akan mengalokasikan dana sebesar $5 juta untuk kampanye Anti Rokok. Rupanya ide gila Nick mendapat restu dari pimpinan tertinggi assosiasi yang biasa di sebut Kapten dan yang pasti membuat BR semakin geram, karena pimpinan tertinggi tersebut justru menaikkan gaji Nick dua kali lipat.
Berita besar yang sudah diumumkan Nick di acara Oprah, menimbulan reaksi beragam dari banyak orang dan menarik bagi dunia media, dan lagi-lagi Nick diundang dalam acara talk show yang tak kalah terkenal yang dipandu oleh Larry King. Dalam sesi terakhir wawancara ada sesi menerima telepon dari pemerhati acara itu, sayangnya bukan pujian atau sekedar kritik pedas yang didapat Nick, tapi sebuah ancaman yang akan mengancam keselamatannya.
Mendapati hal itu, Kapten dan pejabat assosiasi tembakau mengambil tindakan untuk mengadakan pengawalan kemanapun Nick pergi,juga saat Nick mendatangi wawancara dengan seorang wanita cantik dan seksi berdada sentosa Heather Holloway, wartawan Washington Moon, sebuah koran terkenal.
Wartawan ini selain cerdas –dan sedikit rese- ternyata juga memanfaatkan kecantikannya untuk bercinta dengan orang-orang diwawancarainya, termasuk Nick. Sebagai informasi tambahan, Nick Naylor pernah menikah kemudian bercerai. Dia memiliki seorang putra yang tinggal bersama ibunya. Sebagai duda yang masih penuh semangat melihat Heather yang seksi dan pandai merayu bukan salah Nick kalau akhirnya wawancaranya berakhir di ranjang.
Dalam salah satu kesempatan, Nick mampir di sebuah Café, Nick rupanya tidak menyadari bahaya yang mengancamnya, hingga saat seseorang yang tak dikenalnya dan pura-pura jadi gelandangan mengantarkannya pada sekelompok orang yang menculik dan memberikan siksaan yang tidak tanggung-tanggung, sekujur tubuhnya ditempeli plester nikotin dalam dosis yang besar-besaran sehingga menyebabkan Nick dalam kondisi Paroxysmal atrial tachycardia, yang dianalogikan seperti melaju hampir seratus kilometer per jam dan tiba-tiba memindahkan persneling ke gigi satu. Jantung diminta melakukan apa yang tidak biasa dilakukannya, yaitu memompa dengan kecepatan gila-gilaan. (Hal. 176).
Apa yang akan terjadi pada Nick selanjutnya?
Sebuah buku yang sangat menarik. Dengan mengusung tema yang masih menjadi perdebatan tentang benda seukuran 9 cm yang mengandung Tar serta Nikotin, yang sanggup merusak paru-parumu, apalagi kalau bukan rokok.
Sebagai juru bicara yang sangat hebat, kita akan menemukan argumen-argumen ala Nick yang sangat bisa membuat kita berpikir dan tentu saja dalam kaitannya Nick menjalankan profesinya sebagai juru bicara tembakau yang harus bisa bicara selogis mungkin dan memberikan contoh-contoh nyata yang bisa mempertahankan industri rokok sebagai industri yang legal dan wajar.
Dan sebagai pelobi juga, Christopher Buckley memberikan dialog yang sangat-sangat cerdas pada Nick dengan salah seorang mantan bintang iklan rokok yang menderita paru-paru amat parah. Nick diminta BR untuk menyuap orang tersebut agar tidak lagi menjelek-jelekkan industri tembakau dan lobinya berakhir sukses. Dialog ini tidak akan Anda temukan dalam buku-buku manapun.
Sebagai manusia biasa, tentu saja Nick juga bisa menemukan ‘hidayah’, tapi tentu saja hidayah itu tidak akan seru bila datang tiba-tiba begitu saja, dan yang pasti tidak pakai acara disambar petir atau keluar ulat dari wajahnya seperti cerita sinetron-sinetron yang ada di tv kita!