Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Oleh: Debby Gontha
(Pengusaha dan Penikmat Sastra)
Begitu banyak kisah yang telah terjadi di dalam waktu. Kita menjalani hari-hari dalam waktu. Seringkali kita juga diburu oleh...
Oleh: Dr. Sabariamsyah, S.Pd, M. Hum
(Praktisi Pendidikan di Jepang)
Berbagai peristiwa penting atau berkesan dalam kehidupan, menjadikan setiap orang akan selalu berbeda cara dalam...
Siuuuuttt... Prangg! Gitu tuh kalo Davi lagi kesel. Cowok ganteng dan populer di SMA Bonafide ini memang punya kebiasaan lempar-lempar piring kalo marah. Untung belingnya nggak sekalian dimakan, bisa jadi kuda lumping nih Davi. Aris, temen Davi yang paling setia, hanya bisa geleng-geleng menyaksikan kelakuan sahabatnya. Belum lagi mikirin beres-beres sesudah Davi puas melampiaskan kemarahannya. Soalnya Davi marah-marah di kosan Aris, dan banting-banting piring Aris!
Semua gara-gara Davi ditolak Saskia. Hah? Ditolak? Davi kan ganteng? Tapi ternyata, buat Saskia, ganteng nggak selalu jadi tolok ukur untuk menerima seorang cowok jadi pacarnya. Belum lagi, menurut cewek yang cerdas dan sering mengikuti berbagai lomba yang berurusan dengan kemampuan otak itu, cowok ganteng yang hanya mengandalkan tampang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan adalah cowok bodoh alias dumb!
Davi nggak terima, dia berusaha keras mematahkan teori Saskia dengan mengikuti lomba menulis esai. Sementara Aris berusaha keras agar nggak lagi dipanggil Mas Piring gara-gara rajin beli piring di minimarket dekat kosannya.
Apakah menjadi cantik atau ganteng itu sebuah kesalahan? Jawabannya sudah tentu tidak! Cantik atau ganteng adalah anugerah Tuhan.
Pada zaman nabi-nabi dulu, Nabi Yusuf yang sangat mahsyur dengan ketampanannya hingga para wanita yang mengupas apel saat melihatnya, tidak merasa tangannya teriris karena bagitu terpesona oleh ketampanannya, menjadi kisah tak terlupakan dalam sejarah kenabian.
Lantas kenapa di zaman iPhone ini, ketampanan justru kadang menjadi olok-olokan dan identik dengan ‘kebodohan’ pemiliknya. Sudah umum rasanya jika ada orang cantik atau tampan biasanya ‘diikuti’ kebodohannya dan menjadi luar biasa jika dia cukup punya otak. Jadi jika di rumuskan : Ganteng + bodoh = biasa Ganteng + pintar = luar biasa Tidak ganteng + bodoh = kasian deh lo..:)
Yang diangkat dalam kisah buku Ganteng is ... Dumb karya Iwok Abqary ini, adalah cowok ganteng yang sebenarnya gak pintar-pintar amat tapi berusaha untuk memperbaiki ketidak pintarannya. Boleh kan, cowok ganteng yang gak pintar berusaha untuk pintar?
Tersebutlah (eh, awalan ini masih relevan gak sih..?..:P) seorang anak ABG bernama Davi Maulana yang bersekolah di SMU Bodafide di Bandung. Sekolah ini memang namanya Bonafide, tapi bukan jaminan Bonafide beneran. Sebagai cowok yang dikaruniai wajah yang tampan, sepertinya membuatnya sedikit gelap mata.
Sehingga dia lupa untuk berprestasi dan kurang mengasah otaknya, gue ganteng nih, mau apa lagi..?
Tapi rupanya, pamor kegantengan Davi, tidak berlaku untuk Saskia, cewek teman satu sekolah SMU-nya, yang cukup pintar namun begitu antipati dengan soal-soal yang berhubungan dengan kegantengan. Kenapa? Kalo aku bilangin nanti jadi spoiler dong….
Davi yang sudah PD untuk diterima cintanya oleh Saskia tidak menyangka akan ditolak mentah-mentah. Saskia mengatakan bahwa Davi tidak punya prestasi apa-apa yang bisa dibanggakan, dan melontarkan kalimat bahwa ganteng is…DUMB!
Davi yang merasa tertohok dengan kalimat Saskia, langsung lari ke kost-kostan sahabatnya Aris, untuk….banting piring! Kacau juga nih cowok…:D
Sampai-sampai si Aris dapat julukan Mas Piring oleh kasir minimarket tempat dia belanja gara-gara keseringan beli piring akibat ulah Davi yang konon karena faktor keturunan.
Akhirnya ketika ada lomba esai yang diselenggarakan oleh salah satu operator seluler di sekolahnya, Davi bertekad ikut, untuk membuktikan pada Saskia bahwa dia bisa berprestasi. Hah?! Davi ikutan lomba esai..? Ya sudahlah, the show must go on.
Davi akhirnya melakukan riset kecil-kecilan untuk bahan esainya. Dia dapat inspirasi saat bersama adiknya untuk membuat kartu dengan nama TELUNJUK….! Ide telunjuk tentu tidak jauh-jauh dari salah satu operator yang ngeluarin kartu JEMPOL, hehhe..
Lalu pihak penyelenggara yaitu PT. Sukamindo sebenarnya juga sudah mengeluarkan kartu JOKER, yang pasti idenya adalah adanya kartu AS..! Konon katu JOKER ini untuk menandingi kartu KING yang sudah dikeluarin oleh Komporsel..…. (ini mau bikin kartu telepon apa kartu Remi sih?!).
Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, tibalah saatnya Davi untuk mempresentasikan esainya. Loh kok bisa presentasi? Iyah karena ternyata Davi lolos 5 besar kawans….amazing!
Davi yang tidak biasa dan sangat jarang presentasi begitu grogi menghadapi saat-saat menegangkan itu hingga harus bolak-balik ke kamar mandi. Apalagi Saskia juga ternyata terpilih menjadi kandidat dalam 5 besar peserta esai terbaik itu…
Akankah Davi dapat melewati saat-saat menegangkan itu dan lolos babak spektakuler show..?....(emang Indonesian Idol?!), dan bisa memenangkan esai sekaligus dapat membuktikan pada Saskia bahwa dia tidak cuma ganteng tapi juga punya otak?
Tentang ‘Hihihi’
Secara keseluruhan, kisah ini sangat konyol, apalagi ditambah perusahaan yang bikin lomba esai yang gak kalah konyol. Mana ada perusahaan perusahaan yang bikin iklan lomba resmi tingkat nasional dengan butir-butir aturannya seperti berikut:
Persyaratan: 1. Terdaftar sebagai siswa SMA dan sederajatnya. 2. Esai ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pake istilah asing atau gaul boleh kalau perlu, asal jangan pake huruf Palawa. 3. Panjang esai 4-5 halaman A4, diketik pake computer dengan font Times New Roman, 12pt,spasi 1,5. Jangan lupa di-print, ya. Yang nggak bisa ngetik pake computer boleh juga pake mesin tik. Tapi masa iya sih hare geneee nggak bisa make computer? Kemane aje? 4. Setiap peserta mewakili sekolah masing-masing, jangan sekolah orang laen. (hal. 76)
Tapi ada beberapa hal yang menurut saya cukup mengganggu. Yaitu banyak sekali kata ‘hihihi’ di hampir setiap akhir paragraphnya. Kalimat ini seharusnya adalah respon pembacanya sebagai efek setelah membaca paragraph-paragraph yang cukup lucu, bukan oleh penulisnya sendiri, sehingga tidak ada kesan ‘nulis sendiri, dikomentari sendiri’.
Meskipun kisah ini ditulis dalam gaya narator, dimana penulisnya bisa menggambarkan perasaan masing-masing tokohnya dengan mudah, namun dalam penerapannya ada kerancuan saat dituangkan dalam penulisan ceritanya, karena antara opini tokoh dan opini penulis seakan jadi kabur. Hal itu karena diikut sertakannya komentar ‘hihihi’ maupun komentar-komentar yang lain dalam setiap akhir paragraph.
Iwok rupanya masih terjebak dalam gaya penulisan blog yang memang cenderung sering ‘nulis sendiri, dikomentari sendiri’.
Buku ini, merupakan salah satu ‘Pemenang Berbakat’ dari Lomba Cerita Konyol Remaja 2008’ yang diselenggarakan oleh GPU beberapa waktu yang lalu.
Dan mau tidak mau, secara naluriah saya akan membandingkan tulisan antara pemenang juara I, Juara II Juara III dan juara Berbakat ini.
Secara penulisan dan penceritaan, The Kolor of My Life yang dinobatkan sebagai juara I memang lebih unggul, meskipun Netty sebelumnya belum memiliki buku yang terkenal apalagi bombamtis dan bestseller.
Namun sebagai buku ringan, buku Ganteng is..Dumb ini cukup lumayan untuk dinikmati. Apalagi saat sore-sore sambil minum cappucino..:)
Resensi Pembaca
Ganteng is..Dumb Oleh: Arimbi - 04 June 2009
Banyak cewek cantik, tapi omongannya nggak nyambung. Tahunya hanya dandan, fashion, dan urusan hedon-hedon. Di sini penulis 'menyetarakan' fenomena itu melalui pandangan seorang Saskia: bahwa Davi termasuk salah satu cowok yang modal tampang doang. Nggak punya prestasi apa pun, sehingga tak layak dilirik apa lagi dijadiin pacar.
Motivasi karakter utama, yakni Davi, sangat kuat. Untuk membuktikan bahwa pendapat Saskia itu keliru, ia tidak simsalabim menjadi cowok super rajin dan mendapatkan nilai cemerlang di segala bidang (emangnya sinetron?:p). Ia mengikuti satu lomba esai, yang dalam persiapannya saja sudah bikin jungkir balik untuk seorang Davi yang biasanya nyontek PR Aris.
Profil Aris, sosok teman baik Davi, tak dapat dipandang sebelah mata. Cowok yang dijuluki Mr. Piring oleh kasir minimarket lantaran piringnya selalu jadi sasaran amuk Davi kalo lagi bete (sindiran halus bagi pasutri yang kalo berantem suka pake jurus piring terbang) ini adalah 'imigran' dari Tasikmalaya. Cetusan bahwa orang Tasik identik dengan tukang kredit cukup menggelitik, meski di kepala saya malah sudah tertanam bahwa imej Tasik adalah kota santri dan pedagang (terutama baju muslim). Aris dengan problematikanya sendiri dihadirkan dengan teknik juxtaposition, sehingga dua arus subplot mengalir bersamaan dalam teenlit satu ini. Konsistensi penulis memaparkan agar keduanya tidak bertabrakan atau saling mengganggu patut diacungi jempol.
Peran ilustrator tak boleh diabaikan pula, terutama pada waktu Riana -sahabat Saskia- digambarkan main Zuma di kamar Saskia (hal. 170). Bagian favorit saya dalam novel yang meraih predikat Pemenang Berbakat Lomba Cerita Konyol Remaja GPU 2008 ini adalah ketika Davi berniat mundur dari presentasi esainya dan berada di kamar mandi.
Keseriusan penulis menjaga logika cerita sangat terlihat dari ketertataannya sampai akhir. Walaupun di beberapa bagian sempat terpeleset menjadi 'tell, not show' untuk menjelaskan alasan karakter melakukan sesuatu. Ganteng is Dumb akan lebih segar lagi jika menggunakan sudut pandang 'aku', karena kadang-kadang penulis menyisipkan 'komentar pribadi' seperti 'Hihi..dasar' yang seharusnya muncul alamiah dari pihak pembaca.
Latarbelakang Saskia yang keukeuh mengenai 'ganteng is dumb' sebenarnya tak perlu dijelaskan benar. Namanya remaja, kadang-kadang alasan untuk sesuatu adalah hal 'sepele' dan lemah alias dorongan emosi belaka. Bisa saja Saskia memang lebih mempedulikan prestasi dan perilaku seseorang daripada wajahnya, karena ia lain dengan remaja pada umumnya. Atau karena ia pernah beberapa kali mengenal cowok yang cakep tapi otaknya cekak, terus ilfil deh.
Meski demikian, saya lega dan puas sebab di sini tidak dikisahkan sedikit pun Saskia berusaha menggagalkan upaya 'pembuktian diri' Davi (lagi-lagi..emangnya sinetron?). Inti pesannya adalah berpikir realistis, tidak ada yang orang sempurna, seperti dalam kalimat ini:
"Cowok ganteng, baik, kaya, jagoan dan cerdas hanya ada dalam tokoh-tokoh novel!: (hal. 173)
-----------------------------------------
Diambil dari Blog review buku Rini NB Hadiyono http://sinarbulan.multiply.com/