Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Buku ini dilatarbelakangi oleh gambaran problematika moneter & perbankan di negara Amerika Serikat, walau runtutannya disampaikan secara singkat namun terasa utuh untuk memahami betapa bahayanya...
Oleh : Muhammad Dullah Rivani
(Pemerhati Sastra dan Agama, bermukim di Doha, Qatar)
Puisi-puisi karya Leonowens SP, merupakan karya yang dibuat dengan kepekaan tinggi terhadap...
Buku ini tentang Black Swan: peristiwa acak yang mendasari hidup kita, dari munculnya buku-buku bestseller hingga bencana dunia. Dampak peristiwa-peristiwa tersebut amat besar; nyaris mustahil dapat diprediksi; namun setelah terjadi, kita selalu berusaha untuk merasionalisasinya. Salah contoh terkini tentang Black Swan adalah kejatuhan pasar saham dunia pada tahun 2008-sesuatu yang telah diendus dalam buku ini.
The Black Swan menunjukkan kepada kita mengapa kita mesti berusaha memprediksi segala sesuatu dan justru mengambil keuntungan dari ketidakpastian.
Black Swan #1: Mengapa Mereka yang Pintar di Sekolah Cenderung Jadi Pecundang?
Kita cemas tentang hal-hal yang terjadi, bukan hal-hal yang mungkin terjadi tapi tidak terjadi. Itu sebabnya kita melakukan Platonifikasi, menyukai skema-skema yang telah diketahui dan pengetahuan-pengetahuan yang tertata dengan baik --sampai ke tingkat kebutaan terhadap realitas. Itu sebabnya mereka yang berprestasi bagus di sekolah cenderung menjadi pencundang, menjadi korban kesalahan spontan.
Hal-hal yang tidak terjadi terlalu abstrak bagi kita.
Kita memuja hal-hal yang jelas, yang tegas, yang bisa disentuh atau dirasakan, yang nyata, kasat mata, konkret, yang diketahui, yang tampak, yang hidup, yang visual, sosial, yang tertanam, sarat emosi, menonjol, lumrah, bergerak, dramatik, menggairahkan, yang sarat basa-basi, resmi, yang diuraikan panjang lebar dan ilmiah. Kita memuja ekonom-ekonom pengikuti Gauss yang agung dan berwibawa, jago matematika, memuja kemegahan, Academie Francaise, Harvard Business School, Hadiah Nobel, setelan berwarna gelap dengan kemeja putih dan dasi Ferragamo, diskursus yang seru, dan hal-hal yang sensasional. Lebih dari semua itu, kita menyukai hal-hal yang dapat diceritakan.
Kita tidak diciptakan untuk memahami perkara-perkara abstrak --kita memerlukan konteks. Keacakan dan ketidakpastian adalah hal-hal yang abstrak. Kita mengagungkan hal-hal yang telah terjadi dan mengabaikan hal-hal yang mungkin bisa terjadi. Dengan kata lain, kita secara alami berpikiran dangkal dan lebih menyukai apa yang tampak di permukaan --tapi kita tidak menyadarinya. Ini bukan masalah psikologi; ini bersumber dari sifat utama informasi....mungkin Anda harus menjalani denarasi: mematikan pesawat televisi, meminimalkan bacaan koran dan mengabaikan blog.
Review by MUMU ALOHA
Resensi Pembaca
Mari Terbuka pada Hal-hal Yang Tak Terduga Oleh: Arimbi - 19 August 2009
• Judul Buku: The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable • Pengarang: Nassim Nicholas Taleb (Penerjemah: Alex Tri Kantjono Widodo) • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009 • Jumlah halaman: 479 halaman • Penulis Resensi: Mumu
Sebelum Benua Australia ditemukan, orang yakin bahwa semua angsa berwarna putih. Sebuah kepercayaan yang tak tergoyahkan karena bukti-bukti yang teramati memang sangat mendukung. Maka, ketika pertama kali ada yang menyaksikan angsa berwarna hitam, pastilah itu sebuah kejutaan yang menarik, terutama bagi peneliti unggas. Namun, bukan itu yang penting. Penemuan angsa hitam menggambarkan betapa sangat terbatasnya pembelajaran yang kita dapatkan dari pengamatan atau pengalaman serta betapa rapuhnya pengetahuan kita selama ini. Pengamatan yang hanya satu kali ternyata dapat meruntuhkan pandangan umum yang berasal dari pengamatan banyak orang terhadap jutaan angsa berwarna putih selama berpuluh-puluh abad. Yang Anda perlukan hanya seekor burung berwarna hitam (yang konon memiliki rupa sangat buruk).
Dari ilustrasi yang terkesan sederhana itu, Nassim Nicholas Taleb, seorang pemikir yang orisinal kelahiran Lebanon, mengembangkan teori Black Swan. Sungguh, ini bukan buku yang mudah dibaca. Taleb merangkum sedikitnya empat wilayah besar “keilmuan”, yakni Filsafat, Psikologi, Ekonomi dan Matematika, yang tak jarang sangat detail dan teknis. Kendati demikian, pembaca “awam” tidak perlu berkecil hati. Taleb berusaha keras untuk membuat argumen-argumennya cukup mudah dimengeri, dengan pemaparan ilustrasi berupa cerita. Taleb memang lebih banyak bercerita di sini, dengan gaya penuturan yang “nyastra” sehingga enak diikuti dan tidak membosankan. Jika ada bagian tertentu yang “terpaksa” sangat teknis, Taleb akan menandai bagian tersebut dengan pernyataan, bahwa pembaca awam boleh melewatkannya. Secara umum, buku ini mesti dibaca dengan pelan-pelan, dan kalau perlu diulang-ulang. Nissim banyak menciptakan istilah sendiri yang perlu dicermati.
Ketika membagi wilayah aktivitas kehidupan dan pergumulan manusia, misalnya, Taleb menciptakan istilah Mediocristan dan Extrimistan. Mediocristan, dalam bayangan Taleb, merupakan tempat kehidupan berjalan rutin, biasa, jelas dan lebih mudah diperkirakan. Sedangkan Extremistan adalag wilayah tempat dimungkinkannya kemunculan hal-hal yang tak terduga, kebetulan, baik yang positif maupun negatif. Di wilayah Extrimistan inilah, menurut Taleb, “angsa-angsa hitam” lebih terdorong untuk bermunculan. Yang positif misalnya kehadiran teknologi internet dan sukses buku Harry Potter. Yang negatif: tragedi WTC 11 September dan tsunami Samudera Hindia (Aceh). Jadi, apa itu Black Swan? Taleb mensyaratkan tiga karakteristik agar sesuatu hal bisa digolongkan ke dalam Black Swan. Yakni, tidak dapat diramalkan; memiliki dampak yang luar biasa; sesudah terjadi orang baru sibuk menyusun teori bahwa kejadian itu sebenarnya bisa diramalkan.
Dalam Black Swan, unsur keacakan dan ketidakpastian sangat tinggi, dan Taleb menyerang serta mengolok-olok mereka –yang disebut kaum pakar-- yang begitu yakin terhadap pengetahuan yang mereka miliki dan sanggup bicara secara meyakinkan, termasuk soal-soal mengenai masa depan. Secara terang-terangannya Taleb bahkan menunjukkan sikap antipatinya kepada kaum sarjana yang telah dicekoki ajaran Plato, menyebut sejumlah filsuf sebagai “pembual” dan mengganggap bahwa apa yang disebut prediksi atau ramalan itu tak ubahnya skandal. Dengan gaya seorang skeptis sejati yang nonakademik, antidogmatik dan sangat empirik, Taleb secara provokatif membongkar, mengobrak-abrik dan sekaligus mengoreksi pemikiran-pemikiran yang selama ini mapan dalam keyakinan banyak orang.
Membaca buku ini menjadi sebuah dialog yang menyenangkan. Kekayaan wawasan Taleb yang luar biasa, membuatnya mampu mengantarkan kita tamasya melintasi ruang dan zaman, dari perpustakaan Umberto Eco hingga masa kecilnya di era perang di Lebanon. Jangan kaget, jika berkali-kali Nissim berbicara demikian sinis, mencemooh sejumlah penerima hadiah Nobel (terutama bidang Ekonomi) dan mengejek para pebisnis yang menurutnya kaku dan membosankan. Taleb sendiri juga seorang pengusaha yang meninggalkan bisnisnya untuk menekuni masalah-masalah peluang, keacakan, ketidakpastian dan kemujuran. Buku dia sebelumnya, Fooled by Randomness memperlihatkan tingkat kemahaguruan mantan pialang saham itu dalam bidang-bidang tersebut. Pemihakan Taleb pada “estetika keacakan” membuatnya anti-teori dan mencela habis-habisan para pakar statistik.
Ini bukan buku pop, tapi juga bukan buku “ilimiah”. Ini bukan jenis “self-help” atau “know-how” maupun “know-what”. Boleh dibilang, ini adalah buku nasihat, kitab kearifan. Taleb seperti membentangkan peta pemikiran ke hadapan kita, dan membantu menuntun kita untuk mengambil mana yang relevan dan mana yang “membodohi.” Dia menunjukkan mana filsuf, ilmuwan, tokoh pemikir, yang bisa kita jadikan teman yang dalam banyak hal menarik dan menyenangkan. Dari situ, kita diajarkan untuk tidak mudah percaya pada sesuatu yang tergambar secara umum. Siapa pun kita, apa pun profesi dan jabatan kita, buku ini menantang kita untuk menjadi “seekor Black Swan” : bikin kriteria sukses yang cocok untuk diri kita sendiri --lebih sulit menjadi pecundang dalam permainan yang kita rancang sendiri. Dalam bahasa Black Swan, Anda terbuka pada hal-hal yang mustahil hanya jika Anda membiarkan hal-hal yang langka itu, segala ketidakpastian itu, mengendalikan Anda. Berhentilah percaya pada apa yang dikatakan oleh orang banyak.