Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Oleh: Debby Gontha
(Pengusaha dan Penikmat Sastra)
Begitu banyak kisah yang telah terjadi di dalam waktu. Kita menjalani hari-hari dalam waktu. Seringkali kita juga diburu oleh...
Oleh: Dr. Sabariamsyah, S.Pd, M. Hum
(Praktisi Pendidikan di Jepang)
Berbagai peristiwa penting atau berkesan dalam kehidupan, menjadikan setiap orang akan selalu berbeda cara dalam...
Sumiko yang berumur dua belas tahun merasa hidupnya terbagi atas dua bagian: sebelum dan sesudah Pearl Harbor. Bagian yang baik dan bagian yang buruk. Dibesarkan di perkebunan bunga di California, Sumiko sudah terbiasa menjadi satu-satunya gadis Jepang di kelasnya. Meskipun anak-anak lain mengejeknya, Sumiko memiliki rumah, keluarga, dan bunga-bunga liarnya.
Semua itu berubah setelah peristiwa Pearl Harbor. Orang-orang Amerika curiga bahwa seluruh warga keturunan Jepang---termasuk mereka yang lahir di Amerika Serikat seperti Sumiko---adalah mata-mata Kaisar. Ketika kecurigaan itu semakin membengkak, Sumiko dan keluarganya mendapati diri mereka diangkut ke kamp konsentrasi di salah satu padang gurun terpanas di Amerika. Warna-warni bunga yang melingkupi hidup Sumiko lenyap sudah, berganti dengan badai debu yang menghitamkan langit dan menerobos setiap pori-pori barak militer yang merupakan "rumah" barunya.
Sumiko dengan cepat menemukan bahwa kamp itu terletak di daerah reservasi orang India, dan orang Jepang tidak diterima di situ seperti juga di tempat sebelumnya. Tapi kemudian Sumiko bertemu dengan seorang pemuda Mohave. yang mungkin bisa menjadi sahabat pertamanya, kalau saja sang pemuda mau melupakan amarahnya kepada orang Jepang yang dianggap menyerobot tanahnya.
Dengan pemahaman yang tajam dan mendalam, dan dengan meminjam mata seorang gadis remaja yang mendambakan tempat, Cynthia Kadohata mengeksplorasi dampak pengeboman Pearl Harbor terhadap orang-orang Jepang di Amerika pada masa Perang Dunia II. Weedflower adalah kisah keindahan dan tantangan persahabatan antar-ras, dan mengangkat kisah nyata bagaimana pertemuan warga Amerika keturunan Jepang dan penduduk asli Amerika telah mengubah masa depan keduanya.
Pada tanggal 7 Desember 1941, Pearl Harbor meledak oleh serangan fajar yang dilakukan Jepang terhadap Amerika. Kemarin tanggal 7 Desember , 67 tahun yang lalu tentu merupakan hari tak terlupakan bagi Amerika maupun Jepang.
Bertepatan dengan peringatan serangan Pearl Harbor ke 67, saya posting kisah yang juga diinspirasi dari serangan Pearl Harbor karya Cynthia Kadohata (Peraih Newberry Award), Weedflower. Tentu sebuah momen yang sangat tepat untuk sedikit mengulas kisah ini. Kisah Pearl Harbor sendiri sudah difilmkan meskipun dari sudut pandang Amerika yang dibintangi oleh Ben Affleck.
Dalam bukunya ini, Cynthia melakukan riset mendalam tentang kisah-kisah yang terjadi setelah serangan tersebut, meskipun kisah ini fiktif, namun kisah-kisah yang dilatarbelakangi oleh sejarah sayang untuk dilewatkan.
Weedflower diceritakan dari sudut pandang gadis kecil Sumiko (12 tahun), yang merupakan gadis asli keturunan Jepang namun lahir dan besar di Amerika.
Weedflower atau bunga liar adalah julukan untuk Sumiko yang gemar menanam bunga liar yang akhirnya membawa kecintaan terhadap tanaman bunga dan tanah pertanian. Berbeda dengan teman-teman sebayanya yang lebih menyukai boneka dan mainan Sumiko lebih mencintai perkebunan bunga liarnya.
Sikap pemerintahan Amerika yang anti Jepang setelah serangan Pearl Harbor sangat menyulitkan warga Jepang yang bermukim di sana saat itu. Termasuk keluarga Sumiko yang hanya memiliki mata pencaharian sebagai petani penanam bunga.
Sumiko yang sangat mencintai kebun bunganya dan memiliki mimpi untuk membuka toko bunga sendiri tak kuasa menolak kenyataan impiannya akan buyar dalam sekejap.
Kisah diawali Sumiko menerima undangan pesta di salah satu rumah orang terpandang Amerika. Sebagai gadis Jepang yang merupakan warga minoritas di California, undangan itu tentu sangat berarti baginya. Terlebih dalam keseharian Sumiko lebih banyak menjadi bahan olok-olokan daripada dipuji-puji di sekolahnya.
Akhirnya dengan gembira dia menyiapkan segala sesuatunya untuk pergi pesta. Semua orang di rumah juga merasakan kegembiraan itu. Pada hari H, kenyataan pahit ternyata yang harus dihadapi Sumiko. Bukannya ikut menikmati meriahnya pesta dan berdansa dengan undangan lain, tapi dia hanya diterima di ambang pintu oleh pelayan serta diberi kue pesta untuk dibawa pulang. Kejadian ini sungguh membuatnya merasa sangat terhina. Tapi apa boleh buat, akhirnya sambil menunggu jemputan keluarganya, Sumiko berbalik untuk meninggalkan rumah tempat pesta.
Seperti inilah rasanya kesepian:
Seakan-akan semua orang menatapmu. Sumiko memang menyadari bahwa beberapa orang yang melintas menatap dirinya yang sedang duduk bergaun pesta, dengan hadiah merah jambu di pangkuan dan sepotong kue bolu di sampingnya. (hal. 48)
Peristiwa itu sangat menggurat di hati Sumiko. Tapi dia tak tega menceritakan kisah memalukan itu pada keluarganya yang begitu disayanginya. Meskipun begitu dia akhirnya tak tahan juga dan bercerita pada sepupunya Bull, yang baik dan pengertian.
Beberapa waktu kemudian Amerika menyatakan perang terhadap Jepang. Pernyataan yang berbeda dengan serangan Pearl Harbor ini sangat mencekam warga Jepang. Warga Jepang di seluruh penjuru Amerika sangat tahu jika “sirene” itu telah dikumandangkan berarti akan hancurlah kehidupan normalnya saat ini.
Setelah para kepala rumah tangga diciduk oleh orang-orang militer Amerika. Giliran semua anggota keluarganya yang diangkut menuju kamp-kamp khusus sehingga memudahkan pemerintah Amerika untuk mengawasi gerak-gerik warga Jepang.
Sumiko dan keluarganya akhirnya diangkut truk menuju kamp tempat penampungan warga Jepang di Poston di negara bagian Arizona yang berhawa panas bak gurun. Bersama Tak-tak adik laki-lakinya yang berumur 6 tahun, bibi dan dua sepupunya, Bull dan Ichiro, mereka meninggalkan rumah dan perkebunan bunganya di California yang begitu dicintainya.
Kamp penampungan yang kumuh dan ala kadarnya sangat membuat banyak orang depresi. Anak-anak memiliki kebiasaan buruk mencuri serta berbohong. Sumiko yang tidak setuju dengan tindakan teman-temannya memilih untuk mencoba menyemai bibit bunga liar kasubana di dekat kamp-nya.
Kebun coba-coba Sumiko akhirnya bisa tumbuh di lahan panasnya Arizona . Saat berjalan-jalan dengan adiknya di perkebunan buncis Sumiko bertemu dengan Frank, seorang warga Indian suku Mohave yang seumuran dengannya, dan tertarik untuk mengetahui cara bercocok tanam yang dilakukan oleh Sumiko dan warga Jepang lain.
Frank akhirnya berteman dengan Sumiko, dan dari Frank Sumiko tahu bahwa warga Jepang yang saat mendiami Kamp di Poston merupakan kawasan milik orang Indian. Dalam beberapa peristiwa Sumiko sadar bahwa Frank bisa dekat dengannya meskipun berbeda suku dan ras dan dalam hal ini juga bisa jadi musuh karena suku Indian sebenarnya juga warga Amerika yang wajib membela Negara. Itu artinya juga bemusuhan dengan Jepang. Akankah keresahan hati Sumiko dan Frank menemukan jawaban?
Dalam setiap perang, selalu saja warga sipil yang menjadi korban. Kisah ini juga membidik kisah dari warga sipil yang sebenarnya kurang paham kenapa persoalan harus diselesaikan dengan cara peperangan.
Selain kisah yang disajikan dengan apik dan menyentuh, kisah ini juga mengingatkan saya pada Film Beautiful Life, sebuah film yang juga berlatar belakang perang dari Perancis yang juga sangat menyentuh yang dikisahkan dari sudut pandang seorang warga sipil dan anaknya yang masih kecil.
Terkadang untuk bisa menghadapi situasi yang kacau karena perang, seseorang memang sangat perlu untuk bisa menjadi “weedflower” yang bisa bertahan ditengah situasi seburuk apapun namun tetap bisa memberi keindahan bagi lingkungan sekitarnya.
Cynthia Kadohata rupanya ingin membungkus kisah suram setelah serangan Pearl Harbor ini dengan sisi keindahan karakter seorang bocah pecinta bunga yang sangat menghargai kehidupan. Hal yang sepertinya sudah dilupakan oleh orang-orang yang ambisius yang mendahulukan perang daripada memikirkan bagaimana menciptakan kehidupan yang lebih baik dengan cara damai.
Catatan, cuplikan dari Wikipedia tentang serangan Pearl Harbor :
Pada 26 November 1941 angkatan yang terdiri atas enam kapal induk diperintah oleh Wakil Laksamana Chuichi Nagumo Jepang meninggalkan Teluk Hitokappu di Kepulauan Kuril dan menuju ke Pearl Harbor tanpa melakukan hubungan radio langsung apapun.
Pada pagi 7 Desember 1941, kapal terbang angkatan tersebut mengebom semua pangkalan militer Amerika Serikat di kepulauan Hawaii (terbesar merupakan pangkalan udara Angkatan Darat Amerika Serikat di pangkalan militer Angkatan Udara Hickam), dan kebanyakan kapal yang berlabuh di pelabuhan Pearl, termasuk "Barisan Kapal Tempur". Hampir semua kapal terbang Amerika dimusnahkan di atas tanah; hanya beberapa pejuang berhasil lolos dan bertempur. Dua belas kapal perang dan kapal lain ditenggelamkan atau rusak, 188 kapal terbang dimusnahkan, 155 telah rusak dan 2.403 orang Amerika kehilangan nyawa mereka. Kapal perang USS Arizona diledakkan dan tenggelam menyebabkan 1.100 orang kehilangan jiwa, hampir separuh dari orang Amerika yang mati. Badannya diabadikan menjadi tugu peringatan kepada mereka yang tewas pada hari itu, kebanyakan dari mereka diabadikan di dalam kapal tersebut.
Tujuan serangan Pearl Harbor adalah untuk melumpuhkan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pasifik, walaupun untuk sementara. Laksamana Isoroku Yamamoto sendiri menyatakan bahwa serangan yang berhasil sekalipun hanya memberikan setahun dua tahun kebebasan bertindak. Jepang telah terlibat dalam perperangan dengan China selama beberapa tahun (bermula pada tahun 1937) dan telah merampas Manchuria beberapa tahun sebelumnya. Rancangan untuk serangan Pearl Harbor untuk menyokong kelanjutan ketentaraan lanjut bermulai pada Januari 1941, dan latihan untuk misi berlangsung pada pertengahan tahun saat proyek ini dianggap layak setelah perselisihan sesama tentara laut Kekaisaran (Imperial Navy infighting).