Cuci-cuci....Bersih-bersih....!! Yuk Pilih buku mana saja yang kamu suka, dan dapatkan discount special UP TO 40%. Psstt...bisa buat teman ngabuburit juga loh dalam rangka menyambut Ramadhan kali ini.
Bekerjasama dengan Penerbit KOMPAS, mengedepankan buku-buku bertemakan nasionalisme. Mari kita gali lagi pengetahuan tentang INDONESIA!! Supaya kita lebih...CINTA INDONESIA. MERDEKA!
TUAN LEONOWENS SP DI ANTARA MAESTRO SASTRA DUNIA
Penulis: Inge Putri Darmawansyah
Sungguh saya tidak habis berpikir kepada kedahsyatan tulisan sastrawan dunia Leonowens...
Buku ini menjelaskan dasar-dasar pemrograman flex yang merupakan sebuah era baru teknologi internet yang kaya dan interaktif. Pembahasan buku ini meliputi pengenalan pemrograman flex beserta contoh...
Saya bangun siang. Tapi itu masih mending, masih jam sembilan, karena biasanya saya bangun jam dua belas siang. Saya memang pemalas, tapi untuk apa saya rajin kalau saya merasa diri sudah pandai. Samalah itu seperti halnya kamu, tidak perlu hemat lagi, karena kamu sudah kaya, sudah mendapatkan pangkalnya .... ("Sales Badminton")
Buku ini jangan dibaca. -Jaya Suprana, Pakar Kelirumologi
Sensasi kegilaan yang sama dengan memacu motor dalam gelap malam tanpa lampu penerangan. Selalu ada kejutan yang tak terduga. -Haji Tegep, Bikers Brotherhood MC
Buku ini sangat aneh. Walaupun saya belum membacanya. -Candil, Vokalis SEURIEUS
Inilah ini, tulisan semacam review atau apalah setelah membaca bukunya Pidi Baiq yang punya judul Drunken Molen. Itulah itu, buku Baiq yang baik dan akan baik-baik saja jika tidak dibaca, tapi akan lebih baik jika sudah dibaca. Membacanya tidak perlu berpikir keras seperti membaca buku filsafat yang berat. Karena eh karena hanya semalam saya sudah sanggup membereskannya. Dan inilah ini sekali lagi, sejenis reviewnya.
Saya belum membaca buku Pidi Baiq yang sebelumnya yang berjudul Drunken Monster, juga belum memegangnya, karena bagaimana bisa membaca, memegang saja saya belum…
Ini adalah cacatan catatan harian Pidi Baiq. Adalah seorang ayah dari 2 orang anak yang bernama Timur dan Bebe, dan suami dari seorang Istri bernama Rosi.
Buku ini berisi delapanbelas cerita dalam kehidupan sehari-hari seorang Pidi Baiq. Dengan penulisan yang sangat berani menerjang EYD, karena kalau menerjang ombak pantai selatan saya tidak yakin Pidi Baiq berani. Kalau hanya untuk gaya-gayaan atau untuk menarik perhatian ratu pantai selatan saya masih yakin Pidi Baiq tidak akan mau, walaupun jika dibaca dari tulisannya saya agak meragukan kewarasannya.
Jika Anda tidak terkekeh-kekeh atau tertawa sampai menangis membaca buku ini, giliran saya yang akan meragukan selera humor Anda. Ditulis dengan gaya ‘datar’ tidak mengurangi humor yang Pidi Baiq sampaikan. Misalkan saja cerita pertama yang diberi judul “Naruto Bersyukur”. Game PS Naruto yang Timur mainkan sudahlah tamat. Menamatkan game Naruto ini adalah sebuah perjuangan,menyebabkan Pidi ingin membuat syukuran atas tamatnya game Naruto yang dimainkan oleh Timur, anaknya. Apa salahnya kan syukuran? Toh acara perayaan tujuh bulanan juga kan sama, itu juga acara mengada-ngada untuk dirayakan, jadi apa salahnya mengumpulkan orang untuk bersilaturahmi. Kan sama baiknya. Apa salahnya?
Jadi saat sehabis Isya, semua berkumpul, yang disebabkan oleh undangan Odah kepada tetangga-tetangga dekat untuk datang di acara syukuran tamatnya game Naruto-nya Timur. Yang datang mengenakan sarung dan peci. Mereka betul-betul datang sebagaimana syukuran serius. Kemudian sang tuan rumah membuka acara syukuran itu: “Singkatnya, saya sebagai ayahnya, merasa.. apa ya, merasa apa salahnya, gitu. Bapak-bapak. Apa salahnya kalau saya adakan syukuran atas jerih payah anak saya, Timur ini, karena sudah bisa tamat menyelesaikan game Naruto. Karena menurut saya, pasti itu bukanlah hal mudah. Kita yang meskipun sudah tua dan dibilang sudah makan asam garam kehidupan ini, belum tentu juga memainkan game Naruto, lebih-lebih sampai menamatkannya” (hal.31).
Selain cerita syukuran “apa salahnya” itu, Pidi juga bercerita tentang Molen yang ada di sekolah TK anaknya yang kecil, Bebe. Molen yang menyebabkan ibu-ibu pengantar anak-anak yang bersekolah di TK itu berhenti bergosip dan melihat dompet Pidi yang bukan berisi uang tapi berisi daun. Juga ada cerita tentang “Sales Badminton”. Cerita tentang sales yang biasanya mendapat perlakuan dan tatapan kurang bersahabat dari pemilik rumah yang didatanginya, akan tetapi disambut dengan aneka buah-buahan segar oleh Pidi, menyebabkan saya teringat bahwa tamu adalah orang yang harus dimuliakan.
Ada cerita lagi tentang ibu tua penjual serabi. Ibu itu sudah tua tetapi masih saja berjualan. Di pagi hari menembus kabut, Ibu itu sudah berjualan serabi. “…si Emak yang meskipun sudah uzur, masih harus tetap bekerja, demi membantu meringankan beban pemerintah agar dengan begitu pemerintah tidak usah lagi repot memikirkan nasib dan keadaan mereka. Supaya pemerintah bisa fokus menyelesaikan apa?” (hal.174).
Akan ada banyak lagi cerita yang lucu namun diakhiri dengan sesuatu yang menyebabkan kita akan merenung dengan dalam. Hal-hal sepele yang sepertinya luput dari perhatian kita. Disebabkan oleh terbatasnya waktu dan tenaga, juga saya tidak ingin kalau kata orang-orang yang kabarnya pakar-pakar mereview itu semacam spoiler gitu, maka saya akhiri saja semacam review ini. Akan lebih baik jika Anda membeli dan membacanya sendiri gitu. Juga supaya Pidi Baiq bisa membantu meringankan beban pemerintah, sehingga tidak repot-repot memikirkan rakyatnya gitu. Supaya mereka bisa fokus menyelesaikan apa?
Jakarta, 24 Juni 2009
Resensi Pembaca
Cacatnya Harian Pidi Baiq: Drunken Molen Oleh: Arimbi - 18 June 2009
Apabila Anda lebih gemar membaca buku yang haha-hihi sampai bongkok dan bikin airmata berhamburan bahkan beser, mungkin tidak akan menyukai buku ini. Pidi Baiq melontarkan hal-hal yang benar-benar sederhana dan menghuni pikirannya [kemudian blognya] dengan gaya yang 'merusak' EYD tetapi tetap baku. Ini sudah terlihat di sampul dalam, 'Inilah ini, Drunken Molen Inilah ini dari saya, dan itulah itu diri kamu.'
Saya sudah 'menaruh hati' pada buku ini [mungkin seharusnya saya membaca Drunken Monster dulu, namun belum ketemu di toko terdekat] sejak jalan-jalan di blog penulisnya. Pidi Baiq menggelitik senyuman dengan caranya sendiri, tidak berusaha mati-matian untuk 'ngabodor', tetapi seperti ucapan seorang teman baik yang pernah menimba ilmu di kampus yang sama dengan beliau, "Hal-hal sepele bisa jadi bahan omongan berbobot di tangan dia."
Pada tulisan pembuka, Naruto Bersyukur, ia mencuatkan pemikiran tentang kelembutan rumah tangga. Kemudian dengan cueknya mengadakan syukuran atas keberhasilan Timur, sang putra, menamatkan game PS. Menurut Pidi, tindakan itu tak perlu dipertanyakan sebab banyak juga syukuran yang dilakukan dengan alasan mengada-ada [bahkan memaksakan diri].
Di halaman-halaman selanjutnya, Pidi mengemukakan aneka persoalan yang terlihat 'remeh' tetapi membuat saya merenung, antara lain guru TK yang selalu perempuan dan stiker bertuliskan (maaf) Wasit Goblog yang, memprihatinkannya, banyak ditempel di bodi motor anak-anak remaja Bandung. Saya terbahak-bahak menyimak kejailan bapak dua anak ini menghidangkan banyak buah untuk sales (yang biasanya diusir secara halus atau dengan bantingan pintu, bukan dimuliakan sebagai tamu) dan memberikan doorprize pada ibu-ibu yang menghadiri ulang tahun istrinya. Doorprize kreatif yang bukan berbau materi belaka, bahkan ada yang memperoleh mandi gratis di rumah sang empunya hajatan. Juga ulah Pidi dan teman kuliahnya dalam angkot yang sukses merusak ingatan anak SMP mengenai film Lion King.
Terkadang Pidi menghadirkan sentilan yang amat halus, tetapi mendadak juga sangat gamblang seperti lirik-lirik lagunya di grup band Panas Dalam. Misalnya petikan di bawah ini, '..si Emak yang meskipun sudah uzur, masih harus tetap bekerja, demi bisa membantu meringankan beban pemerintah agar dengan begitu pemerintah tidak usah lagi repot memikirkan nasib dan keadaan mereka. Supaya pemerintah bisa fokus menyelesaikan apa?' (halaman 174)