Aq suka buku ini, sangat memperlihatkan segala sifat dasar manusia, yang ingin tetap muda, suka uang, dan segala macam jenis kejahatan yang walaupun di masa depan tetap terlihat menggoda.
Cuma...
Bayangkan jika kamu tertular AIDS, apa yang akan kamu ceritakan pada teman, pacar, suami, istri, atau ibumu? Kamu tidak bisa begitu saja pulang dan berkata, ‘Bu, saya ketularan AIDS!’. Lalu bagaimana Anda bersikap ketika orang tahu dan menjauh seakan-akan kamu membawa bom waktu yang siap meledak. Bagaimana rasanya ketika semua teman menolak berbagi makanan dan minuman dan bahkan enggan sekadar bersalaman. Mungkin menangis adalah respons pertama, namun apa selanjutnya ketika airmata sudah habis dan hidup terus berjalan? Para penulis ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) dalam kumpulan cerpen AkuKartini Bernyawa Sembilanini memilih untuk berbagi perasaan-perasaan tadi dan menyebarkan kesadaran bahwa HIV/ AIDS adalah issue dunia yang sangat serius untuk ditanganiBuku ini terdiri dari 11 cerpen dari 9 penulis ODHA yang diseleksi dari seluruh provinsi di Indonesia. Bekerja sama dengan UNAIDS, 6 sastrawan perempuan (Djenar, Dee, Ayu Utami, Cok Sawitri, Nukila Amal dan Oka Rusmini) kemudian mementori ODHA yang terseleksi untuk belajar menulis. Hasil pelatihan itu adalah kumpulan cerpen ini. Jangan harap kamu menemukan kisah ratapan yang melarat-larat, karena mereka tidak menulis seperti itu. Dari kisah-kisah mereka, kamu dapat mengetahui bagaimana melihat dunia dari perspektif lain. Juga tentang memberi makna lebih pada kehidupan dan menjadikan setiap detik kehadiran di dunia berguna, untuk apa pun dan siapa pun juga.
Apa komentar sang Ahli tentang buku ini?
"Dalam waktu relatif singkat, mereka telah menjelma menjadi penulis-penulis potensial yang karyanya layak disuarakan. Bukan hanya karena tema sentral HIV/AIDS, tetapi juga karena kelenturan mereka berekspresi, ketajaman mereka memilih kata, dan kejelian mereka menyusun plot."
Rata-rata kumpulan cerpen ini sepertinya berdasarkan pengalaman pribadi mereka. Dan yang penting lagi,para perempuan ini ditulari HIV oleh para pasangan mereka yang kebanyakan adalah pecandu narkoba.Dan mereka harus menerima nasib mereka tertular karena mereka tak tahu bahwa suami atau pasangan mereka adalah pengidap HIV.Merasa ditipu oleh orang yang dipercayai.Sedih dan memprihatinkan memang...
Belum banyak memang kisah penderita HIV dituangkan dalam cerpen ataupun novel. Karena selama ini AIDS dianggap adalah sebuah aib yang harus ditutupi. Bahkan perlakuan bagi penderita HIV-Aids di berbagai rumah sakitpun terkadang masih memprihatinkan. Kumpulan cerpen yang dibuat oleh ODHA adalah sebuah terobosan,mereka menuangkan kreatifitas bahkan cerita pribadi mereka sendiri.Untunglah orang-orang seperti Dewi Lestari,Djenar Maesa Ayu dan Ayu Utami mau berbagi ilmu penulisan dengan para ODHA ini.Sehingga mereka merasa sama dengan orang-orang biasa,tak dihina bahkan terkucilkan.
Kadang kita menghukum ODHA karena perilaku buruk mereka-pecandu narkoba,memakai jarum suntik bergantian dan seks bebas.Padahal sisi lain ada perempuan ODHA sebagai obyek penderita,tak tahu apa-apa tapi harus jadi pesakitan seumur hidup.Ini membuka mata gw setelah membaca buku ini.Mereka tidak tahu sampai kapan mereka bisa bertahan hidup.Tapi semangat hidup mereka patut diacungi jempol.Seperti dinukil dari buku ini,mereka butuh tempat berbagi,ingin didengar dan diperhatikan.Terlebih mereka pernah merasakan kepedihan hidup,terbuang,mendapat cap buruk,berada diposisi bersalah atau dipersalahkan bahkan merasa ditiadakan.
Kisah ODHA di buku ini sungguh terkadang ibarat melodrama. Apakah kita percaya ada lelaki yang mau menerima wanita dengan apa adanya dirinya sebagai pengidap HIV? Atau seorang Dewi Lestari yang mau berbagi sedotan dan sendok dengan para ODHA ini,membuat mereka sangat terkesan karena orang tua merekapun belum tentu mau melakukan itu.Tapi itulah realita kisah mereka.Bahwa ODHA ingin bersuara,mereka berjuang hidup dengan virus itu.Sebagaimana orang-orang lain hidup dengan penyakit lain-kanker,hepatitis,diabetes dll.Mereka tak beda dengan yang lain. Buku ini adalah tentang pembelajaran hidup dan membuka mata kita agar waspada HIV-AIDS yang semakin meluas ( bahkan melibas anak-anak negeri ini )
Aku Kartini Bernyawa sembilan Oleh: gaby - 08 October 2008
touch story dan bisa menjadi inspirasi bwat semua orang bukan hanya pengidap HIV tapi bagi semua orang yang membutuhkan support yang mau maju selain itu juga untuk yang mau menghadapi segala masalah tanpa harus lari dari masalah mereka seperti orang-orang yang ada di buku ini. great for all readers who want to read this book. You must read it.