Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Oleh: Debby Gontha
(Pengusaha dan Penikmat Sastra)
Begitu banyak kisah yang telah terjadi di dalam waktu. Kita menjalani hari-hari dalam waktu. Seringkali kita juga diburu oleh...
Oleh: Dr. Sabariamsyah, S.Pd, M. Hum
(Praktisi Pendidikan di Jepang)
Berbagai peristiwa penting atau berkesan dalam kehidupan, menjadikan setiap orang akan selalu berbeda cara dalam...
Setelah Fidel Castro (Kuba), Hugo Chavez (Venezuela) dan Mahmoud Ahmadinejaad (Iran), Juan Evo Morales Ayma muncul sebagai salah satu pemimpin negara yang dengan gagah berani menentang kesombongan dan arogansi Amerika Serikat. Presiden Bolivia ini telah menunjukkan bagaimana sebuah negara tidak bisa seenaknya diinjak-injak oleh para pemilik modal dan menjadi kepanjangan tangan dari imperialisme barat. Ia mampu bersikap keras dan tegas terhadap kekuatan-kekuatan yang berusaha untuk menindas rakyatnya.
Morales melakukan cara-cara untuk mengangkat harga diri bangsanya tanpa rasa takut maupun cemas, karena ia yakin bahwa rakyat akan selalu berada di belakangnya sepanjang dia benar-benar berjuang untuk kepentingan rakyat. Morales menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus lebih memilih berjuang dan mengabdi untuk kepentingan rakyatnya ketimbang tunduk pada sebuah kepentingan asing. Bermodalkan kepercayaan rakyat yang memilihnya dalam Pemilihan Umum, Evo Morales dengan gaya kepemimpinan yang lugas berhasil mengakhiri dominasi asing dalam pengelolaan sumber daya alam di negaranya hanya dalam waktu sekitar 10 bulan.
Tak cukup di situ saja, ia juga menunjukkan keperpihakannya kepada rakyat dengan melakukan berbagai kebijakan populis seperti melegalkan koka, redistribusi lahan, dan berbagai kebijakan sosial dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan hak-hak asasi manusia untuk rakyat miskin. Bahkan, ia juga melakukan pemotongan separuh gajinya untuk dialokasikan ke sektor pendidikan dan kesehatan. Sebuah teladan yang tentunya bisa menjadi inspirasi bagi para pemimpin negara-negara lain untuk mengelola negaranya termasuk juga Indonesia.