Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Buku ini dilatarbelakangi oleh gambaran problematika moneter & perbankan di negara Amerika Serikat, walau runtutannya disampaikan secara singkat namun terasa utuh untuk memahami betapa bahayanya...
Oleh : Muhammad Dullah Rivani
(Pemerhati Sastra dan Agama, bermukim di Doha, Qatar)
Puisi-puisi karya Leonowens SP, merupakan karya yang dibuat dengan kepekaan tinggi terhadap...
Membaca Perjalanan Sajak-sajak KJ Oleh: Handrawan Nadesul
Membaca sajak-sajak Kurniawan Junaedhie sampai sekarang, seperti membaca kembali saat hari pertama kali ketemu KJ atau Jun –begitu saya biasa memanggilnya-- di Purwokerto lebih 30 tahun lalu. Saya kira mulut Jun tidak lebih lincah dari pikiran-pikiran yang mengalir dalam sajaknya. Saya sudah melihat sajak-sajak Jun waktu itu bukan sajak biasa.
Lebih 30 tahun kemudian, nyatanya saya tidak ingin berhenti membaca seluruh sajak produksi sampai tahun 2009 yang ia email dalam format Pdf. Tak kurang dari dua jam suntuk saya membaca semuanya, dengan beberapa kali ada yang perlu saya mengulang membacanya.
Membaca kembali sajak-sajak itu saya seperti sedang membaca kembali masa lalu milik banyak siapa, dan saya ikut meleleh begitu saja bersamanya. Enak juga rasanya melayang-layang bersamanya di sana, ketika sekarang hidup di luar habitat penyair saya sendiri makin merasa asing.
Jun memang istimewa. Masih seperti dulu, ia centil dalam pikiran, nakal dan liar imajinasinya, sajaknya mengalir sangat lentur dan encer, lalu mengena di hati. Kata orang, sajak tak perlu dimengerti, tapi dinikmati. Saya sudah menikmatinya.
Sajak Jun lahir dari momen pilihan yang ranum, yang dipungutnya dari mana-mana. Mungkin hanya cipratan kenangan, tidak dari awang-awang, bukan pula harus yang berbunga-bunga. Sajak-sajaknya sosok yang sederhana tapi buat saya sungguh menyentuh sekali.
Lebih dari itu, Jun jujur sekali. Tema-tema sajaknya milik siapa saja. Tapi bagaimana pikiran, perasaan, dan sikap Jun yang saya duga apa adanya terhadap tema yang dipungutnya bisa dari mana saja, dan entah kapan saja itulah yang menjadikannya bukan sajak biasa.
Imajinya kaya. Nuansa yang dibangunnya terstruktur mengantar kita menyelami ketajamannya membuahkan pikiran-pikiran, kedalamannya beremosi, dan keteguhannya bersikap. Sajak yang senantiasa terasa memberi gelegak, dan kita terpagut olehnya justru karena dituang seadanya, dengan jujur sekali.
Sekali lagi kekuatan saja-sajak Jun kesederhanaan menuangkan kecerdasannya berpikir tentang tema yang diusungnya. Jun saya kira penyair yang cerdas. Kecerdasan dalam menyair penting kalau sajak masih mau dibaca orang. Dan pada Jun amat ditunjang oleh pengalaman emosi, penggalan kenangan, dan nostalgia yang seakan tak pernah selesai. Ihwal kerinduan, rasa sepi, rasa cinta, sesal, dan kecewa menjadi kendaraan pilihan dari mana Jun, atau siapa pun penyairnya, memberangkatkan semua catatan hati dan pikirannya. Jun tidak salah arah dan benar pula cara menempuhnya. Saya kira Jun masih seorang penyair. Roh sajak-sajaknya kental dan pekat. Sekali lagi perlu dibilang, kekuatan sajak-sajak Jun dalam hal membuahkan pikiran-pikiran yang dengan keinsafan penuh tidak mau terjebak menjadi emosional, namun longgar dan bersahaja saja.
Kalau ada kekurangan Jun dan sajak-sajaknya yang perlu diungkap, Jun sudah membuat saya cemburu. Cemburu karena Jun jeli dan cerdik membuat yang sederhana menjadi akbar. Sekurang-kurangnya pada perasaan hati saya sendiri. Proficiat Jun, dan terima salam tabik dari saya, masih Hans yang dulu.
Jakarta Juli 2009
* Handrawan Nadesul, seorang dokter dan penyair. ------------------------------------------------
Apa Kata Sejawat?
Sony Farid Maulana (Penyair & Wartawan, Bandung): Membaca puisi yang ditulis oleh penyair Kurniawan Junaedhie adalah membaca sejarah puisi Indonesia itu sendiri, yang tidak hanya ditulis oleh satu orang penyair, melainkan ditulis oleh banyak orang, tak putus-putus dari generasi ke generasinya. KJ hadir di dalamnya dengan segala pergulatannya dalam mencari bentuk pengucapan yang khas miliknya pribadi. Sajak-sajaknya menampilkan kesederhanaan daya ucap, namun tidak demikian dengan isi yang dikandungnya, penuh makna. KJ adalah sosok penting bagi zamannya. Apa yang telah dihasilkannya selama ini, bisa kita apresiasi dalam kumpulan puisi ini, bahwa ia bukan penyair sekedar.
Adhie M Massardi (Penyair, Wartawan & Aktivis, Jakarta): Satu hal yang nyaris tak dimiliki oleh profesi lain kecuali penyair adalah Kesetiaan. Tapi sebaik-baik penyair adalah yang memiliki kesetiaan kepada Cinta. KJ memiliki vitalitas luar biasa dalam Cinta, yang ditorehkan atau disembunyikan dalam sajak-sajaknya, dari tahun ke tahun.
Dharmadi (Penyair, Purwokerto): Bermacam jalan hidup dan kehidupan telah ditempuh KJ. Tetapi Mas Jun, begitu saya menyapanya, yang telah saya kenal sejak tahun 1970-an, ternyata seorang lelaki yang tak pernah padam daya kreativitasnya. Kadang saya ngiri juga.
Hendry CH Bangun (Penyair & Wartawan, Jakarta): Yang paling menyenangkan dari membaca sajak-sajak KJ adalah kita sering merasa menjadi subjek dari sajak itu. Sajaknya seperti mewakili diri kita dalam berbagai peristiwa, seperti dunia yang penuh rasa bimbang, cinta yang mengasyikkan, hidup yang penuh liku.
Fakhrunnas MA Jabbar (Penyair, Pakanbaru): Sederhana, akrab dan konsisten. Itulah 35 tahun perjalanan puisi-pusi KJ. Kesederhanaan tema yang mengungkap dialektika jiwa membuat puisi-puisi KJ terasa akrab bagi siapa saja. Istimewanya, konsisten KJ selama 35 tahun yang tetap terasa hingga kini.
Dianing Widya Yudhistira (Novelis, Cerpenis & Penyair, Jakarta): Mas Kurniawan di samping piawai membuat cerpen, juga terampil melahir- kan puisi. Puisi-puisinya menyentuh dan kadang mengharukan. Saya ingat salah satu puisinya tentang ibu.
Iwan Soekri (Penyair, Bekasi): KJ adalah pendekar kata-kata yang mahir sekali memainkan kata-kata sebagai pedangnya, yang dapat menohok langsung pembacanya, terutama dalam menyusun puisinya. Puisinya selalu mengusung kata-kata sederhana, namun KJ, menghadirkan kata-kata itu menjadi sebuah senjata tajam dalam mengkomunikasikan pesan-pesannya kepada pembaca.
Salimi Ahmad (Penyair, Tangerang): Satu lagi jejak langkah dari seorang KJ, yang piawai dalam mengolah kata, dapat kita nikmati. Sebuah kumpulan puisi yang memberi kontribusi warna warni bagi perkembangan sastera di Indonesia. Selamat, dan salam sastra untuk Indonesia !
Adri Darmadji Woko (Penyair dan Wartawan, Depok): Percintaan seekor singa? Saya tidak tahu apa kisah cintanya secara intents atau mengikuti naluri keliarannya. Saya merasakan, kecintaan KJ terhadap puisi lantaran nalurinya yang buas’ demi menyalurkankreativitas yang tak terbendung. Saya mengenal KJ sejak awal kepenyairannya 35 tahun lalu. Ibarat singa yang lapar dan haus pada cinta, KJ menulis puisi bukan sebagai obyek, melainkan sebagai kebutuhan batinnya.
Dharnoto (Dramawan & Wartawan, Tangerang): Walau bersahaja, sajak-sajak KJ terasa berenergi. Seperti aum singa. Mencakar udara. Namun, seiring usia, singa itu lebih bijak dalam mengaum. Lebih platonik. Lebih familiar. Lebih membelai. Tapi tetap singa. Bagi dirinya sendiri.
Saut Poltak Tambunan (Novelis & Penyair, Bekasi): SURVIVAL BY THE PEN! Mungkin ungkapan ini paling pas untuk seorang KJ yang 35 tahun jatuh bangun di dunia tulis menulis. Jika ia membukukan puisi ( menurut pengakuannya ‘memalukan dan mengecewakan’) sebagai rekaman perjalanan hidupnya, itu juga membuktikan bahwa KJ sangat piawai dalam mengolah rasa dan kata, apa pun bentuknya. Selamat, Kawan KJ, saya ikut ‘malu dan kecewa’. Anda orang besar yang dibesarkan oleh karya sastramu sendiri!
Aant S Kawisar (Penyair, Yogyakarta): Bagi saya, terbitnya kumpulan puisi ini, pertama-tama dan yang terpenting adalah hadirnya sosok kepenyairan seorang KJ secara utuh. Terlebih karena dalam waktu yang cukup lama KJ seperti menghilang dari dunia kepenyairan. Keutuhan tersebut tampak pada konsistensi KJ pada bentuk pengucapan “aku lirik”yang telah dilakoninya sejak awal kepenyairannya, yakni “aku” yang membaca “diriku” secara jujur, kocak, dan tragik, dalam ruang keseharian. Mulai dari cita-cita sederhana yang pernah hinggap pada masa kanaknya untuk menjadi seorang masinis kereta, pergumulan hidup sebagai warga urban di Jakarta, torehan kenangan akan kampung-halaman, cinta, keluarga, dan seterusnya, hingga sampai pada pengakuannya, bahwa “aku bukanlah Hamlet, tapi hanya seorang KJ yang memberontaki hidup karena didesak 1001 keinginan duniawi”. Secara keseluruhan, keutuhan sosok kepenyairan KJ kian lengkap ketika ia sampai pada keterbatasan dimensi raung dan waktu dalam beberapa sajak terakhirnya, sebagai bentuk kesadaran adanya batas sebuah perjalanan, dengan hadirnya bayang-bayang kematian di rambut yang memutih, dan sudah menguning kartu-kartu natal yang dikirim Adri….; Jujur, kocak, dan tragik.
Handry TM (Penyair, Semarang): Membaca sajak-sajak KJ, seperti membaca loncatan pikiran sang penyair tanpa beban metafor, simbol maupun ungkapan yang ditata-tata. Sesuai dengan titi - mangsa penulisannya, di masa ia sangat remaja, lahirlah puisi-puisi romantik macam ‘Puisi Bulan September’ yang sangat langsung, namun juga sangat simbolistik ketika KJ menuliskannya di saat usia matang. Yang pasti, selalu kutangkap isyarat cinta dari sajak-sajaknya...
Adek Alwi (Penyair & Cerpenis, Depok): Bagi saya, puisi elok itu bak jendela. Menampakkan, membuka, membuat yang jauh jadi akrab. Sajak-sajak KJ tergolong demikian, bahkan sejak ia rajin menulis puisi di tahun 1970-an. Di dalamnya saya juga bersua aroma pantun bagai halnya sajak-sajak Sitor Situmorang; Sesuatu yang akrab dengan latar budaya saya.
Ags. Arya Dipayana (Penyair, Aktor & Dramawan, Jakarta): Lewat sajak-sajaknya, KJ berhasil menyulap peristiwa sehari-hari menjadi ruang kontemplasi. Kadang seperti igauan, gumam, renungan atau tawa lirih dalam nada rendah. Pada saat yang sama, peristiwa-peristiwa kecil itu menjadi metaforik, akrab dan hangat, justru karena kesederhanaannya.
N. Syamsuddin Ch. HAESY (Penikmat Puisi, Jakarta): Kurniawan Junaedhie, yang saya kenal sejak lama, secara pribadi adalah penyair yang saya hormati. Puisi-puisinya sejak masa remaja, ketika sempat saya koleksi dengan baik. Tak hanya puitik, kebanyakan puisi-puisi KJ termasuk ‘puisi alit’ (pinjam istilah Pak Piek Ardiyanto) yang indah. Di dalam puisinya, kata tak berhenti hanya sebagai kata, melainkan padu padan estetika – artistik – dan etika. Sebagai seorang yang tidak pernah sukses menulis puisi, saya ‘cemburu’ dengan kepiawaiannya menulis puisi. Sampai kini, saya selalu menempatkan puisi-puisi KJ laksana “diam yang selalu berbicara”. Entah kapan saya bisa menulis puisi seperti KJ melakukannya. Dan 35 tahun kepenyairan KJ, bagai kendara yang melaju sangat cepat, sementara saya masih berjalan di tempat, mereka dan mengeja bagaimana cara menulis puisi. Sukses KJ.
Kurnia Effendi (Penyair & Cerpenis, Jakarta): Kurniawan Junaedhie sejak awal menempuh jalan lugas: membangun makna puisinya melalui harmoni antara gagasan, perasaan lelaki, dan peristiwa yang cepat ditafsir sebelum berubah suasana. Sepertinya ia sangat percaya bahwa nilai puitik dari sebuah sajak tidak semata disusun dari diksi yang indah dan genit. Setelah 35 tahun menyair, karakternya semakin kokoh, justru dengan kesederhanaan metafor yang dipilihnya.
Timur Sinar Suprabana (Penyair, Aktor Pertunjukan Seni Baca Puisi dan Spiritualis, Semarang): Sajaksajak Kurniawan Junaedhie menjadi komunikatif, menyentuh dan menarik justru karena inilah sajaksajak yang lahir dan hadir nyaris tanpa akrobat katakata dan juga justru karena tak diberati dengan lekapanlekapan metafora yang gelap. Sungguh sajaksajak yang Jujur dan oleh karenanya menjadi Indah sebab Sederhana!
Membaca Cinta Seekor Singa Kurniawan Junaedhie Oleh Adek Alwi
Sabtu, 21 Nopember 2009 TUJUH puluh sembilan sajak Kurniawan Junaedhie terdapat dalam kumpulan sajak terbarunya, "Cinta Seekor Singa: Sajak-sajak 1974-2009", terbitan Bisnis 2030. Dengan subjudul "Sajak-sajak 1974-2009" itu terang sudah kumpulan ini merupakan kompilasi, atau semacam rekam-jejak kepenyairan KJ dalam rentang waktu yang tak singkat, 35 tahun. Karena kompilasi, maka dalam "Cinta Seekor Singa" dimuat sajak-sajak yang tentu dimaksudkan KJ menjadi cerminan karya-karyanya di empat periode itu. Tampillah 10 sajak mewakili periode 1970-an, periode 1980-an 18, periode 1990-an 38, periode 2000-an 13 sajak. Pemuatan sajak-sajak itu berurutan sesuai periode penulisannya.
Dengan komposisi isi seperti itu, banyak hal dalam perjalanan kepenyairan KJ pun terlihat. Sebutlah bentuk sajak dia serta kecenderungannya, cakupan tema yang ia garap, dan hal-hal yang lenyap atau ditinggalkan di puisi-puisi yang ia tulis kemudian. Atau sebaliknya, hal-hal yang menetap serta tambah matang seiring jalan usia dan jam terbang KJ selaku penyair yang tahun ini memasuki tahun ke-35 itu.
Dari segi bentuk, puisi-puisi KJ amat beraneka. Ada yang mirip dengan bentuk tradisional yaitu pantun, dengan empat larik tiap bait, seperti terlihat misalnya di sajak "Lagu Percintaan", "Waktu", "Sajak Orang Kasmaran", "Januari 2003" dan lainnya. Tetapi panjang-pendek larik di sajak-sajak itu tidak seteratur pantun. Begitu pula rima akhirnya. Ada yang berpola aa aa, tapi di bait berikut itu tak lagi dipedulikan, dan tak pula memakai pola ab ab seperti lazimnya rima akhir pada sampiran serta isi pantun. Unsur sampiran dan isi yang menjadi ciri pantun juga tidak terdapat dalam sajak KJ: paling banter samar saja menguar, ini pun jarang.
Jika begitu, apa yang membuat sajak-sajak KJ itu terasa dekat dengan pantun? Selain larik yang tertib empat-empat tadi, unsur sampiran dan isi yang terkadang hadir secara samar, irama sajak-sajak itu berperan dalam hal ini. Membacanya saya seperti menikmati irama pantun. Dan itu agaknya berasal dari diksi yang tepat, tambah rima akhir meski tak tertib, serta rima internal juga rima identik. Berikut bait pertama dan kedua sajak "Januari 2003" yang terdiri atas tiga bait:
Jika kupandang pohon cemara berdiri Kurasa hati jadi gamang Kemana cinta pergi, Ke sumur hati terdalam, adikku sayang. Di situ ada jalan berliku Dan bukit menanjak di kaki langit, di situ hatiku karam terjal Seolah tercium bau sangit. Dari tanda-tanda itu saya ingin tegaskan sajak-sajak itu memang terinspirasi oleh pantun. Terinspirasi di sini dalam taraf umum, seperti juga ditemui di sajak-sajak penyair Goenawan Mohamad serta Chairil Anwar. Hal itu terjadi karena pantun bagian dari jatidiri kita, kehidupan kita. Dengan begitu, wajar pula kalau pada Hartojo Andangdjaja terlebih-lebih lagi Sitor Situmorang, terinspirasi itu menemukan maknanya yang lebih. Pada Hartojo terlebih Sitor pantun tak sekadar diterima sebagai sesuatu yang akrab dengan kehidupan kita tapi juga berlanjut dengan menjadikannya lahan yang asyik pula untuk diolah.
Namun bagai disebut di atas, bentuk sajak-sajak KJ tak hanya yang seperti itu. Di "Cinta Seekor Singa" kita temukan pula sajak-sajak panjangnya dengan bangunan bait tidak teratur: satu, dua, tiga, empat malah lebih. Begitu pula lariknya, panjang dan pendek, dan bak tampil sesukanya dalam sebuah sajak.
Bentuk lainnya dari sajak KJ, terutama sajak-sajak yang ditulis periode 1990-an dan 2000-an, terlihat kecenderungan menjurus ke naratif, seolah bertutur, berkisah.
Dengan aneka bentuk sajak seperti itu heran juga kenapa KJ tak memasukkan sajak-sajak kwatrin dalam "Cinta Seekor Singa". Hemat saya, sajak-sajak kwatrin KJ seperti di kumpulan sajak "Selamat Pagi Nyonya Kurniawan", terbitan Kolase Kliq tahun 1978, cukup pula kuat dan ikut mewarnai jalan kepenyairannya.
Di sajak-sajak kwatrin itu imaji dibangun dari yang bisa diberikan warna, dan pemakaian kata hemat. Sajak-sajak itu umpamanya "Kwatrin Hijau", "Kwatrin Kuning", "Kwatrin Cokelat", "Kwatrin Merah Jambu", "Kwatrin Kelabu". Berikut kutipan dari "Kwatrin Hitam":
daki daku, daki jika pun aku gunung. daki daku, daki keluhku senantiasa tak terbagi. Meski tidak berbentuk kwatrin di "Cinta Seekor Singa" hadir pula sajak-sajak yang juga kuat, justru sebab pemakaian kata yang hemat tadi dan pemanfaatan banyak kata dasar. Sebut misalnya sajak "Tanah Lahir" dan "Saat Edelweiss Diputar" berikut ini:
kenapa tidak sepekan, tapi sembilan bulan, kita dikandung badan? kenapa tidak berseri, tapi dengki bersarang di hati? kenapa tidak sajak, tapi hidup layak, kita cari?
saat edelweiss diputar, nak, aku makan hati manusia Karena kedua sajak itu ditulis pada periode yang sama (1970-an) dengan puisi-puisi kwatrin tadi, maka agaknya dapat ditandai ciri sajak-sajak KJ periode itu. Antara lain pemakaian kata yang hemat tadi, diksi yang terjaga hati-hati, pemanfaatan banyak kata dasar, juga kecenderungan untuk taat benar pada unsur-unsur sajak seperti upaya membangun imaji, metafora, dan lainnya.
Di periode berikut terutama periode 1990-an dan 2000-an berbagai hal itu terkesan tak begitu ketat lagi. Ini yang menyebabkan sajak-sajak KJ pada periode-periode terakhir itu terasa lebih cair, lebih komunikatif, lebih bersahaja.
Tetapi ingin pula saya sebutkan bahwa, pertama, pergeseran seperti itu dalam periode kepenyairan yang terbilang panjang suatu hal yang wajar, kalau tidak niscaya. Sutardji Calzoum Bachri setelah gulang-gulung berbilang tahun dengan puisi-puisi mantra akhirnya menulis puisi seperti "Tanah Air Mata" yang juga terkesan lebih cair, bersahaja, lebih komunikatif, dibanding sajak-sajak dia sebelumnya.
Kedua, kebersahajaan atau lebih cair dan lebih komunikatif memang tak selalu berarti tidak dalam, atau tidak mampu memberikan sesuatu yang bernilai. "Tanah Air Mata" Sutardji itu dapat lagi diambil buat contoh. Dan pada KJ, banyak sajaknya dari periode 1990-an dan 2000-an juga membuktikan hal itu. Ambil misalnya sajak "Cinta Ayah" yang berkisah tentang kefanaan hidup serta cinta seorang ayah ke keluarganya: anak-anak, serta istri. Menulis KJ di tiga larik akhir bait kedua sajak itu: Jika ada yang membuatku ingin kembali/Itulah kalian, orang-orang yang membuatku pernah/betah di bumi/. Lalu bait penutup sajak ini pun, yang bagi saya terasa indah dan bermakna: Umur ternyata hanya kendaraan/ke kota bernama keabadian.
Sajak "Cinta Ayah" itu dijadikan contoh karena di periode 1990-an dan 2000-an tema dominan sajak-sajak KJ keluarga, serta kerinduan pada masa lalu juga kota kelahiran. Saya tidak tahu apakah itu karena pengaruh usia yang tidak muda lagi, tapi yang juga mengemuka di sajak-sajak itu, kerinduan tersebut tidak disikapi KJ dengan galau. Bisa jadi karena KJ sudah sampai ke hakikat "umur ternyata hanya kendaraan, ke kota bernama keabadian" tadi.
Jika asumsi itu benar, maka bagi saya lazim pula kalau sajak-sajak KJ periode-periode terakhir itu banyak digelimangi humor. Lihat saja judul-judul ini: "Nostalgia Ketinggalan Kereta", "Antara Kambing, Teringat Kamu", "Laki-laki Sontoloyo Ingin Menjadi Singa". Metafor-metafornya pun, yang dipetik dari hal-hal yang terlihat sehari-hari, mengundang senyum. Coba: Begitulah nasib laki-laki yang nglokro/hanya layak jadi teman kecoa/dan sahabat ternak. (Sajak "laki-laki Sontoloyo").
Atau: cuma karna kamu/aku ogah bongkok, seperti barang rongsok. (Sajak "Antara Kambing"). Begitulah "Cinta Seekor Singa", kumpulan sajak KJ sahabat saya, yang pada 24 November nanti berusia 55. Akhirnya sebagai kado saya kutipkan bait awal sajak dia, "Umur", yang ditulis tahun 1991 dan menurut saya tergolong kuat, indah, sekaligus lucu: november datang lagi. berapa usiamu?/ kerut kulit, buncit di perut/dan bayangan maut, datang silih berganti/kita memang bukan ahlinya/yang bisa memutar turbin waktu. ***
* Adek Alwi adalah sastrawan, wartawan, dan dosen Poltek UI.
Dimuat di harian SUARA KARYA Sabtu, 21 Nopember 2009