Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Oleh: Debby Gontha
(Pengusaha dan Penikmat Sastra)
Begitu banyak kisah yang telah terjadi di dalam waktu. Kita menjalani hari-hari dalam waktu. Seringkali kita juga diburu oleh...
Oleh: Dr. Sabariamsyah, S.Pd, M. Hum
(Praktisi Pendidikan di Jepang)
Berbagai peristiwa penting atau berkesan dalam kehidupan, menjadikan setiap orang akan selalu berbeda cara dalam...
Biasanya kisah-kisah tentang orang-orang yang amat sangat sukses menonjolkan faktor kecerdasan dan ambisi. Dalam buku Outliers, Malcolm Gladwell mengemukakan bahwa kisah sejati tentang sukses benar-benar berbeda dengan apa yang biasa kita baca, dan bahwa jika kita ingin memahami bagaimana perjuangan orang-orang, kita seharusnya meluangkan waktu lebih banyak untuk mengamati apa yang ada di sekeliling mereka-misalnya keluarga mereka, tempat lahir, atau bahkan tanggal lahir mereka. Kisah di balik kesuksesan ternyata jauh lebih rumit-dan jauh lebih menarik-ketimbang yang terlihat di permukaan.
Buku Outliers ini menjelaskan apa persamaan Beatles dan Bill Gates, kesuksesan luar biasa bangsa Asia dalam bidang matematika, keuntungan tersembunyi yang diperoleh bintang-bintang olahraga, mengapa semua pengacara New York memiliki riwayat hidup yang sama, dan alasan mengapa orang-orang genius tidak selalu sukses---semuanya berhubungan dengan generasi, keluarga, budaya, dan kelas sosial. Menurut Gladwell, sangatlah penting tahun berapa Anda lahir jika Anda ingin menjadi miliarder Lembah Silikon dan sangatlah penting di mana Anda lahir jika Anda ingin menjadi pilot yang sukses. Hidup para outlier-orang-orang yang pencapaian suksesnya di luar jangkauan normal-mengikuti logika yang aneh dan tak terduga.
Sukses pada dasarnya adalah tentang kesempatan dan warisan budaya.
OUTLIERS: The Story of Success.Memaknai Kembali Asal Usul Kesuksesan Oleh: Meicky Shoreamanis Panggabean* - 06 July 2009
Apa persamaan The Beatles dan Mozart ? Mengapa dua jenius besar bisa memiliki nasib yang bertolak belakang: Robert Oppenheimer berhasil menembus Harvard dan Cambridge lalu menjadi fisikawan terkemuka di Amerika sedangkan Chris Langan hanya lulus SMA dan kini menjalani hidup sebagai petani? Mengapa sebagian besar pemain hockey kawakan di Kanada lahir di bulan Januari? Mengapa perintis perusahaan komputer besar di Amerika hampir semuanya lahir di tahun 1955? Mengapa tingkat kecelakaan pesawat terbang Korean Airlines memiliki kaitan dengan analisis kultural dan linguistik ?
Pertanyaan-pertanyaan di atas nampaknya tak berkaitan satu dengan yang lain namun jika kita membaca buku ini, kita akan tahu bahwa sesungguhnya ada seutas benang merah yang menjadikan mereka satu:Bagaimana kesuksesan bisa diraih.
***
Sebagian orang menganggap bahwa kesuksesan diraih karena nilai-nilai instrinsik: kerja keras dan kepandaian. Dalam buku ini, Malcolm Gladwell menyanggahnya dan memaknai kesuksesan sebagai kombinasi dari berbagai faktor. Keberhasilan adalah akhir dari kepandaian, kemauan keras untuk memanfaatkan kesempatan yang ada, keberuntungan, peristiwa dalam sejarah dunia dan momen-momen tertentu di kehidupan pribadi yang semuanya dialami oleh orang yang tepat dan berlangsung di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat.
Sesungguhnya Gladwell, mantan jurnalis The Washington Post yang menelurkan dua buku best-seller sejak kepindahannya ke majalah New Yorker, sedang menyampaikan gagasan-gagasan lama. Di sepanjang tulisan, ia tak menyebut secara eksplisit nama dari sosok nyata yang tak sependapat dengannya. Ia cenderung melakukan monolog, yaitu berdebat dengan ‘we’. Saya rasa hal ini terjadi kemungkinan besar karena memang tak ada orang yang membantah gagasan klasik tentang makna kesuksesan di buku berdesain minimalis ini.
Bagaimanapun, Gladwell menyuguhkan ide-idenya dengan renyah sehingga mudah dipahami. Seperti halnya ‘Tipping Point’ dan ‘Blink’, dua karya yangmembuatnya dijuluki pop sociologist oleh beberapa media, ‘Outliers’ tampil dengan bahasa yang ringan dan menghadirkan banyak studi kasus yang jarang bisa diakses melalui harian atau majalah. Banyak nama besar dan fenomena menarik bermunculan sebagai contoh.
Simak saja, Gladwell menyoroti kecenderungan bangsa Yahudi di Amerika untuk menjadi pengacara atau dokter serta kemampuan matematis orang Asia yang jauh lebih baik dibandingkan rekan-rekan mereka di Barat. Ia lantas bertanya, mengapa itu semua terjadi ? Sangat mungkin ini juga pertanyaan jutaan orang lainnya yang kerap dilontarkan dalam obrolan ringan di kafe atau dibahas iseng-iseng di milis. ‘Outliers’ berusaha menjawab dan para penggila baca di Amerika pun langsung menjadikan buku ini bahan perbincangan sejak penerbitan perdananya November tahun lalu.
***
‘Outliers’ mengacu pada situasi atau sosok yang secara signifikan berbeda dengan yang lain. The Beatles adalah outlier dalam sejarah musik dunia yang telah menghasilkan puluhan band terkenal. Bill Gates adalah outlier di antara ratusan ahli komputer yang sekarang bisa dengan mudah kita jumpai di era high-tech ini. Tingkat kecelakaan yang dialami Korean Air di masa lampau juga termasuk tinggi dan karenanya dianggap outlier mengingat pesawat mengalami naas saat pilot sedang dalam kondisi prima dan pesawat terbilang layak terbang. Lantas apa yang menyebabkan mereka menjadi outliers?
Mari kita intip daftar 75 orang terkaya sepanjang sejarah, dari mulai tokoh Mesir Kuno yaitu Cleopatra dan Firaun hingga nama dari zaman modern seperti Bill Gates dan Sutan Hassanal Bolkiah. Jika daftar itu dicermati, kita akan menemukan sebuah fakta unik berupa 14 orang Amerika yang lahir antara 1831-1839. Bayangkanlah jumlah generasi yang terentang dari mulai Firaun hingga Bill Gates dan jumlah negara yang pernah ada di muka bumi. Lihatlah bahwa 20% dari daftar di atas ternyata berasal dari sebuah generasi di sebuah negara !
Gladwell yakin ini terjadi karena tahun 1860 dan 1870an Amerika sedang menuju masa keemasan:Ketika itulah Wallstreet lahir, pabrik didirikan dan jalur kereta mulai dibangun. Mereka yang lahir di sekitar 1850an kehilangan momen untuk berpartisipasi karena terlalu muda sedangkan mereka yang lahir tahun 1820an sudah terlalu tua dan kerangka berpikirnya tak bisa lagi mengikuti perkembangan zaman. Di antara dua pihak ini terbentanglah 9 tahun periode yang memberi bayi-bayi kesempatan emas untuk kelak berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi saat dewasa.
Contoh kasus di atas menunjukkan kita keyakinan Gladwell bahwa faktor ekstrinsik amat berperan dalam kesuksesan seseorang:peristiwa tertentu dalam sejarah dunia, misalnya. Nampak sekali bahwa ia bahkan percaya bahwa elemen ekstrinsik ini kerap lebih menentukan daripada instrinsik. Pembahasan macam ini tak hanya muncul sekilas namun mewarnai isi buku secara kental. Tak heran jika lantas terpancar kuat dari isi buku bahwa dalam sebuah kesuksesan, peran kerja keras urutannya hanyalah nomor dua setelah keberuntungan.
Padahal, sebagai seorang intelektual yang berkutat dengan ilmu psikologi dan sosiologi, ia tentu tahu kisah Victor Frankl, seorang psikiater yang mengalami siksaan Nazi namun bisa bertahan hidup hingga umur 90. Pada kasus Frankl, yang berhasil menulis lebih dari 20 buku setelah mengalami tahun-tahun penuh aniaya, kesuksesannya jauh lebih ditentukan oleh nilai-nilai intrinsik dan bukan ekstrinsik, yaitu kerinduan untuk berjumpa istri dan keinginan untuk memperoleh makna hidup dengan cara berkarya
Mustahil juga sebagai seorang jurnalis dan penulis kawakan yang menetap di Amerika ia tak tahu surat-surat Ibu Theresa dari Kalkuta. Kumpulan surat ini pernah menjadi laporan utama di majalah terkemuka terbitan negara tempat ia berdomisili, TIMES, dan dibukukan ke dalam berbagai bahasa. Pergulatan batin perempuan Albania ini jelas menunjukkan bahwa upaya karitasnya bisa berkembang, buka hanya bertahan, sebagian besar karena nilai-nilai intrinsik seperti ketabahan serta kepasrahan.
Bagaimanapun, saat buku sudah terbit, pengarang pun mati. Sebagai pembaca kita memiliki kebebasan penuh untuk memaknai kesuksesan. Kita bisa melahap buku ini mentah-entah atau terpana pada rasanya yang gurih dan, pada saat yang sama, menjadi pembaca yang memiliki sikap kritis.
*Guru Pelita Harapan Lippo-Cikarang, Penulis ‘Keberanian Bernama Munir:Mengenal Sisi-sisi Personal Munir’ (Mizan, 2008).
Ini Bukan Soal Kerja Keras. Ini Masalah Kesempatan dan Warisan Budaya Oleh: Eviwidi - 01 June 2009
Ini Bukan Soal Kerja Keras. Ini Masalah Kesempatan dan Warisan Budaya
Tuesday, May 26, 2009 at 3:10pm
Outliers: Rahasia di Balik Sukses, Malcolm Gladwell, Penerjemah: Fahmi Yamani, Gramedia Pustaka Utama, 2009
Karena novel -dan, bahkan buku kumpulan tulisan dari blog pun- banyak yang kemudian berakhir di layar lebar, maka tak ada salahnya sesekali membaca buku macam Outliers karya Malcolm Gladwell ini. Buku semacam ini barangkali sampai kapan pun tidak akan pernah kau saksikan versi filmnya. Ah, tapi aku tahu, kau akan segera bilang: aku bukan orang bisnis, jadi ke laut ajalah segala macam buku kisah sukses. Jangan apatis dulu. Kau pikir aku peduli dengan cerita orang tentang bagaimana mereka jadi kaya raya? Tapi, coba deh, sedikit buka hati dan pikiranmu. Buku ini justru "meralat" secara cukup mendasar pandangan dan keyakinan orang selama ini tentang satu kata yang dipuja-puja: sukses.
Dengan agak congkak tapi benar, penulis buku ini mencibir pada kisah-kisah tentang "orang yang bangkit dari nol", serta mereka yang konon sukses bukan karena warisan atau faktor orang tua melainkan keringat sendiri. Menurut mantan reporter bisnis Washington Post ini, berbagai penjelasan tentang kesuksesan seperti itu tidak ada artinya. Dengan mantap dan meyakinkan (karena didukung ilustrasi yang detail dan jlimet) dia menegaskan bahwa orang-orang tidak bangkit dari nol. "Kita berutang sesuatu pada orang tua dan dukungan orang lain," kata dia. Orang-orang yang sukses, simpul staf The New Yorker yang sebelumnya menulis buku best seller The Tipping Point ini, adalah penerima berbagai keuntungan yang tersembunyi, kesempatan yang luar biasa dan warisan kebudayaan yang membuat mereka bisa belajar dan bekerja keras, serta menghadapi dunia ini dalam cara yang tidak bisa dilakukan orang lain.
Kesimpulan semacam itu membuat kita lega dan gembira, sekaligus pesimis. Lega dan gembira, karena sukses ternyata bukan monopoli orang-orang miskin tapi sedikit pintar dan ambisius, yang dengan kerja kerasnya berhasil keluar sebagai pemenang di antara orang-orang lain yang hidup sezamannya. Pesimis, karena di sini secara eksplisit terdapat campur tangan dari "takdir". Bahkan, tempat dan kapan kita tumbuh besar memiliki pengaruh yang cukup besar, dan kebudayaan tempat kita dibesarkan berikut warisan yang diturunkan oleh para pendahulu kita membentuk berbagai pola keberhasilan kita dalam cara yang tidak bisa kita bayangkan. Namun, masih ada kabar gembira antara dua rasa yang bertolak belakang tadi: gembira atau pesimis, makna dari kesimpulan Gladwell itu tiada lain adalah, sukses (atau gagal) itu sesuatu yang bisa dilacak logikanya. Ingat pelajaran biologi waktu SMP? Ada istilah "ekologi" untuk sebuah organisme. Pohon tertinggi di hutan menjadi yang tertinggi bukan karena ia tumbuh dari biji yang paling gigih, melainkan karena tidak ada pepohonan lain yang menghalangi sinar matahari, tanah di sekelilingnya subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya ketika masih kecil, dan tidak ada tukang kayu yang menebangnya sebelum dewasa.
Jika buku-buku tentang kisah sukses lain lebih banyak bicara tentang "bibit yang bagus", maka buku ini bicara tentang "sinar matahari yang menghangatkan bibit itu". Juga, tentang tanah yang menjadi tempat tumbuh akar-akarnya, serta para kelinci dan tukang kayu yang bisa (dan "harus") dihindari oleh sang bibit. Pendek kata, ini bukan buku tentang pohon yang tertinggi, tapi tentang hutannya. Oleh karenanya jangan heran (dan bersiap-siaplah untuk agak sedikit bosan) jika menjumpai kisah-kisah yang cukup aneh (yang dijelentrehkan panjang lebar berlarat-larat), misalnya tentang tim olahraga hoki atau pilot-pilot pesawat komersil. Kau juga akan bertemu dengan (kisah-kisah tentang) musisi rock, pengacara dan pembuat program perangkat lunak. Mereka adalah para outlier, orang-orang yang melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Dengan membongkar rahasia mereka, Gladwell menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sangat salah tentang cara kita melihat dan menilai kesuksesan selama ini. Penasaran kan? Makanya baca hehehe....
Diambil dari Note Mumu Aloha di Facebook: http://www.facebook.com/album.php?aid=59914&id=44830888029&saved#/note.php?note_id=84818919485