Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Oleh: Debby Gontha
(Pengusaha dan Penikmat Sastra)
Begitu banyak kisah yang telah terjadi di dalam waktu. Kita menjalani hari-hari dalam waktu. Seringkali kita juga diburu oleh...
Oleh: Dr. Sabariamsyah, S.Pd, M. Hum
(Praktisi Pendidikan di Jepang)
Berbagai peristiwa penting atau berkesan dalam kehidupan, menjadikan setiap orang akan selalu berbeda cara dalam...
“Erick berhasil membuat ‘gol ketawa’ yang indah dengan ‘tendangan’ komiknya!”
--Benny & Mice, Kartunis
Menurut saya mah ini buku teh cacat pisan! Jangan terlalu sering dibaca kalau kalian tidak mau jadi cacat juga! --Toni Masdiono, cergamis dan mulai ikut cacat
Anjrit! Gambarnya bagus. Dibikin dengan serius. Seperti sengaja mau kasih tahu orang bahwa Erick gambarnya bagus dan serius. Ini dia karya Erick. Kalau dia anak saya, akan saya anjurkan untuk terus bikin komik. Karena Erick itu gambarya bagus dan oh, serius di dalam membuat komik sehingga jadi oke lah dia.
--Pidi Baiq, Imam Besar The Panasdalam Serikat, penulis buku Drunken Monster, Drunken Molen, dan Drunken Mama
Bukan sembarang plesetan. Erick mampu mengambil istilah kesehariaan dan memanfaatkan kerancuan maknanya sehingga menjadi humor verbal-visul. Sepertinya kita sudah menemukan Gary Larson versi Indonesia.
From Bandung With Laugh: Komik Cacat Sesaat Oleh: Arimbi - 03 July 2009
Seperti halnya Comic Underrock, buku berlabel komik ini lebih tepat dikategorikan sebagai bunga rampai kartun. Komik strip yang mengandalkan kekuatan plesetan dan humor, meski tidak mengandung terlalu banyak bahasa Sunda sehingga lebih mudah dipahami pembaca dari luar Jawa Barat.
From Bandung With Laugh (yang di kepala saya entah mengapa terus bergaung plesetan With Lauk – alias Ikan) mengelompokkan isi dalam bab: Kuliner, Sehari-hari, Sekolah-kolah, Kripik Saran, Roman Tiis (Tiis berarti Dingin), Ruang Praktik Dokter Gogolak, Seputar Komputer, dan TKP. Satu yang mulai menerbitkan senyum adalah kartun Ikan Bakar Cianjur. Sesuai penafsiran di kepala saya bila sedang iseng, membayangkan seekor ikan membakar kota Cianjur. Namun ada juga yang membuat ngilu, seperti penerjemahan kata per kata babysitter yang menggambarkan seorang wanita menduduki bayi.
Bab Seputar Komputer cukup menggelitik. Misalnya di halaman 119, seorang guru tengah menerangkan pelajaran sejarah. “Kaisar Nero adalah tokoh kejam yang tega membakar Roma dan..” Murid menyela, “Penemu program untuk menduplikat CD!”
Sindiran tajam bertaburan pula dalam bab ini. Antara lain seorang konsumen pengguna komputer yang sangat pakar menelepon pegawai toko komputer untuk menanyakan beberapa hal teknis dan ternyata penerima telepon bahkan tidak memahami apa yang disebut memory (serta hanya tahu game Zuma). Cukup telak, walau pegawai toko komputer seperti demikian sangat jarang ditemui (karena pasti tidak bertahan lama alias dipecat segera). Juga terdapat komik strip tentang seorang pemilik komputer canggih yang menggunakannya hanya untuk bermain Solitaire.
Walau tidak menawarkan sesuatu yang relatif baru, From Bandung With Laugh layak menjadi bacaan santai.