Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Oleh: Debby Gontha
(Pengusaha dan Penikmat Sastra)
Begitu banyak kisah yang telah terjadi di dalam waktu. Kita menjalani hari-hari dalam waktu. Seringkali kita juga diburu oleh...
Oleh: Dr. Sabariamsyah, S.Pd, M. Hum
(Praktisi Pendidikan di Jepang)
Berbagai peristiwa penting atau berkesan dalam kehidupan, menjadikan setiap orang akan selalu berbeda cara dalam...
Pada tahun 1950-an, ketika masih di taman kanak-kanak, Katie Takeshima pindah dari Iowa ke Georgia, AS, bersama orangtua dan kakaknya, Lynn. Sebagai keturunan Jepang di AS, orangtua Katie hanya memperoleh pekerjaan seadanya di perusahaan pengolahan ayam.
Katie memercayai dan mengagumi Lynn, bahkan meskipun nasihat kakaknya itu kadang terasa tak masuk akal. Lynn juga memberitahunya segala hal, mulai dari betapa istimewanya warna langit, laut, dan mata manusia, sampai masalah rasial.
Ketika Lynn mengidap limfoma, mereka semua sedih, namun seiring perjuangan mereka menghadapi penyakit yang memburuk itu, Katie terus berpegangan pada pendapat Lynn, bahwa selalu ada sesuatu yang bersinar---kira-kira---di balik semua ini.
Novel ini bersinar. -- Publishers Weekly, starred review
Akan menyentuh pembaca yang telah atau takut kehilangan orang yang mereka sayangi. -- Booklist, starred review
Cynthia Kadohata, pertama kali baca bukunya yang berjudul Weedflower yaitu kisah tentang warga Jepang yang tinggal di Amerika. Dan sekarang buku kedua yang saya baca yang berjudul Kira-kira, juga tidak jauh berbeda yaitu tentang warga jepang yang hidup di Amerika.
Ditulis dengan gaya melankolis dan plot yang lurus, tidak mengurangi keindahan cerita fiksi dari penulis yang meraih Newberry award ini.
Kali ini, yang diangkat Cynthia adalah issue tentang buruh pabrik yang bekerja di pengolahan ayam di Georgia.
Cerita diambil dari sudut pandang seorang gadis bocah berumur lima tahun, tidak berbeda jauh model penceritaan yang diambil Cynthia saat menulis buku Weedflower.
Gadis kecil itu bernama Katarina yang biasa dipanggil Katie. Katie memiliki seorang kakak yang tekun dan sangat cerdas juga sangat cantik bernama Lynn. Lynn memiliki hati yang sangat lembut dan baik, hingga saat ada kejadian dia digigit anjing ketika berada di ladang jagung, dia tidak membiarkan anjing yang dilempar botol susu oleh Katie menjilati susu yang akan membuat lidahnya luka terkena pecahan beling, tapi Lynn justru menyemprotnya dengan air dari selang supaya anjing itu pergi.
Sayang, dibalik keceriannya,kecerdasannya, dan kecintaannya pada alam dan binatang, Lynn menderita penyakit Limfoma, yaitu jenis tumor akut yang timbul pada saluran getah bening atau lapisan lymphoid (hal. 146).
Kira-kira adalah kata pertama yang diajarkan oleh Lynn untuk Katie yang dalam bahasa jepang berarti “gemerlap”.
Bukan lantas kisah dalam buku ini nanti akan bercerita tentang gemerlapnya kehidupan keluarga Katie, akan tetapi dalam kesederhannya itulah sisi kemanusiaan dan hati mereka yang justru sangat gemerlap. Hati yang penuh cinta dan saling memperhatikan, keluarga yang selalu tolong menolong dan berprasangka baik, kerja keras, juga tentang keberanian untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan…
Kisah ini bersetting tahun 50-an dimana kaum buruh kala itu diceritakan sangat diperlakukan seperti robot, bekerja 12 jam nonstop bahkan demi pekerjaanya sebagai pemotong daging ayam, ibu Katie sampai memakai popok supaya tidak perlu ke kamar mandi jika ingin kencing hingga badannya berbau aneh.
Setelah pindah dari Iowa, tempat kelahiran Katie, keluarganya pindah ke Georgia dan mendapatkan pekerjaan sebagai buruh di pengolahan ayam milik pengusaha terkenal bernama Mr. Lyndon. Ayah Katie mendapat pekerjaan sebagai pemisah anak-anak ayam yang baru menetas, yang dipisahkan betina dari jantannya. Ayan jantan dianggap tidak berguna karena tidak bisa bertelur. Sedangkan ibu Katie bekerja juga di perusahaan yang sama hanya berbeda bagian.
Sebagai buruh, tentu gaji yang diterima tidaklah besar, apalagi harus menaggung sewa cicilan rumah,makanan, transportasi dan lain-lain. Tetapi hal itu tidaklah menjadi halangan bagi keluarga itu untuk bahagia, kebahagiaan semakin lengkap saat anak mereka yang ketiga laki-laki dan diberi nama Samsom, dan dipanggil Sammy.
Tetapi rupanya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama dan mulus, kesedihan mulai terasa saat Lynn yang memiliki penyakit limfoma, mulai sering jatuh sakit dan kelelahan. Sebentar sakit, sebentar sembuh, tapi lama-kelamaan sakitnya jadi semakin lama hingga membuatnya tak bisa bersekolah.
Dengan kesibukan dan jam kerja yang semakin bertambah, ayah dan ibu Katie terus berjuang dengan segala cara untuk kesembuhan Lynn. Selama sakit Katie terus menjaga Lynn dan juga menjaga adiknya Sammy yang tidak pernah rewel. Meskipun kadang juga harus menunggu ibunya yang bekerja dalam mobil yang panas…
Salut untuk Sammy yang diceritakan hampir tidak pernah merengek manja kecuali saat kakinya terjepit perangkap tupai saat liburan yang hampir membuat pergelangan kakinya patah, ketika berlibur di areal tanah milik Mr. Lyndon.
Karakter-karakter yang disodorkan Cynthia dalam buku ini sangat tegar dan ulet dalam menghadapi beban hidup yang cukup berat di Amerika, terlebih mereka adalah warga perantauan di negeri asing. Seperti yang pernah saya dengar kisah-kisah sebelumnya tentang orang Jepang yang memang terkenal ulet dan tidak gampang putus asa serta tidak manja.
Meskipun kisah ini cukup menguras air mata, dan menyentuh tapi ketegaran masing-masing tokohnya sangat terasa. Tidak cengeng dan tidak pasrah pada nasib, itu poinnya.
Lalu apakah perjuangan untuk kesembuhan Lynn akan berhasil?
Kisah yang sangat menarik dan banyak memberi pelajaran yang bisa dipetik, meskipun saya agak kurang sreg dengan sampulnya yang berkesan “ala kadarnya” dan kurang mewakili kisah yang begitu apik ini.
Oke, kembali ke pepatah lama, don’t jugde a book by its cover!
Maka nikmatilah kisah ini.
Resensi Pembaca
Kira-kira Oleh: Arimbi - 04 June 2009
Mari kita bertanya pada Katie, bagaimana rasanya menjadi warga Jepang di Amerika. Bagaimana rasanya menjadi adik seorang gadis yang selalu berprestasi cemerlang di sekolah, sedangkan nilainya sendiri rata-rata C. Bagaimana rasanya menghitung uang di bawah kulkas, kemudian mempunyai adik laki-laki dan mengurus bayi.
Meminjam kacamata Katie pula, kita akan mengetahui ketersentakan hati ketika Lynn tumbuh meremaja. Tertarik pada lawan jenis dan berbicara hal-hal yang tak dimengerti dengan teman sebayanya. Ketika Sam si bayi bahkan lebih cocok menjadi kawan, pun kepanikan Katie kala Sam terkena perangkap di sebuah ladang.
Dengan mengenal Katie, kita meraba hati anak seorang pekerja pabrik yang bekerja siang-malam. Mengikuti ibunya dan mengintip dari sebuah celah, betapa sang ibu bahkan sulit beranjak ke kamar kecil. Mencuri dengar soal serikat pekerja, meski tak paham benar. Menghadapi berbagai kebingungan, tanpa tahu harus bertanya pada siapa.
Menyelami isi hati Katie, kita akan susuri kesedihan kala Lynn sakit dan divonis mengidap limfoma. Merasakan harapan mengembang-mengempis. Mengalirkan banyak airmata, karena keluguan demi keluguan dipaparkan dengan elok oleh Cynthia Kadohata. Kadang tersenyum, kadang tergelak.
Melalui Katie, kita mengenang masa kecil yang penuh rasa ingin tahu. Misalnya dalam paragraf di bawah ini:
"Apakah ayam-ayam itu kesakitan jika kautusuk dengan jarum?"
"Sayang, apakah aku kelihatan bisa bicara dengan ayam?" (hal. 136)
--------------------------------------------
Diambil dari Blog review buku Rini NB Hadiyono http://sinarbulan.multiply.com/