Jakarta Under Kompor
    
Resensi Buku Jakarta Under Kompor - Sebuah Memoar Garing Fenomena sebuah blog yang kemudian bermetamorfosis menjadi sebuah buku sudah banyak terjadi. Yang masih melekat diingatan tentu saja buku berjudul Kambing Jantan karya Raditya Dika. Kali ini, buku yang awalnya juga dari blog berjudul Jakarta Under Kompor, karya Arham Rasyid yang lebih di kenal dengan Arham Kendari. Arham menulis sub judulnya Sebuah Memoar Garing. Segaring apa? Buku ini memang kurang lebih mengupas kisah hidup yang dialami sendiri oleh Arham. Diceritakan bahwa Arham dari tempat asalnya di Kendari – Sulawesi Tenggara. Berbekal impian dan kemapuannya, Arham mencoba mengadu nasib di Jakarta. Beruntung Arham bisa diterima kerja setelah melamar sana-sini. Arham menceritakan bagaimana dia diterima dan menjalani hari-hari di Jakarta yang panas,sumpek dan macet dengan penuh humor dan konyol. Meskipun gaji besar, rupanya kehidupan yang dijalani di Jakarta rupanya tidak memberinya ketenangan dan kedamaian dan itu ternyata bukan kehidupan yang dia cari-cari.. Setelah enam bulan bekerja di sebuah perusahaan di bagian Desain Grafis, Arham akhirnya bulat tekadnya untuk kembali ke Kendari setelah Ibunya menelepon dan berkata; “Elu nyisihin beratus-ratus orang buat menempati suatu posisi di kota metropolitan segede Jakarta,itu artinya udah hebat! Kalo pulang bukan berarti gagal!”(Hal.239). Hemm..kembali ke daerah, sebuah gagasan yang berani dan jarang. Ide ini tentu memberi nilai tambah buku ini, bahwa berkarya dan berkarier tidak harus di Jakarta. Jika di daerah bisa eksis kenapa harus ke Jakarta? Banyak sekali filosofi hidup yang disampaikan dengan cara konyol dan penuh humor. Sekonyol apakah tulisan Arham?, pastikan anda tidak melewatkan buku yang satu ini. Sangat cocok untuk bacaan ringan, pengantar tidur atau dibawa untuk dibaca dalam perjalanan,dengan format buku yang kecil dan ringan. Selain tulisan yang penuh humor buku ini juga dilengkapi dengan gambar-gambar yang dibuat seperti komik, secara dia seorang desainer grafis. Ceritanya? Tentu juga sangat konyol.. Coba simak salah satu puisi gak sopan yang ada di buku si Arham ini di Hal. 204, Baru juga seminggu ku dapat kerjaan Teman-teman udah pada kreatif buat schedule traktiran Dari Jakarta Utara sampai Jakarta Selatan Namun apa daya, tak kuasa ku melawan Bingung ku memikirkan Gimana dapatkan tambahan modal secara instan Apakah jadi preman Tanah Abang? Ataukah jual diri di Taman Lawang? Tanggal muda bulan depan Haruskah ku minta perlindungan ke Komnas HAM Mungkinkah ku mabur ke Pulau Nusakambangan? Ataukah invisible for everyone? oh, Pak Sutiyoso yang ganteng dan rupawan Mengapa kotamu begitu kejam Mengapa budaya merokok di tempat umum di larang? Tetapi budaya traktir gaji pertama dilestarikan? Oh, Pak SBY yang macho nan jantan Tak bisakah kau buat kepres dan undang-undang? Yang melindungi keselamatan warga pendatang? Yang terbebaskan dari traktiran yang seolah jadi kewajiban? Oh, teman-teman yang berperikemanusiaan dan berperikeadilan Mengertilah diriku yang hanya karyawan kecilan Kuharap gajian nanti gak minta macam-macam Kecuali satu diantara kalian bersedia kujadikan istri simpanan
Oh, Emak nun jauh di kampung halaman Maafkan jika bulan depan gak ada kiriman yang kujanjikan Terserahlah jika kau anggap anakmu ini Malin Kundang Asal jangan kau kutuk diriku jadi patung Pancoran Oh, para pembaca yang budiman Maafkan jika puisi ini gak sopan Karena aku bukanlah ponakan Kahlil Gibran Hanya anak perantauan yang konsisten mempertahankan ketampanan |